LABUAN BAJO — Aktivitas usaha kuliner di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Sejumlah pelaku usaha kuliner mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa pekan terakhir.
Pantauan di sejumlah titik pusat kuliner, seperti kawasan waterfront, Kampung Ujung, hingga Jalan Soekarno-Hatta, memperlihatkan suasana yang tidak seramai biasanya. Restoran, kafe, dan warung makan yang sebelumnya ramai wisatawan kini terlihat lengang, terutama pada malam hari.
“Biasanya jam makan malam penuh, sekarang banyak meja kosong. Omzet turun sampai 40 persen,” kata Anton, pengelola salah satu restoran seafood di Labuan Bajo, Selasa (21/1).
Menurut para pelaku usaha, penurunan ini diduga dipengaruhi oleh berkurangnya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara setelah libur panjang akhir tahun. Selain itu, faktor cuaca ekstrem yang berdampak pada aktivitas pelayaran wisata turut memengaruhi jumlah tamu yang datang ke kota pariwisata tersebut.
“Banyak tamu batal datang karena kapal wisata tidak beroperasi akibat cuaca. Kalau tamu berkurang, otomatis restoran juga sepi,” ujar Maria, pemilik kafe di kawasan pelabuhan.
Kondisi ini membuat pelaku usaha kuliner harus beradaptasi. Sebagian memilih mengurangi jam operasional, sementara yang lain menekan biaya operasional agar tetap bertahan. Namun, mereka berharap ada upaya konkret dari pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata untuk menjaga stabilitas kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo.
“Kami berharap promosi wisata terus digencarkan dan event-event bisa kembali digelar agar ekonomi pelaku UMKM, khususnya kuliner, kembali bergerak,” tambah Anton.
Labuan Bajo selama ini dikenal tidak hanya sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo, tetapi juga sebagai destinasi kuliner dengan sajian laut segar dan menu khas NTT. Pelaku usaha berharap kondisi lesunya sektor kuliner ini bersifat sementara dan akan kembali pulih seiring membaiknya cuaca serta arus kunjungan wisatawaan.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan