LABUAN BAJO – Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat menggelar Diklat Pramuwisata 2026 bertajuk “Membangun Pramuwisata Profesional, Berkompetisi dan Berdaya Saing untuk Pariwisata Labuan Bajo yang Berkualitas” di Balai Latihan Kerja Labuan Bajo, Senin (16/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum DPP HPI, Imam Widodo, Ketua DPW HPI NTT, serta Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat. Diklat secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng.

Ketua HPI Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya, mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 224 peserta yang telah melalui proses seleksi ketat.

“Peserta diklat berjumlah 224 orang. Mereka telah melewati tahapan verifikasi berkas persyaratan dan wawancara. Ini adalah orang-orang terpilih yang nantinya akan terlibat dalam pembangunan pariwisata Manggarai Barat ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat penting di tengah pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo yang semakin pesat setelah ditetapkan sebagai destinasi super prioritas nasional.

“HPI Manggarai Barat berkomitmen untuk mendorong pariwisata yang berkualitas, terutama dari sisi sumber daya manusia. Pramuwisata harus menjadi garda depan dalam menghadirkan pengalaman wisata yang profesional dan berkelas,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP HPI, Imam Widodo, menegaskan bahwa organisasi HPI secara konsisten berupaya menciptakan pramuwisata yang unggul dan relevan dengan kebutuhan industri pariwisata.

“HPI selalu berupaya menciptakan pramuwisata yang unggul sesuai kebutuhan pengguna jasa dan wisatawan. Pramuwisata berhadapan langsung dengan wisatawan yang memiliki beragam karakter, karena itu mereka harus dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan komunikasi, pengetahuan destinasi, hingga pemahaman budaya menjadi aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang pemandu wisata profesional.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pengembangan pariwisata daerah.

Menurutnya, pariwisata saat ini tidak lagi berorientasi pada jumlah kunjungan semata, melainkan pada kualitas wisatawan dan dampaknya bagi lingkungan serta masyarakat.

“Sekarang ada perubahan paradigma dari pariwisata kuantitas menuju pariwisata berkualitas. Wisatawan berkualitas itu berkaitan dengan keberlanjutan, berpihak pada lingkungan yang baik, memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, serta menghadirkan interaksi antara wisatawan, masyarakat, dan budaya lokal,” jelasnya.

Ia juga berharap para peserta diklat dapat menjadi pramuwisata yang mampu menyampaikan cerita dan nilai budaya Manggarai Barat secara menarik kepada wisatawan.

“Kami berharap peserta diklat memiliki kemampuan storytelling yang baik untuk menarasikan kebudayaan serta berbagai kekayaan yang dimiliki Manggarai Barat kepada wisatawan,” katanya.

Yulianus juga mendorong HPI untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai lembaga yang bergerak di sektor pariwisata.

“HPI jangan bekerja sendiri. Harus membangun kerja kolaborasi dengan berbagai lembaga lain yang juga bergerak di sektor pariwisata,” tegasnya.

Melalui diklat ini, diharapkan lahir pramuwisata yang profesional, berdaya saing, serta mampu mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia.

 

Editor : Chellz