KETIKA sepak bola kehilangan sportivitas, keselamatan manusia harus lebih penting daripada trofi
Turnamen PSSI Cup II Manggarai Barat semula digadang-gadang sebagai panggung pembinaan sepak bola daerah. Sebanyak 27 klub ambil bagian. Hadiah total mencapai Rp120 juta. PSSI Manggarai Barat bahkan membawa slogan yang sangat mulia, yaitu fair play, sportivitas dan persaudaraan. Namun, memasuki fase-fase penting kompetisi, slogan itu justru berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih keras di lapangan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang akan menjadi juara. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, apakah turnamen ini masih layak dilanjutkan?
Jawabannya patut dipertimbangkan secara serius setelah sejumlah insiden mewarnai perjalanan kompetisi.
Pada babak 16 besar, misalnya, pertandingan Kaper FC melawan PS Batu Tiga disebut berlangsung keras dan diwarnai sejumlah insiden. Situasi bahkan sempat memanas hingga sebagian suporter masuk ke lapangan. Pelatih Kaper FC, Chiu Kleopas, kemudian menyoroti sejumlah keputusan wasit yang menurutnya menjadi salah satu pemicu ketegangan.
Masalah berikutnya muncul dalam pertandingan Komodo United melawan Krisna FC pada 1 September. Laga babak 16 besar yang seharusnya menjadi tontonan publik justru berakhir tanpa pertandingan. Komodo United dinyatakan menang walkover setelah Krisna FC tidak hadir. Keputusan itu memantik kekecewaan suporter. Bahkan muncul tudingan adanya “settingan”. Memang, dugaan tersebut belum terbukti dan tidak boleh diperlakukan sebagai fakta. Tetapi justru karena itulah panitia dan PSSI Mabar semestinya memberikan penjelasan secara terbuka agar kecurigaan publik tidak berkembang menjadi ketidakpercayaan terhadap kompetisi.
Situasi kemudian semakin mengkhawatirkan pada babak delapan besar. Duel Wae Sambi FC melawan Kaper FC pada 3 September tidak hanya berlangsung dengan tensi tinggi. Protes terhadap keputusan wasit sempat terjadi.
Di tribun, dua kelompok suporter kemudian terlibat perkelahian dan saling kejar. Pertandingan bahkan harus dihentikan sementara. Satu orang suporter dilaporkan dilarikan ke rumah sakit. Setelah pertandingan selesai, keributan kembali terjadi di luar stadion dan kembali melibatkan aksi baku pukul.
Pada hari yang sama, pertandingan Black Crown kontra Komodo United juga memperlihatkan tanda-tanda bahwa tensi kompetisi sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Keputusan wasit garis beberapa kali diprotes. Di tengah pertandingan, kiper Komodo United, Arlan, mengalami cedera setelah melakukan penyelamatan dan harus dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat. Pertandingan berakhir 0-0 dan harus dilanjutkan keesokan harinya.
Lalu datanglah insiden yang menjadi titik balik.
Pada Jumat, 4 September 2026, Black Crown akhirnya mengalahkan Komodo United 1-0 melalui babak tambahan waktu. Tetapi kemenangan itu tenggelam oleh peristiwa setelah peluit panjang. Wasit Fredi diduga dipukul oleh pelatih Komodo United, Romanus Novri. Fredi mengalami luka dan lebam pada bagian pipi serta rahang dan harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo. Sejumlah pemberitaan juga memuat rekaman video yang disebut memperlihatkan insiden tersebut.
Ini bukan lagi sekadar protes terhadap keputusan wasit. Ini sudah menyentuh batas paling serius dalam olahraga, yaitu kekerasan terhadap perangkat pertandingan.
Lebih serius lagi, persoalan tersebut kini dibawa ke ranah hukum. Kuasa hukum Fredi, Muhamad Tony, menyatakan laporan polisi telah dibuat beberapa menit setelah dirinya mendampingi korban. Keluarga korban juga disebut menolak penyelesaian melalui jalur kekeluargaan dan meminta kasus tersebut diproses secara hukum. Kuasa hukum bahkan menyebut korban pernah mengalami kejadian serupa ketika bertugas sebagai wasit pada Bupati Cup tahun sebelumnya, meski ketika itu tidak berlanjut ke proses hukum.
Di sinilah PSSI Manggarai Barat tidak bisa lagi sekadar mengatakan bahwa keributan adalah dinamika pertandingan.
Bukan.
Keributan sekali mungkin disebut insiden. Dua kali mungkin dianggap persoalan individual. Tetapi ketika protes terhadap perangkat pertandingan, suporter masuk lapangan, baku pukul antarsuporter, pertandingan tanpa lawan yang memunculkan kecurigaan publik, pemain harus dilarikan ke rumah sakit, lalu seorang wasit diduga menjadi korban kekerasan hingga harus menjalani perawatan dan kasusnya dilaporkan ke polisi, maka yang harus diperiksa bukan hanya individu pelaku.
Yang harus diperiksa adalah sistem penyelenggaraannya.
Apa yang dilakukan panitia untuk memastikan pertandingan aman? Bagaimana standar pengamanan penonton? Apakah jumlah personel keamanan sebanding dengan jumlah penonton dan tingginya rivalitas antarklub? Bagaimana mekanisme menangani protes terhadap wasit? Apakah perangkat pertandingan mendapat perlindungan yang memadai? Dan yang paling penting, apakah setiap insiden sebelumnya benar-benar dievaluasi sebelum pertandingan berikutnya digelar?
Jika jawabannya tidak jelas, maka melanjutkan pertandingan seperti tidak terjadi apa-apa adalah keputusan yang berbahaya.
PSSI Cup II sejak awal dirancang sebagai ruang pembinaan. Bahkan sebelum turnamen, PSSI Manggarai Barat menyebut kompetisi ini sebagai bagian dari program kerja untuk membangun ekosistem sepak bola yang sehat dan kompetitif. Karena itu, keberhasilan turnamen tidak boleh hanya diukur dari jumlah klub, besarnya hadiah, jumlah penonton, atau siapa yang lolos ke semifinal.
Ukuran keberhasilan paling mendasar adalah apakah pertandingan mampu melahirkan pemain yang sportif, menghormati lawan, menghormati wasit, dan pulang ke rumah dengan selamat.
Ironisnya, kompetisi yang mengusung nama PSSI justru kini harus berhadapan dengan laporan dugaan kekerasan terhadap wasit. Karena itu, penghentian turnamen bukan berarti mematikan sepak bola Manggarai Barat. Justru sebaliknya, penghentian dapat menjadi kesempatan untuk menyelamatkan sepak bola Manggarai Barat.
PSSI Manggarai Barat harus berani menghentikan seluruh pertandingan, membuka evaluasi menyeluruh, memeriksa sistem keamanan, memanggil panitia dan klub yang terlibat dalam insiden, mengevaluasi perangkat pertandingan, serta memastikan setiap dugaan pelanggaran disiplin diproses melalui mekanisme yang transparan.
Jangan menunggu sampai ada korban yang lebih parah. Jangan menunggu sampai keributan berubah menjadi pengeroyokan massal.
Jangan menunggu sampai seorang pemain, wasit, official atau penonton kehilangan nyawa hanya karena pertandingan sepak bola.
Sepak bola adalah olahraga. Trofi dapat dibuat kembali. Turnamen dapat dijadwalkan ulang. Pertandingan dapat dimainkan kembali. Tetapi keselamatan manusia tidak bisa diulang.
PSSI Manggarai Barat juga harus menjawab satu persoalan mendasar. Jika pertandingan sudah beberapa kali diwarnai ketegangan, mengapa kompetisi tetap berjalan tanpa evaluasi terbuka yang meyakinkan publik bahwa pertandingan berikutnya benar-benar aman?
Apalagi turnamen ini digelar setelah Manggarai Barat dan wilayah Flores menghadapi bencana gempa. Dalam situasi masyarakat sedang berusaha memulihkan diri, olahraga semestinya menjadi ruang rekonsiliasi, hiburan dan persaudaraan, bukan arena baru untuk mempertontonkan kekerasan.
Maka, setelah rangkaian kejadian tersebut, seruan “Hentikan Turnamen PSSI Manggarai Barat” bukanlah seruan untuk membenci sepak bola. Ini adalah seruan agar sepak bola kembali pada marwahnya.
Sebab sepak bola yang kehilangan sportivitas tidak lagi sedang membina atlet. Ia sedang membiakkan konflik.
Dan jika penyelenggara tidak mampu menjamin bahwa sebuah pertandingan sepak bola dapat berlangsung tanpa kekerasan, maka yang harus dihentikan bukan hanya pertandingan berikutnya, tetapi terlebih dahulu cara lama dalam mengelola kompetisi.
Trofi bukan alasan untuk mengorbankan keselamatan manusia.
Chellz Pahun


Tinggalkan Balasan