LOMBOK – Menjelang senja di kawasan Bazaar Mandalika, suara gendang mulai mengalun. Irama tradisional Sasak itu memecah keramaian wisatawan yang sejak sore memadati area The Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Di atas panggung terbuka, satu per satu penampil bersiap, mengenakan busana adat dengan warna-warna tegas. Sabtu, 31 Januari, Mandalika Art Performance digelar untuk pertama kalinya.

Pergelaran seni budaya ini menghadirkan beragam pertunjukan khas Lombok. Tari Gandrung membuka rangkaian acara, disusul Tari Beriuk Tinjal yang sarat simbol keseharian masyarakat Sasak. Musik tradisional Gending Sasak dan Cilokak Ensemble mengisi jeda, sebelum Tari Gendang dan Peresean—atraksi adu ketangkasan yang ikonik—menjadi penutup yang menarik perhatian pengunjung.

Di antara wisatawan domestik dan mancanegara, warga lokal tampak membaur. Sebagian berdiri mengelilingi panggung, sebagian lainnya menyaksikan dari lapak-lapak UMKM yang berjejer di area bazaar. Aktivitas ekonomi dan pertunjukan budaya berlangsung dalam satu ruang yang sama.

PGS. General Manager The Mandalika, Agus Setiawan, menyebut Mandalika Art Performance sebagai uji coba aktivasi kawasan berbasis budaya. Menurut dia, kegiatan ini menjadi pijakan awal untuk memperkaya pengalaman wisata di The Mandalika yang selama ini dikenal melalui keindahan alam dan agenda olahraga berskala internasional.

“Ini adalah langkah awal dari upaya kami menghadirkan pengalaman budaya yang lebih hidup di kawasan The Mandalika. Kami ingin melihat bagaimana aktivasi berbasis seni dan budaya ini dapat menarik wisatawan, menghidupkan area Bazaar Mandalika, sekaligus memberi ruang bagi pelaku seni lokal untuk tampil,” kata Agus.

Pertunjukan ini melibatkan sejumlah komunitas seni dari Desa Kuta, Lombok Tengah. Sanggar-sanggar seni lokal, Karang Taruna, hingga anak-anak Mandalika Child Learning Center (MCLC) turut ambil bagian. Anak-anak binaan ITDC tersebut sebelumnya mengikuti pelatihan tari bersama sanggar lokal sebelum tampil di hadapan publik.

Keterlibatan generasi muda memberi warna tersendiri. Di atas panggung, anak-anak tampil membawakan tarian tradisional dengan gerak yang masih sederhana, namun penuh percaya diri. Kehadiran mereka mencerminkan upaya regenerasi pelaku seni sekaligus pengenalan budaya Sasak sejak usia dini.

Selain menjadi tontonan bagi wisatawan, Mandalika Art Performance juga diarahkan untuk memberi dampak langsung bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di area Bazaar Mandalika. Aktivasi seni ini meningkatkan arus kunjungan, terutama di luar periode event besar seperti balap motor internasional.

“Kami ingin melihat bagaimana seni dan budaya dapat menjadi pemantik interaksi di kawasan. Hari ini adalah kesempatan bagi kami untuk belajar, mengevaluasi, dan melihat potensi ke depan,” ujar Agus.

Dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) ITDC, kegiatan ini diposisikan sebagai praktik Cultural Guardianship. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat lokal sebagai penjaga sekaligus penggerak nilai budaya dalam pengembangan kawasan pariwisata. Pelibatan sanggar seni, Karang Taruna, dan MCLC menjadi bagian dari upaya memastikan pembangunan pariwisata berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Model kolaborasi ini juga selaras dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek pelestarian budaya, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi lokal. Budaya tidak hanya ditampilkan sebagai atraksi, tetapi dihidupkan melalui partisipasi langsung masyarakat.

Agus menilai ruang kolaborasi yang tercipta melalui Mandalika Art Performance bukan semata agenda hiburan, melainkan ekspresi budaya yang hidup dan terus berkembang. Antusiasme wisatawan yang memadati area bazaar sepanjang sore hingga malam hari menjadi penanda kuatnya karakter budaya Lombok sebagai daya tarik kawasan.

“Kami berharap penyelenggaraan Mandalika Art Performance dapat menjadi momentum bagi The Mandalika untuk menampilkan identitas kawasan yang lebih beragam serta memperkuat peran budaya sebagai bagian penting dari pengalaman wisata yang kami tawarkan kepada publik,” kata Agus menutup pernyataannya.

 

Editor : Nikolas