Dari Desa ke Desa, Heribertus Manggas Turun Langsung Mendata, Mengunjungi Keluarga, dan Mendorong Penanganan ODGJ yang Lebih Manusiawi
LABUAN BAJO — Di tengah stigma dan diskriminasi yang masih melekat pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), Camat Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Heribertus Manggas, memilih untuk tidak berjarak.
Ia turun langsung dari desa ke desa, mendata, mengunjungi keluarga, melihat kondisi ODGJ, sekaligus memastikan mereka tidak luput dari perhatian pemerintah.
Langkah tersebut, kata Heribertus, berangkat dari panggilan hati dan kepedulian terhadap kelompok rentan di wilayahnya.
“Pesan yang sangat mendasar, panggilan hati dan kepedulian saja,” ujar Heribertus, Rabu (12/8/2026).
Heribertus mengatakan, salah satu tujuan utama pendampingan tersebut adalah mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ di Kecamatan Welak yang memiliki 16 desa.
Dari 16 desa tersebut, ia terus melakukan kunjungan dan pendataan secara bertahap. Beberapa desa yang telah dikunjungi antara lain Pong Welak, Rebo, Galang, Orong, Batu Umpu, dan terakhir Desa Sewa.
Dalam kunjungan tersebut, Heribertus menemukan masih ada ODGJ yang belum terdata dan belum masuk dalam pelayanan pengobatan.
“Ketika kita turun, banyak ODGJ yang memang belum terdaftar dan belum masuk wilayahnya di dalam pelayanan pengobatan,” katanya.
Karena itu, Heribertus menargetkan seluruh ODGJ di 16 desa dapat dipantau. Ia ingin data di tingkat desa, Puskesmas, hingga dinas terkait dapat tersinkronisasi sehingga penanganan bisa dilakukan secara lebih tepat.
Bagi Heribertus, posisi camat memiliki peran strategis karena menjadi koordinator wilayah. Meski pelayanan medis merupakan kewenangan Puskesmas dan rumah sakit, pemerintah kecamatan memiliki tugas penting dalam memastikan seluruh unsur dapat bergerak bersama.
Ia menyebut koordinasi dilakukan dengan pemerintah desa, Puskesmas, Forkopimcam, TNI/Polri, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat.
“Poinnya apa? Saya bisa mengoordinasikan lintas sektor dengan baik, terus mengoordinasikan teman-teman Pemdes, Puskesmas, TNI/Polri, serta tokoh agama, tokoh masyarakat dalam penanganan ODGJ,” ujarnya.
Heribertus juga memilih memulai pendampingan dari hal-hal sederhana. Dalam beberapa kunjungan, ia membawa bantuan sembako dan berkomunikasi dengan keluarga untuk mengetahui kebutuhan mereka.
Saat berkunjung ke Desa Sewa, misalnya, ia mendatangi tiga ODGJ dari total delapan ODGJ yang tercatat di desa tersebut. Keterbatasan waktu membuat seluruh pasien belum dapat dikunjungi.
Dari kunjungan itu, ia mengetahui kebutuhan sederhana yang justru penting bagi keluarga, seperti pakaian dan telur.
“Yang saya lakukan mungkin kecil ya, Pak. Kecil, karena penanganan medisnya dilakukan oleh teman-teman Puskesmas,” katanya.
Namun, bagi Heribertus, perhatian kecil tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sistem pendampingan yang lebih manusiawi.
Tantangan Bukan Hanya Pengobatan
Tantangan lain yang ditemukan di lapangan adalah kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur. Berdasarkan komunikasi dengan keluarga, persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang cukup berat dalam proses penanganan ODGJ.
Padahal, menurut Heribertus, konsumsi obat secara teratur diharapkan dapat membantu menekan tingkat kekambuhan pasien.
Karena itu, ia menilai keluarga memiliki peran yang sangat penting. Dukungan lingkungan juga diperlukan agar ODGJ yang sedang menjalani rehabilitasi tidak kembali mengalami stigma dan diskriminasi.
Heribertus berharap masyarakat mulai melihat ODGJ bukan sebagai kelompok yang harus dijauhi, melainkan sebagai warga yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan dukungan.
“Saya menginginkan sekali bahwa keluarga masyarakat itu mengurangi yang namanya stigma dan diskriminasi bagi kaum rentan ini. Mereka juga butuh perhatian,” tegasnya.
Menargetkan 100 Persen ODGJ Terpantau
Heribertus mengaku memiliki semangat khusus untuk menjalankan pendampingan tersebut karena menganggapnya sebagai panggilan hati.
Ke depan, ia tidak hanya ingin melakukan pendataan. Ia juga mendorong penguatan deteksi dini kesehatan jiwa melalui screening terhadap ODGJ maupun orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).
Menurut dia, deteksi dini penting untuk mengetahui faktor risiko yang berkaitan dengan kesehatan mental sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Ia menyebut Puskesmas sebenarnya telah memiliki Posyandu Jiwa serta instrumen screening, termasuk kuesioner bagi anak-anak dan remaja.
“Mitigasi, screening ini penting untuk mendeteksi kesehatan jiwa. Tujuannya untuk mengetahui faktor risiko-risiko yang bertujuan pada kesehatan mental,” ujarnya.
Heribertus menargetkan 100 persen ODGJ di 16 desa Kecamatan Welak dapat dipantau.
“Target saya secara pribadi, 100 persen ODGJ di 16 desa di Kecamatan Welak ini saya bisa pantau,” kata Heribertus.
Ia berharap melalui kerja bersama antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Puskesmas, keluarga, masyarakat, tokoh agama, dan unsur lainnya, jumlah ODGJ terlantar maupun kasus berisiko tinggi dapat ditekan.
Baginya, keberhasilan bukan sekadar berapa banyak pasien yang berhasil didata, tetapi seberapa jauh pemerintah dan masyarakat mampu memastikan mereka tetap mendapat perhatian.
Sebab, di balik setiap angka dalam pendataan, ada manusia dan keluarga yang membutuhkan kepedulian. Dan Heribertus memilih untuk hadir, mendatangi mereka satu per satu, dari desa ke desa.**


Tinggalkan Balasan