LABUAN BAJO — Aktivitas pariwisata di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai berangsur pulih setelah gempa bumi yang melanda wilayah tersebut. Sejumlah destinasi, akses transportasi, akomodasi, dan fasilitas pendukung pariwisata telah kembali beroperasi.
Namun, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengingatkan wisatawan agar tetap mengutamakan keselamatan karena kondisi setiap destinasi belum sepenuhnya sama.
Berdasarkan pemantauan BPOLBF hingga 26 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA, sebagian destinasi di wilayah Flores telah kembali menerima kunjungan wisatawan. Sementara sejumlah destinasi lainnya masih ditutup sementara atau dalam proses verifikasi kondisi pascagempa.
Pemulihan sektor pariwisata dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan tingkat keamanan masing-masing wilayah.
BPOLBF terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk memperoleh pembaruan kondisi destinasi, aksesibilitas, serta aktivitas pariwisata di Flores.
Taman Nasional Komodo Beroperasi Normal
Di Kabupaten Manggarai Barat, aktivitas pariwisata di kawasan Taman Nasional Komodo terpantau berjalan normal, termasuk pelayaran menuju kawasan tersebut.
Destinasi Gua Rangko juga tetap dibuka dengan aktivitas wisata yang berjalan normal. Namun, status sejumlah destinasi lainnya masih bersifat tentatif dan dapat berubah sesuai hasil pemantauan serta evaluasi kondisi di lapangan.
Dari sisi aksesibilitas, pemulihan juga terus berlangsung. Hingga 26 Agustus 2026, enam bandara di Flores telah kembali beroperasi.
Keenam bandara tersebut yakni Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo, Bandara Frans Seda Maumere, Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende, Bandara Soa Bajawa, Bandara Gewayantana Larantuka, dan Bandara Frans Sales Lega Ruteng.
Bandara Komodo terpantau aman dan terkendali. Pelayanan penumpang serta keberangkatan dan kedatangan penerbangan berjalan normal sesuai jadwal.
Aktivitas di Pelabuhan Waterfront/KP-3 Labuan Bajo juga terpantau aman dan terkendali. Operasional pelabuhan tetap berlangsung dengan petugas yang disiagakan untuk memastikan aspek keselamatan.
Sejumlah ruas utama Trans Flores juga telah kembali terbuka. Jalur Labuan Bajo–Ende–Maumere serta beberapa ruas Ruteng–Reo–Kedindi dan Ruteng–Iteng telah dapat digunakan.
Meski demikian, pemulihan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah belum merata, terutama di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo.
29 Desa Wisata Sudah Terverifikasi Dibuka
Kondisi desa wisata di Flores masih beragam. Dari 87 desa wisata yang tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (JADESTA), sebanyak 57 desa wisata telah berhasil diverifikasi.
Dari jumlah tersebut, 29 desa wisata telah terbuka untuk kunjungan wisatawan, sedangkan 28 desa wisata lainnya masih ditutup sementara.
Data tersebut masih terus dimutakhirkan bersama pemerintah daerah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
Di Kabupaten Manggarai Barat, desa wisata yang tercatat telah membuka kunjungan antara lain Batu Cermin, Komodo, Liang Ndara, Papagarang, Pasir Panjang, Siru, Tondong Belang, dan Wae Lolos.
Sementara itu, sejumlah destinasi di Kabupaten Manggarai masih ditutup sementara. Destinasi tersebut antara lain Wae Rebo, Todo, dan Liang Bua.
Kampung Adat Ruteng Pu’u juga mengalami kerusakan sedang.
Penutupan sementara juga masih diterapkan pada sejumlah destinasi wisata di Manggarai Timur dan Nagekeo. Di Kabupaten Sikka, TWAL Gugus Pulau Teluk Maumere masih ditutup sementara.
Sementara Desa Wisata Nita telah kembali dibuka dengan aktivitas normal.
Untuk kawasan Taman Nasional Kelimutu, kunjungan wisata alam telah kembali dibuka sejak 25 Agustus 2026.
Sejumlah Agenda Wisata Ditunda
Pemulihan pariwisata pascagempa juga berdampak terhadap sejumlah agenda wisata di Flores.
BPOLBF mencatat beberapa kegiatan mengalami penundaan, di antaranya Golo Mori Sunset Run 2026, Picnic Over the Hill Vol. 5, dan Flow & Glow Vol. III.
Sementara itu, penutupan Festival Golo Koe di Manggarai Barat dan Festival Lembah Sanpio di Manggarai Timur dibatalkan.
BPOLBF juga terus memantau kondisi usaha pariwisata, mulai hotel, homestay, restoran hingga kafe.
Sejumlah usaha pariwisata di beberapa kabupaten terdampak dilaporkan mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Karena itu, wisatawan diminta memastikan status operasional akomodasi dan fasilitas wisata sebelum melakukan perjalanan, khususnya ke wilayah yang masih dalam tahap pemulihan.
BPOLBF Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan
Plt. Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan mulai pulihnya aktivitas wisata di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif. Namun, wisatawan tetap harus memperhatikan kondisi masing-masing destinasi.
“Pemulihan aktivitas wisata di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif. Namun, wisatawan tetap perlu melihat kondisi masing-masing destinasi karena situasinya berbeda-beda,” ujar Andhy.
Ia mengimbau wisatawan selalu memperbarui informasi dari sumber resmi dan mengikuti arahan petugas maupun pengelola destinasi.
Wisatawan juga diminta tidak memaksakan diri mengunjungi destinasi yang masih ditutup atau belum dinyatakan aman.
“Wisatawan untuk selalu memperbarui informasi dari sumber resmi, mengikuti arahan petugas, dan tidak memaksakan diri mengunjungi destinasi yang masih ditutup atau belum dinyatakan aman,” katanya.
BPOLBF juga mengingatkan wisatawan memastikan kondisi jalan, pelabuhan, penerbangan, dan akomodasi sebelum melakukan perjalanan.
Untuk aktivitas laut dan olahraga air, wisatawan diminta memperhatikan kondisi cuaca, gelombang, angin, serta arahan petugas sebelum melakukan aktivitas.
Wisatawan juga diminta tetap tenang apabila terjadi gempa susulan dan mengikuti prosedur keselamatan yang diberikan petugas atau pengelola destinasi.
Imbauan tersebut dinilai penting karena aktivitas gempa susulan masih tercatat hingga 26 Agustus 2026.
BPOLBF memastikan pemantauan terhadap sektor pariwisata di Labuan Bajo dan Flores akan terus dilakukan. Pembaruan informasi akan disampaikan berdasarkan hasil koordinasi dan verifikasi bersama pemerintah daerah serta pemangku kepentingan terkait.
Pemulihan pariwisata diharapkan dapat terus berlangsung secara bertahap dengan tetap menempatkan keselamatan wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha pariwisata sebagai prioritas.**


Tinggalkan Balasan