LABUAN BAJO – Sebanyak 224 peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pramuwisata yang diselenggarakan oleh Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Manggarai Barat mengikuti field trip city tour di Labuan Bajo dengan menggunakan enam bahasa asing, yakni Jerman, Spanyol, Inggris, Mandarin, Jepang, dan Prancis, sebagai bagian dari materi penutup Diklat HPI 2026, Rabu (18/3/2026).

Kegiatan ini menjadi praktik lapangan untuk mengasah keterampilan kepemanduan wisata secara langsung. Para peserta mengunjungi dua destinasi unggulan, yakni Gua Batu Cermin dan Puncak Waringin, yang merepresentasikan kekayaan alam serta panorama kota Labuan Bajo.

Sebanyak 224 peserta dibagi ke dalam delapan kelompok, masing-masing sekitar 30 orang. Setiap kelompok didampingi instruktur pramuwisata senior dari DPC HPI Manggarai Barat yang berperan sebagai mentor sekaligus evaluator selama kegiatan berlangsung.

Dalam praktik ini, peserta menjalani tiga tahapan standar kepemanduan wisata. Pada tahap pre-tour, peserta mempersiapkan berbagai aspek teknis seperti dokumen perjalanan, transportasi, itinerary, serta koordinasi dengan pengelola destinasi.

Tahap on-tour menjadi inti kegiatan, di mana peserta mempraktikkan langsung pelayanan kepemanduan (guiding service), mulai dari penyampaian informasi, pengelolaan kelompok, hingga penanganan kendala di lapangan guna memastikan pengalaman wisata yang aman dan berkesan.

Sementara pada tahap post-tour, peserta diarahkan untuk menyusun laporan perjalanan, menyelesaikan administrasi, serta melakukan evaluasi sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan.

Sebagai penutup, peserta mengikuti sesi role play untuk menguji kemampuan komunikasi dan penguasaan materi secara profesional dalam berbagai bahasa asing.

Ketua DPC HPI Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya, mengatakan bahwa kegiatan field trip city tour ini merupakan tahapan krusial dalam proses pembentukan pramuwisata yang profesional dan berdaya saing global.

“Penggunaan enam bahasa asing dalam praktik ini menjadi nilai tambah penting. Ini bukan hanya soal kemampuan bahasa, tetapi juga bagaimana peserta mampu menyampaikan informasi secara tepat, menarik, dan sesuai dengan karakter wisatawan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar siap menghadapi situasi nyata di lapangan.

“Kami ingin memastikan bahwa lulusan Diklat HPI Manggarai Barat memiliki standar kompetensi yang kuat, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam melayani wisatawan,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, HPI Manggarai Barat berharap dapat mencetak pramuwisata yang siap terjun langsung dan memberikan pelayanan terbaik di destinasi unggulan Indonesia, khususnya Labuan Bajo sebagai salah satu pintu gerbang pariwisata internasional.

 

Editor : Chellz