LABUAN BAJO – Menjelang senja pada Jumat (17/7/2026), sebuah panggilan darurat memecah aktivitas di Padar Heritage Conservation (PHC). Dari Pulau Komodo, kabar itu datang membawa kepanikan. Seorang warga, Mustaming (46), berada dalam kondisi kritis dan harus segera dibawa ke rumah sakit di Labuan Bajo.

Bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil di kawasan Taman Nasional Komodo, sakit bukan hanya soal melawan penyakit. Mereka juga harus berpacu dengan jarak, cuaca, dan keterbatasan transportasi untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Mustaming didiagnosis mengalami perdarahan saluran cerna bagian atas (Upper Gastrointestinal Bleeding). Kondisinya semakin mengkhawatirkan karena disertai tanda-tanda syok hipovolemik dan anemia berat. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) hanya 5,7 gram per desiliter, jauh di bawah batas normal.

Dokter yang bertugas di Puskesmas Komodo, dr. Andreas, menyatakan pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit. Setiap menit menjadi sangat berharga.

Laporan tersebut segera diterima tim PHC. Tanpa menunggu lama, koordinasi dilakukan, armada disiapkan, dan kapal cepat diberangkatkan dari Pulau Padar menuju Pulau Komodo pada pukul 16.29 WITA.

“Setelah menerima informasi dari warga dan memastikan kondisi pasien kepada dokter yang bertugas, kami langsung menggerakkan tim untuk melakukan evakuasi medis,” ujar Humas PHC, Yoanna Daely.

Sekitar pukul 17.05 WITA, Mustaming akhirnya diberangkatkan menggunakan kapal Searider PHC menuju Labuan Bajo. Di tengah perjalanan laut, seluruh harapan tertuju pada satu tujuan: membawa pasien tiba secepat mungkin agar mendapatkan penanganan medis.

Sekitar satu jam kemudian, tepat pukul 18.15 WITA, kapal sandar di Labuan Bajo. Tanpa membuang waktu, pasien langsung dipindahkan ke ambulans dan dilarikan ke RSUD Komodo.

Evakuasi itu menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat kepulauan, akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan nyata. Ketika kondisi darurat terjadi, kecepatan respons sering kali menjadi penentu antara harapan dan kehilangan.

PHC menyatakan, misi kemanusiaan seperti ini merupakan bagian dari komitmen mereka di bawah naungan Yayasan Artha Graha Peduli untuk membantu masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah dengan akses kesehatan terbatas.

PHC juga menyampaikan apresiasi kepada KSOP Labuan Bajo serta PAM Obvit Polres Manggarai Barat yang turut mendukung proses evakuasi sehingga berlangsung aman dan lancar.

“Kami berharap masyarakat di wilayah kepulauan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan, terutama ketika menghadapi situasi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan cepat,” tutur Yoanna.

Di wilayah yang dipisahkan lautan, perjalanan menuju rumah sakit sering kali menjadi perlombaan melawan waktu. Sore itu, kerja sama banyak pihak memberi Mustaming kesempatan untuk terus berjuang mendapatkan pertolongan.*

 

Editor : Chellz