
Nagekeo, NTT – Warga Malasawu, Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, terpaksa membangun bendungan dan saluran irigasi sementara secara swadaya demi memenuhi kebutuhan air untuk pertanian.
Kepala Desa Sawu, Fridus Ndona, mengungkapkan bahwa masyarakat sudah menunggu campur tangan pemerintah selama enam bulan, namun belum ada penanganan. Kondisi ini memaksa warga mengambil langkah sendiri agar tidak semakin terpuruk.
“Kalau terus menunggu, kami bisa mati kelaparan,” tegasnya.
Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Malasawu, Fridus Babo, menyebut lambannya penanganan pemerintah membuat masyarakat bersama pemerintah desa berinisiatif menggalang dana swadaya. Setiap warga berkontribusi sebesar Rp100 ribu untuk menyewa alat berat guna membangun bendungan darurat.
Menurutnya, kebutuhan air menjadi sangat mendesak karena menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat yang mayoritas petani.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Malasawu, Benediktus Mite. Ia mengatakan selama enam bulan terakhir warga mengalami kesulitan besar akibat kekurangan air.
“Kami butuh air untuk membajak sawah, ternak, dan tanaman hortikultura. Selama ini masyarakat sangat sengsara,” ujarnya.
Sementara itu, anggota DPRD dari daerah pemilihan Mauponggo, Patrisius Bhoko, yang juga merupakan anggota P3A Malasawu, mendesak pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret.
Ia menegaskan, kondisi ini tidak lepas dari dampak bencana yang terjadi pada 8 September 2025, yang hingga kini masih dirasakan masyarakat Desa Sawu.
“Pemerintah harus segera membangun bendungan dan irigasi permanen. Seluruh masyarakat terdampak dan sangat membutuhkan solusi cepat,” katanya.
Warga berharap, upaya swadaya yang dilakukan saat ini dapat menjadi perhatian serius pemerintah agar segera menghadirkan infrastruktur irigasi yang layak dan berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan