Oleh: Dr. Felix Baghi, SVD

 

KASUS INI seperti pisau yang pelan tapi dalam, bukan cuma soal seorang anak dan sebuah buku tulis, tapi tentang luka kemanusiaan yang sunyi. Seorang anak gantung diri bukan karena kenakalan, bukan karena kejahatan besar, tapi karena merasa tak diinginkan, tak didengar, tak diprioritaskan. Kalimat dalam catatannya bukan sekadar keluhan, itu jeritan eksistensial: “Apakah aku cukup berarti untuk diperjuangkan?”

 

Tragedi ini bukan soal alat tulis. Ini soal harga diri manusia kecil. Buku dan pena hanya pemicu. Yang sebenarnya terjadi adalah anak itu merasa kebutuhannya tidak dilihat. Ia menafsir penolakan sebagai penolakan terhadap dirinya. Dalam dunia batinnya, itu berubah menjadi pesan,”Aku tidak penting.” Bagi orang dewasa, itu “hal kecil”. Bagi anak, itu bisa berarti: Cintaku ditolak. Keberadaanku diabaikan. Seorang anak belum punya struktur psikologis untuk berkata, “Orang tuaku mungkin tidak punya uang.” Yang ia pahami hanya: “Mama tidak mau untukku.”

Bunuh diri pada anak adalah bahasa keputusasaan yang tak sempat diterjemahkan. Anak tidak selalu ingin mati. Seringkali ia hanya ingin: rasa sakitnya berhenti, didengar, dipeluk, diyakinkan bahwa ia berharga. Tindakan ekstrem itu adalah tangisan yang tidak menemukan telinga. Pohon cengkeh itu menjadi saksi bisu bahwa kita hidup di masyarakat yang sering memberi nasihat, tapi jarang memberi ruang aman untuk anak berkata: “Saya sedih.”

Kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tapi kemiskinan relasi. Kita sering bicara kemiskinan materi. Tapi yang lebih mematikan adalah kemiskinan perhatian, kemiskinan empati, kemiskinan waktu untuk mendengar anak. Orang tua bisa miskin uang, tapi yang menyelamatkan jiwa anak adalah kalimat sederhana: “Mama belum bisa beli sekarang, tapi kamu tetap mama punya harta paling besar.” Anak tidak butuh solusi besar dulu. Ia butuh rasa aman emosional.

Catatan “mama galo ze’e -mama kikir sekali” bukan tuduhan, tapi luka cinta. Itu bukan kalimat marah. Itu kalimat anak yang terluka karena mencintai. Anak itu tidak membenci ibunya. Ia justru sangat bergantung pada cinta ibunya. Ketika cinta itu terasa tertolak, dunia runtuh. Ini tragedi relasional, bukan tragedi moral.

Ini cermin sosial kita. Kasus seperti ini menampar banyak pihak: – Keluarga: Apakah di dalam keluarga, orang tua cukup hadir secara emosional?Sekolah: Apakah guru melihat di sekolah ada tanda-tanda anak yang tertekan? Masyarakat: Apakah kita peka terhadap anak yang memendam kesedihan? Gereja / komunitas iman: Apakah gereja/agama sungguh menjadi ruang aman (ramah anak) bagi anak kecil? Seringkali anak yang paling pendiam adalah yang paling kesepian.

Pesan kemanusiaan paling dalam dari tragedi ini, yaitu bahwa setiap anak membawa pesan yang sama ke dunia: “Tolong yakinkan saya bahwa hidup saya berarti.” Jika pesan itu tak pernah dijawab, anak bisa percaya bahwa ketiadaannya tidak akan mengubah apa pun. Dan itu adalah kegagalan kolektif kemanusiaan.

Refleksi spiritual (jika dilihat secara iman). Dalam banyak tradisi iman, anak adalah wajah Allah yang paling rentan. Ketika seorang anak putus asa sampai mengakhiri hidup, itu seperti dunia berkata kepada Allah: “Kami gagal menjaga yang paling kecil.” Ini bukan saat menghakimi orang tua. Ini saat berkabung, dan belajar mendengar lebih awal, memeluk lebih sering, menunda amarah, mempercepat empati.

Jadi, anak itu tidak mati karena buku tulis. Ia mati karena merasa sendirian dalam kesedihan. Dan pelajaran paling menyayat dan perlu disadari bahwa hal yang menyelamatkan hidup anak -anak itu bukan uang, tapi satu kalimat lembut pada waktu yang tepat.

 

Penulis adalah Dosen ITFK Ledalero Maumere, alumni Univ. Santo Tomas, Manila dan Univ. Pontifical Gregorian, Roma