LABUAN BAJO – Ketua Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau ASKAB PSSI Manggarai Barat, Marianus Yono Jehanu, mengecam keras insiden pemukulan terhadap wasit dalam Turnamen ASKAB Cup II Manggarai Barat 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Yono dalam konferensi pers di Stadion Ora Flobamorata, Labuan Bajo, Sabtu (5/9/2026). Ia menyebut insiden tersebut sebagai tindakan memalukan yang telah mencoreng wajah sepak bola Kabupaten Manggarai Barat.

Yono menjelaskan, ASKAB Cup II merupakan salah satu program kerja ASKAB PSSI Manggarai Barat yang telah ditetapkan melalui Kongres Biasa pada awal periode kedua kepengurusan. Turnamen ini merupakan agenda kompetisi tahun 2026, setelah pada 2025 ASKAB PSSI menggelar kompetisi yang berfokus pada kategori U-17.

Menurut Yono, insiden pemukulan terhadap wasit terjadi begitu cepat dan di luar dugaan. Ia menyebut Nofri masuk ke lapangan dan melakukan tindakan sendiri dengan memukul wasit.

Yono menegaskan, ASKAB PSSI Manggarai Barat telah menggelar rapat pengurus dan memutuskan untuk mengambil tindakan sesuai dengan kode etik PSSI. Menurutnya, tidak ada pengecualian bagi pemain, pelatih maupun klub yang melakukan kekerasan terhadap perangkat pertandingan.

“Ini tindakan yang memalukan. Memalukan di persepakbolaan Kabupaten Manggarai Barat. Sepak bola itu menghibur kita semua dan membawa damai,” tegas Yono.

Yono juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki keterikatan langsung dengan Komodo United. Ia merupakan pemilik Komodo United dan sebelumnya menyerahkan pengelolaan tim tersebut kepada Nofri untuk dikelola dan dibawa dalam kompetisi.

Karena itu, insiden tersebut menjadi pukulan tersendiri bagi Yono. Di satu sisi, ia merupakan Ketua ASKAB PSSI Manggarai Barat yang harus memastikan aturan dan disiplin sepak bola ditegakkan. Di sisi lain, Komodo United merupakan tim yang berada di bawah kepemilikannya dan telah dipercayakan pengelolaannya kepada Nofri.

Yono mengatakan, kondisi tersebut membuat dirinya sangat terpukul. Ia bahkan mengaku berada di lokasi ketika insiden terjadi dan turut membantu membawa wasit Fred menuju ambulans setelah mengalami pemukulan.

“Saya bertanggung jawab penuh atas tindakan yang dilakukan oleh teman kita Nofri ini sebagai oknum. Kami serahkan sepenuhnya kepada Komisi Disiplin PSSI, karena mereka yang berwenang mengambil tindakan dan sanksi sesuai aturan yang berlaku,” kata Yono.

ASKAB PSSI Manggarai Barat, kata Yono, juga mengambil sikap tegas terhadap Komodo United. Ia menyatakan tim tersebut tidak akan diperbolehkan lagi membawa nama Komodo United dalam kompetisi ASKAB PSSI. Sementara lisensi kepelatihan Nofri akan dicabut dan kasusnya disampaikan kepada Komisi Disiplin PSSI.

“Kita memberi sanksi untuk selama-lamanya tidak membawa tim lagi atas nama Komodo United. Begitu juga adik Nofri, lisensi kepelatihannya kita cabut,” ujarnya.

Selain sanksi organisasi, Yono menyatakan mendukung proses hukum atas insiden pemukulan tersebut. Ia mengatakan pihak PSSI dan keluarga korban sepakat agar tindakan kekerasan terhadap wasit diproses melalui jalur hukum.

Menurut Yono, kondisi fisik Fred mengalami perubahan setelah dipukul. Ia mengaku melihat langsung kondisi korban dan menjadi salah satu orang yang membantu mengevakuasi wasit ke ambulans.

“Ini sangat kita sayangkan. Ini sangat memalukan di dunia sepak bola Kabupaten Manggarai Barat yang kita cintai ini,” katanya.

Yono berharap insiden tersebut menjadi evaluasi besar bagi penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Manggarai Barat. Ia juga meminta seluruh klub, pemain dan pelatih menjaga sportivitas serta menjunjung tinggi fair play.

“Main itu pakai hati nurani, bukan pakai emosi, bukan pakai amarah sesaat lalu kita tumpahkan ke orang lain. Di sini kita berteman, bersilaturahmi, mencari hiburan,” ujarnya.

Ia mengakui persoalan keamanan dan kepemimpinan pertandingan juga menjadi bahan evaluasi PSSI. Menurutnya, stigma bahwa kompetisi ASKAB selalu diwarnai keributan harus dihentikan.

Yono mengajak empat tim yang masih bertahan di turnamen untuk menjadikan insiden tersebut sebagai pelajaran. Ia meminta pertandingan tersisa hingga final berlangsung aman dan tidak kembali diwarnai kekerasan.

“Sepak bola harus kita jaga marwahnya. Anak-anak kita ke depan harus mengenal sepak bola bukan dengan kekerasan, tetapi sepak bola membawa damai dan hiburan bagi masyarakat Manggarai Barat,” katanya.

Yono juga berharap Stadion Ora Flobamorata ke depan dapat menggunakan nama Komodo Stadium sebagai bagian dari identitas pariwisata Labuan Bajo dan Manggarai Barat. Usulan tersebut, kata dia, telah disampaikan kepada pemerintah daerah dan DPRD Manggarai Barat.

Ia menegaskan, insiden pemukulan wasit tidak akan membuat PSSI berhenti menggelar kompetisi. Menurutnya, sepak bola merupakan olahraga rakyat yang mampu mempertemukan dan menyatukan masyarakat.

“Bukan dengan kejadian ini PSSI mundur untuk melakukan kompetisi, karena anak-anak kita yang ada di kabupaten ini mencintai sepak bola. Hiburan yang merakyat ini sepak bola,” pungkasnya.**