LABUAN BAJO — Sebuah truk mixer atau molen dengan nomor polisi B 9739 H terparkir permanen di ruas utama Jalur Trans Flores, tepatnya di Cabang Langgo, Desa Wisata Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kendaraan besar itu telah terbengkalai selama enam tahun terakhir dan kini menjadi ancaman keselamatan bagi pengguna jalan.

Badan truk yang berkarat memakan sebagian badan jalan. Di jalur ini, arus kendaraan berlangsung nyaris tanpa jeda karena menghubungkan Labuan Bajo dan Ruteng, dua simpul utama mobilitas di Flores Barat. Setiap hari kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga bus pariwisata melintas di titik tersebut.

Pada jam-jam tertentu, terutama sore dan malam hari, kondisi jalan semakin berisiko. Kawasan puncak Langgo kerap tertutup kabut tebal, sementara penerangan jalan sangat minim. Posisi truk yang menjorok ke badan jalan membuat jarak pandang pengendara menyempit.

“Truk ini sudah lama sekali di sini. Kondisinya makin rusak dan jelas berbahaya,” kata Robert Perkasa, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias, saat ditemui di Wae Lolos.

Menurut Robert, lokasi truk berada di kawasan desa wisata yang setiap hari dilintasi wisatawan mancanegara, domestik, dan lokal. Jalur ini merupakan akses menuju sejumlah destinasi alam di Kecamatan Sano Nggoang.

“Wae Lolos dikenal sebagai desa wisata. Setiap hari tamu lewat jalur ini. Keberadaan truk rongsokan ini mengganggu keselamatan sekaligus merusak wajah destinasi,” ujarnya.

Selain mempersempit jalan, keberadaan truk molen tersebut juga dinilai mengganggu kelancaran lalu lintas. Pada saat kendaraan besar berpapasan, pengendara harus bergantian melintas dengan jarak yang sangat terbatas.

Pemerintah Kecamatan Sano Nggoang disebut telah mengirimkan surat permohonan evakuasi kepada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Barat dan Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai Barat. Surat itu berisi permintaan penanganan terhadap kendaraan terbengkalai yang dinilai membahayakan pengguna jalan.

Namun hingga kini, truk tersebut masih berada di lokasi yang sama. Tidak terlihat adanya tanda-tanda proses pemindahan atau pengamanan.

Warga Desa Wae Lolos berharap penanganan segera dilakukan mengingat status Jalur Trans Flores sebagai urat nadi transportasi di Pulau Flores. Jalur ini menjadi satu-satunya akses darat utama yang menghubungkan wilayah barat dan tengah Flores.

“Kalau dibiarkan terus, risikonya besar. Kami khawatir suatu saat akan terjadi kecelakaan,” pungkasnya.

 

Editor : Chellz