RUTENG – Anggota DPD RI Angelo Wake Kako (AWK) mengaku terkejut setelah namanya disebut Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena dalam forum pertemuan alumni PMKRI di Ruteng, Senin (20/7/2026) malam.
Dalam pertemuan yang diinisiasi Forkoma NTT di Aula Karya Murni, Ruteng, Melki Laka Lena yang juga mantan Sekretaris Jenderal PP PMKRI menyampaikan dukungannya kepada Delfis, kandidat Ketua Pengurus Pusat (PP) PMKRI asal Ambon.
Di hadapan para alumni, Melki mengatakan bahwa dukungan terhadap Delfis juga datang dari sejumlah tokoh alumni lainnya.
“Mereka bertiga, Angelo, Juventus, dan Gusma menghendaki Delfis, anak Ambon itu, terpilih sebagai Ketua PP kali ini,” kata Melki Laka Lena.
Pernyataan itu langsung mengundang perhatian peserta yang hadir. Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, AWK, dan mantan Ketua Umum PP PMKRI Gusma terlihat hanya merespons dengan senyum.
Namun, kepada media ini, AWK mengaku terkejut namanya dibawa-bawa dalam pernyataan tersebut. Menurut mantan Ketua Umum PP PMKRI itu, dirinya tidak memahami alasan Melki menyebut namanya bersama tokoh lain sebagai pendukung Delfis.
“Bang Melki ini maksudnya gimana tiba-tiba omong sebut Delfis, jual Bang Gusma, saya dengan Juventus lagi. Bang Melki bicara apa adanya saja kelihatan,” kata AWK.
Pertemuan alumni tersebut merupakan bagian dari rangkaian Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI yang berlangsung di Ruteng pada 19–24 Juli 2026. Forum itu digelar sebagai ajang konsolidasi dan mempererat hubungan alumni lintas cabang di Nusa Tenggara Timur.
Sejumlah peserta mengungkapkan kekecewaan karena setelah Melki Laka Lena menyampaikan pandangannya, forum tidak membuka ruang dialog maupun sesi tanggapan. Akibatnya, peserta yang memiliki pandangan berbeda tidak memperoleh kesempatan menyampaikan pendapat.
Ketua Forkoma PMKRI Manggarai, Alosius Salama, bahkan terlihat meninggalkan lokasi lebih awal usai pertemuan. Sejumlah alumni menilai dukungan terbuka dari tokoh alumni yang kini menjabat sebagai pejabat publik berpotensi memengaruhi independensi peserta Kongres dalam menentukan pilihan politik organisasi.
Menurut mereka, pemilihan Ketua PP PMKRI semestinya menjadi ruang demokrasi yang sepenuhnya ditentukan oleh kader peserta Kongres tanpa intervensi ataupun pengaruh dari pihak luar. Meski demikian, sebagian alumni juga berpandangan bahwa alumni tetap memiliki hak menyampaikan pendapat sepanjang tidak mengarah pada upaya memengaruhi kebebasan peserta dalam menggunakan hak pilihnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi lebih lanjut dari Gubernur NTT Melki Laka Lena terkait respons AWK maupun penilaian sejumlah kader yang menganggap pernyataannya sebagai bentuk keterlibatan dalam dinamika pemilihan Ketua PP PMKRI. Panitia Kongres dan MPA PMKRI juga belum memberikan keterangan resmi terkait polemik tersebut.**
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan