LABUAN BAJO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah 132 pelajar dari lima sekolah di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu program tersebut, Kamis (29/1).

Para siswa yang terdampak berasal dari SMAN 1 Kuwus (42 siswa), SMKN 1 Kuwus (9), SMP Negeri 2 Kuwus (31), SDI Golowelu 2 (20), dan SDI Golo Bombong (30). Mereka dilarikan ke Puskesmas Golo Welu dengan gejala mual, muntah, nyeri perut, dan diare.

Pantauan di puskesmas menunjukkan sejumlah siswa terbaring dengan infus terpasang. Sebagian lainnya menjalani observasi medis sebelum dipulangkan. Hingga Jumat (30/1), dua siswa masih menjalani perawatan lanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, Adrianus Ojo, menyatakan seluruh siswa mengonsumsi menu yang sama dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di wilayah Kuwus Barat. Menu tersebut terdiri dari nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, labu, sawi hijau, dan buah semangka.

Tim surveilans Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan dan air untuk pemeriksaan laboratorium. “Kami sedang melakukan investigasi epidemiologi dan menunggu hasil uji laboratorium,” kata Adrianus. Hingga berita ini diturunkan, hasil uji tersebut belum diumumkan ke publik.

Kasus ini memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan program MBG di tingkat daerah. Berdasarkan skema pelaksanaan, dapur MBG menjadi simpul utama produksi dan distribusi makanan ke sekolah-sekolah. Namun belum ada penjelasan terbuka mengenai jadwal inspeksi sanitasi, standar penyimpanan bahan pangan, serta prosedur distribusi makanan pada hari kejadian.

Ketua Satgas Program Makan Bergizi Gratis Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sodo, menyatakan tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Dinas Kesehatan sedang melakukan penelusuran lapangan. Ia meminta masyarakat menunggu hasil investigasi resmi sebelum menarik kesimpulan.

“Tim sedang bekerja untuk memastikan penyebab utama kejadian ini,” ujarnya, Jumat (30/1).

Belum dijelaskan pula apakah dapur MBG di Kuwus Barat telah menjalani audit kelayakan sebelum penyaluran makanan, termasuk pemeriksaan higiene penjamah makanan dan rantai distribusi. Pemerintah daerah juga belum menyampaikan apakah kegiatan MBG di wilayah tersebut dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi.

Kasus di Kuwus menambah daftar kejadian gangguan kesehatan massal yang berkaitan dengan konsumsi makanan di lingkungan sekolah. Tanpa hasil uji laboratorium dan laporan investigasi yang dipublikasikan, ruang evaluasi kebijakan masih terbuka.

Dinas Kesehatan menyatakan akan menyampaikan hasil pemeriksaan secara terbuka setelah data dinyatakan lengkap dan valid. Hingga saat itu, penyebab pasti gangguan kesehatan ratusan pelajar tersebut masih menunggu kejelasan.