LABUAN BAJO– Sebanyak 100 anak usia dini dari 10 sekolah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) terlibat dalam workshop dan atraksi caci sebuah program yang didukung oleh Program Dana Abadi Indonesia dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan ini melibatkan siswa taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga satu Sekolah Luar Biasa (SLB).
Inisiator program, Mardaniyanti, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kesenian tradisional Manggarai sejak usia dini.
“Program ini kami rancang agar kesenian tradisional, khususnya caci, dipelajari sejak dini. Berkesenian menjadi ruang kreasi tanpa sekat, karena itu siswa SLB juga kami libatkan,” ujarnya.
Sepuluh sekolah yang terlibat antara lain TK Bajo, TK Kanawa, TK Pembina, SD Lancang 1, SD Familia, SD Baru Cermin, SD Waemata, serta satu SLB. Setiap sekolah mengikutsertakan 10 anak. Peserta dari tingkat TK berusia 4–5 tahun, sedangkan siswa SD berusia 6–7 tahun.

Kegiatan diawali dengan workshop di sekolah masing-masing mulai 23 Maret. Para mentor akan mengunjungi sekolah-sekolah tersebut selama tujuh hari untuk melatih peserta. Sebelumnya, mentor dan pendamping telah mengikuti pelatihan guna menyepakati durasi dan pola gerakan yang akan diajarkan kepada anak-anak.
Puncak kegiatan direncanakan berlangsung pada 7 Maret di Batu Cermin, Labuan Bajo. Setiap sekolah akan menampilkan hasil workshop, dilanjutkan dengan atraksi kolaborasi gabungan dari seluruh peserta.
Selain itu, juga 100 anak akan tampil dalam atraksi kolaborasi, terdiri dari 40 pemain caci, 40 penari, dan 20 pemain musik. “Ini menjadi saya tarik tersendiri anak-anak usia dini akan tampil bermain caci, tarian dan bermain musik yang selama ini dilakukan oleh orang dewasa, ” jelas Mardani.
Mardani menjelaskan, pemilihan anak usia dini memiliki tantangan tersendiri karena membutuhkan pendekatan khusus dalam proses latihan. Namun, menurut dia, langkah tersebut penting untuk membangun fondasi kecintaan terhadap budaya sejak awal.
“Memilih anak usia dini memang tidak mudah. Butuh kesabaran dan metode yang disesuaikan dengan dunia anak-anak. Tetapi kami ingin nilai-nilai budaya Manggarai, termasuk caci, musik, dan tarian tradisional, ditanamkan sejak awal sebagai bentuk mempersiapkan generasi mendatang dan memastikan ada penerus budaya,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya juga tengah mengupayakan kehadiran Direktur Jenderal Kebudayaan pada puncak kegiatan untuk menyaksikan langsung penampilan para peserta.*


Tinggalkan Balasan