LABUAN BAJO —  Alexandro Rolandi dinilai memiliki modal pengalaman, karakter, dan rekam jejak pengabdian yang menjadikannya lebih dari sekadar kandidat Ketua Pengurus Pusat PMKRI. Jurnalis MGN, Chelluz Pahun menyebut Roland sebagai figur pemersatu yang dibutuhkan PMKRI untuk menjawab tantangan organisasi sekaligus menjaga semangat persaudaraan di antara kader.

Menurut Chelluz, di tengah berbagai dinamika yang dihadapi PMKRI saat ini, organisasi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki pengalaman struktural, tetapi juga figur yang mampu merawat persaudaraan, menyatukan energi kader, serta menggerakkan organisasi menjawab tantangan zaman secara kolektif.

“PMKRI hari ini membutuhkan sosok yang mampu merangkul seluruh kader, melampaui sekat wilayah, generasi, maupun kepentingan. Dalam konteks itu, Alexandro Rolandi menjadi figur yang relevan untuk diperbincangkan,” kata Chelluz dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Chelluz menjelaskan, perjalanan hidup Roland membentuk karakter kepemimpinan yang dekat dengan nilai-nilai kebersamaan. Lahir dan tumbuh sebagai anak transmigran di Tanah Papua, Roland sejak dini hidup dalam lingkungan yang dihuni beragam latar belakang budaya dan identitas.

“Dari pengalaman hidup itu, ia belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan. Nilai tersebut kemudian menjadi fondasi cara pandangnya dalam memimpin,” ujarnya.

Karakter tersebut, lanjut Chelluz, semakin ditempa ketika Roland menempuh pendidikan di Seminari Petrus Van Diepen Sorong. Di lingkungan seminari, ia dibentuk melalui disiplin, spiritualitas pelayanan, dan semangat persaudaraan yang kuat.

“Di sana ia belajar bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan kemampuan menghadirkan harapan, melayani sesama, dan menjaga persatuan dalam keberagaman,” katanya.

Dalam perjalanan kaderisasi di PMKRI Cabang Denpasar, Roland juga menapaki berbagai jenjang kepemimpinan organisasi. Ia pernah mengemban tanggung jawab sebagai pengurus Biro Diskusi dan Penalaran, Presidium Gerakan Kemasyarakatan, hingga dipercaya menjadi Ketua Presidium Cabang.

Chelluz menilai pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam mengenai dinamika organisasi, pentingnya kerja kolektif, serta kebutuhan menjaga soliditas kader di tengah berbagai tantangan.

Namun, aspek yang paling menonjol dari perjalanan Rolan, kata Chelluz, adalah keputusannya kembali ke Papua Barat Daya untuk mengabdi sebagai guru sekolah dasar setelah menyelesaikan pendidikan.

“Ketika banyak anak muda memilih bertahan di kota besar, Rolan memilih pulang dan hadir di tengah masyarakat. Ia mendampingi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan dan membangun komunitas belajar di Sorong. Itu menunjukkan bahwa kepemimpinan baginya berakar pada pengabdian,” tuturnya.

Pengalaman mengajar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat membuat Roland memiliki perspektif yang luas terhadap persoalan bangsa dan kebutuhan generasi muda di daerah.

Ia menilai pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi seorang pemimpin organisasi nasional seperti PMKRI yang memiliki kader dari berbagai wilayah Indonesia.

“PMKRI membutuhkan figur yang mampu menjembatani perbedaan, mengonsolidasikan kekuatan kader dari Sabang sampai Merauke, serta mengembalikan semangat kolektivitas sebagai energi utama organisasi. Rolan memiliki pengalaman hidup yang memungkinkan hal itu diwujudkan,” katanya.

Penulis Novel Senja Terkahir di Warloka itu menegaskan, kebutuhan terbesar PMKRI saat ini bukan semata kompetisi gagasan, melainkan konsolidasi persaudaraan. Karena itu, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu membangun komunikasi lintas cabang, lintas generasi, dan lintas wilayah.

“Alexandro Rolandi tidak hanya hadir sebagai kandidat. Ia hadir sebagai representasi semangat persatuan dalam PMKRI. Organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman Rolan sebagai anak transmigran, alumni seminari, kader PMKRI, guru, dan pendiri komunitas belajar menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mendengar, merangkul, serta menggerakkan.

“Pada akhirnya PMKRI tidak hanya membutuhkan seorang ketua. PMKRI membutuhkan seorang pemersatu. Dan dalam perjalanan hidup serta pengabdiannya, Alexandro Rolandi telah menunjukkan bahwa merawat persaudaraan dan menyatukan perjuangan bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup yang ia pilih,” pungkasnya.

 

Editor : Putri Saraswati