DI TENGAH dinamika menuju Kongres dan MPA PMKRI 2026 di Ruteng Kabupaten Manggarai, Nusa Tengggara Timur (NTT), organisasi ini membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang memiliki pengalaman struktural. PMKRI membutuhkan sosok yang mampu merawat persaudaraan, menyatukan berbagai kekuatan kader, dan menggerakkan organisasi untuk menjawab tantangan zaman dengan semangat kolektif.
Dalam konteks itulah, nama Alexandro Rolandi atau yang akrab disapa Rolan menjadi relevan untuk diperbincangkan.
Rolan bukan lahir dari pusat-pusat kekuasaan. Ia tumbuh sebagai anak transmigran di Tanah Papua, sebuah ruang sosial yang mempertemukan beragam identitas, budaya, dan pengalaman hidup. Dari lingkungan inilah ia belajar bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan modal untuk membangun kebersamaan. Nilai tersebut kemudian menjadi fondasi dalam cara pandangnya tentang kepemimpinan dan organisasi.
Perjalanan pendidikannya SMP-SMA di Seminari Petrus Van Diepen Sorong semakin memperkuat karakter tersebut. Di lingkungan seminari, ia ditempa dengan disiplin, spiritualitas pelayanan, dan semangat persaudaraan. Ia belajar bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari kemampuannya menghadirkan harapan, melayani sesama, dan menjaga persatuan dalam keberagaman.
Proses kaderisasi yang ia jalani di PMKRI Cabang Denpasar menjadi ruang pembelajaran berikutnya. Rolan bertumbuh melalui berbagai tanggung jawab organisasi, mulai dari Biro Diskusi dan Penalaran, Presidium Gerakan Kemasyarakatan, hingga dipercaya menjadi Ketua Presidium Cabang. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam mengenai dinamika organisasi, pentingnya kerja kolektif, serta kebutuhan untuk menjaga soliditas kader dalam menghadapi berbagai tantangan.
Namun, yang paling membentuk identitas kepemimpinannya justru terjadi ketika ia memilih kembali ke Papua. Saat banyak anak muda memilih bertahan di kota-kota besar, Rolan pulang untuk mengabdi sebagai guru Bahasa Inggris sekolah dasar. Ia memilih hadir di tengah masyarakat, mendampingi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan, sekaligus mendirikan komunitas belajar bagi anak-anak di Sorong.
Pilihan tersebut bukan sekadar keputusan profesi. Itu adalah manifestasi dari keyakinannya bahwa kepemimpinan harus berakar pada pengabdian. Melalui ruang-ruang kelas sederhana dan komunitas belajar yang ia bangun, Rolan menyaksikan secara langsung realitas kehidupan masyarakat, mendengar harapan mereka, serta memahami tantangan yang dihadapi generasi muda di daerah.
Pengalaman inilah yang membuatnya memiliki perspektif luas tentang Indonesia. Ia memahami bahwa persoalan bangsa tidak selalu terlihat dari ruang rapat dan forum akademik. Banyak persoalan justru hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang berjuang mendapatkan pendidikan yang layak, kesempatan yang adil, dan masa depan yang lebih baik.
PMKRI hari ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca realitas tersebut. Sebagai organisasi kader yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, PMKRI memerlukan figur yang dapat menjembatani berbagai perbedaan latar belakang, menyatukan energi kader di seluruh Indonesia, dan mengembalikan semangat kolektivitas sebagai kekuatan utama organisasi.
Di tengah berbagai dinamika internal maupun tantangan eksternal, kebutuhan terbesar PMKRI bukan sekadar kompetisi gagasan, melainkan konsolidasi persaudaraan. Organisasi ini membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul semua pihak, membangun komunikasi lintas cabang, lintas generasi, dan lintas wilayah, sehingga seluruh kader merasa menjadi bagian dari rumah besar yang sama.
Rolan hadir dengan modal sosial dan pengalaman hidup yang memungkinkan hal itu terwujud. Sebagai anak transmigran, ia terbiasa hidup dalam keberagaman. Sebagai alumni Seminari Petrus Van Diepen Sorong, ia dibentuk oleh nilai pelayanan dan persaudaraan. Sebagai kader PMKRI, ia memahami denyut organisasi dari tingkat cabang hingga nasional. Sebagai guru dan pendiri komunitas belajar, ia mengerti arti kesabaran, keteladanan, dan kerja nyata di tengah masyarakat.
Karena itu, Alexandro Rolandi tidak hanya hadir sebagai kandidat. Ia hadir sebagai representasi semangat persatuan dalam PMKRI. Sosok yang memahami bahwa organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.

Dari Papua, dari ruang-ruang pendidikan yang sederhana, dari pengalaman kaderisasi yang panjang, hingga keterlibatannya dalam pengabdian masyarakat, Rolan menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mendengar, merangkul, dan menggerakkan.
Baginya, PMKRI harus tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh kader, tanpa sekat wilayah, tanpa sekat generasi, dan tanpa sekat kepentingan. Sebab hanya dengan persaudaraan yang terawat, perjuangan organisasi dapat terus dilanjutkan.
Karena pada akhirnya, PMKRI tidak hanya membutuhkan seorang ketua. PMKRI membutuhkan seorang pemersatu.
Dan dalam perjalanan hidup serta pengabdiannya, Alexandro Rolandi telah menunjukkan bahwa merawat persaudaraan dan menyatukan perjuangan bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup yang ia pilih untuk dijalani.
Chellz Pahun, Jurnalis/Penulis


Tinggalkan Balasan