LABUAN BAJO — Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memperkuat pemasaran produk wisata daratan Flores melalui kegiatan Table Top Business Meeting dan perjalanan pengenalan destinasi atau famtrip pada 12–16 Oktober 2026.

Kegiatan ini bertujuan mempertemukan pelaku usaha pariwisata dengan agen perjalanan, operator tur, media, dan influencer untuk memperluas pemasaran serta mengembangkan paket wisata yang terintegrasi dan siap dipasarkan kepada wisatawan nusantara.

Sebanyak enam peserta dilibatkan dalam kegiatan tersebut, terdiri atas tiga perwakilan travel agent/tour operator, satu perwakilan media, dan dua influencer dalam negeri.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama pada Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata, Bayu Erlangga, mengatakan pengenalan destinasi melalui famtrip tidak hanya bertujuan mempromosikan daya tarik wisata, tetapi juga mengembangkan pengalaman perjalanan menjadi produk komersial.

“Kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk memperkenalkan destinasi, tetapi juga menunjukkan pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan dan bagaimana pengalaman tersebut dikembangkan menjadi pola perjalanan yang menarik. Dari sisi pemasaran, potensi yang ada perlu dikemas menjadi produk yang siap dijual dan dipromosikan,” ujar Bayu.

Menurut dia, pengembangan produk wisata yang beragam diharapkan mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan memberikan kontribusi ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di destinasi yang dikunjungi.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Table Top Business Meeting mempertemukan peserta dengan pelaku usaha pariwisata dan perwakilan pengelola desa wisata. Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan produk, menjajaki kerja sama bisnis, serta memperluas jaringan pemasaran wisata Labuan Bajo dan Flores.

Lima pelaku usaha mempresentasikan produk dan layanan wisata yang berpotensi masuk dalam paket perjalanan terintegrasi. Mereka adalah Mala Nusa, La Main, Desa Wisata Wae Lolos, Mosalaki Phinisi, dan Up & Up Komodo.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid, yang hadir dalam pertemuan bisnis pada 12 Oktober 2026, mengatakan perkembangan pariwisata Labuan Bajo merupakan hasil kontribusi berbagai pihak.

Ia mengajak pelaku usaha memanfaatkan pertemuan tersebut untuk memperkenalkan dan memasarkan produk wisata kepada mitra perjalanan.

“Kita tidak hanya berbicara tentang besarnya belanja wisatawan, tetapi juga bagaimana menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas agar wisatawan tertarik untuk tinggal lebih lama di Labuan Bajo,” kata Petrus.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan mendiskusikan peluang dukungan program dan sumber daya bagi pengembangan pariwisata, termasuk untuk membantu pelaku usaha kecil berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengatakan pengembangan wisata daratan Flores perlu dilakukan secara terintegrasi dengan wisata bahari Labuan Bajo.

Menurutnya, kedua jenis wisata tersebut tidak saling menggantikan, tetapi melengkapi pengalaman perjalanan wisatawan selama berada di Labuan Bajo dan Flores.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, agen perjalanan, dan masyarakat lokal, potensi tersebut diharapkan dapat dikemas menjadi produk wisata yang kompetitif sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Pariwisata dan BPOLBF mendorong penguatan pola perjalanan wisata yang menghubungkan berbagai destinasi di Flores. Upaya tersebut diharapkan memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan daya saing produk wisata, dan membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha serta masyarakat lokal.