Inside-Flores.com | Labuan Bajo – Kolaborasi antara Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Produksi Labuan Bajo dan Mawatu Labuan Bajo melahirkan ruang diskusi hangat bertajuk “Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia” yang berlangsung pada Minggu, (29/4/202) lalu di Kawasan Mawatu Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan pelaku industri kreatif untuk membedah masa depan pariwisata, seni lokal, dan ekonomi kreatif di destinasi super prioritas Labuan Bajo. Diskusi ini menyoroti ketimpangan antara popularitas wisata bahari yang mendominasi dan perlunya penguatan sektor wisata darat serta keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam ekosistem pariwisata premium.

 

Sinergi Kebijakan dan Tata Kelola Kompleks 

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat Fransiskus Sales Sodo, menekankan bahwa mengelola Labuan Bajo memerlukan sinkronisasi kebijakan yang intensif karena ekosistemnya yang kompleks.

“Pariwisata Labuan Bajo adalah ekosistem yang sangat kompleks, terutama dengan adanya Taman Nasional Komodo. Saat ini, sekitar 95 persen kunjungan wisatawan masih terpusat di laut, dengan proporsi wisatawan asing mencapai 78 persen. Kami sedang menyusun aplikasi SIORA yang diintegrasikan dengan aplikasi daerah ‘Gendang Mabar’ untuk memperbaiki sistem reservasi dan pengawasan, agar ada konsolidasi antara regulasi dan implementasi di lapangan,”ujar Fransiskus Sodo dalam keterangan yang diterima Rabu (2/4/2026).

 

Diversifikasi Produk dan Keberlanjutan

Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andi M T Marpaung, menyampaikan kebanggaannya atas penobatan TN Komodo sebagai tempat terindah nomor dua di dunia oleh majalah Time Out. Namun, ia juga memperingatkan risiko kejenuhan wisatawan jika hanya mengandalkan alam.

“Kita harus mendorong diversifikasi produk agar tidak hanya berbasis bahari. Budaya dan kearifan lokal harus dinaikkan sebagai pembeda. Kami melalui program seperti ‘Weekend Parapuar’ terus membina sanggar seni dan UMKM agar mereka memiliki panggung rutin dan bisa mandiri secara bisnis (B2B) dengan hotel atau restoran, bukan sekadar bergantung pada bantuan pemerintah,” kata Andi.

Sementara itu, Pelaku UMKM kreatif dan pemilik Komabi, Rino, menyatakan selama ini mereka masih merasa sebagai pelengkap di tengah pembangunan yang bombastis.

“Kami berusaha mengimbangi kebijakan pemerintah dengan melahirkan karya otentik seperti konten budaya dan bahasa Manggarai di produk kami. Namun, kami butuh pendampingan langsung, regulasi yang mewajibkan penggunaan produk lokal di hotel-hotel, serta standarisasi harga agar UMKM lokal tidak kalah bersaing,” ungkap Rino.

Senada dengan hal tersebut, Suci Maria, seorang influencer lokal, menyoroti pentingnya storytelling dalam promosi digital.

“Saat ini lebih banyak orang luar yang bercerita tentang Labuan Bajo daripada orang lokal sendiri. Kita tidak boleh lagi hanya menjual keindahan, tapi harus menjual cerita dan makna. Saya berharap pemerintah melibatkan kami para kreator konten sejak awal proses perencanaan, bukan hanya saat acara sudah selesai, agar pesan yang disampaikan lebih emosional dan terhubung dengan publik,” ucap Suci.

Lebih lanjut, Ketua Stand Up Indo Labuan Bajo, Koko Ama, menambahkan bahwa komunitas kreatif lokal seringkali masih berjuang secara mandiri (berdikari).

“Faktanya, pihak luar atau EO internasional lebih menghargai nilai (value) karya kami dibandingkan pihak lokal. Kami butuh dukungan fasilitas dan ruang ekspresi yang lebih luas agar industri kreatif ini bisa tumbuh seiring dengan label pariwisata super premium,” ujarnya.

 

Masukan Strategis: Wisata Kesehatan dan Fasilitas Darat 

Dalam sesi diskusi, beberapa partisipan juga memberikan masukan krusial diantaranya Candy Latubatara dari IWAPI Mangggarai Barat mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan investasi di darat.

“Wisata bahari dan darat adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Jika terlalu fokus di laut, saat musim barat tiba dan laut tidak bisa diakses, ekonomi kita akan tidur panjang. Fasilitas darat seperti Mawatu dan Parapuar harus terus digenjot,” katanya.

Pemenang lomba Komodo Tawa Season 2, drg Idham juga mengusulkan konsep Dental Tourism.

“Di Bali, turis bisa berobat sambil berwisata. Di Labuan Bajo, dengan biaya medis yang jauh lebih terjangkau dibanding Australia misalnya, ini bisa menjadi sumber PAD yang besar jika diregulasi dan dikerjasamakan dengan klinik serta agen perjalanan secara profesional,” ucapnya.

Acara Sunset Talk ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan merchandise lokal sebagai simbol komitmen bersama untuk memajukan Labuan Bajo melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih inklusif. (*)