Yayasan Plan Internanasional Indonesia ( YPII) Area Nagekeo menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Mental Health untuk pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental pada remaja bersama Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa, di Aula Hotel Pepita, Selasa (5/5). Kegiatan ini menghadirkan 60 peserta dari sejumlah guru, fasilitator remaja serta agen perubahan lingkungan.

Kesehatan mental remaja juga menjadi perhatian serius buat Plan Indonesia saat ini. Meskipun data kuantitatif terkait gangguan kesehatan mental remaja di NTT masih terbatas, informasi lapangan menunjukkan adanya peningkatan kasus depresi hingga perilaku bunuh diri di kalangan remaja. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya akses layanan kesehatan mental, minimnya literasi kesehatan mental, serta kurangnya dukungan sosial yang memadai bagi remaja.

Menurut Cosmas Damianus, Manager Plan Indonesia Area Nagekeo, tingginya angka kekerasan terhadap anak dan remaja, termasuk kekerasan berbasis gender, serta masih adanya praktik pernikahan anak, menunjukkan perlunya penguatan sistem perlindungan yang lebih responsif dan terintegrasi. Fenomena “gunung es” dalam pelaporan kasus kekerasan juga menjadi indikasi bahwa masih banyak kasus yang tidak terungkap di masyarakat.

Selain itu menurut Cosmas, dalam konteks ini, sekolah dan komunitas memiliki peran strategis sebagai ruang aman bagi anak dan remaja. Guru Bimbingan Konseling (BK), guru, serta fasilitator remaja merupakan aktor kunci yang berada di garis depan dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons berbagai permasalahan yang dihadapi remaja, termasuk kesehatan mental. Namun, kapasitas mereka masih perlu diperkuat, khususnya dalam hal pemahaman kesehatan mental, keterampilan komunikasi empatik, deteksi dini masalah, serta mekanisme rujukan yang tepat dan aman.

” Melihat kondisi yang ada Plan Indonesia merasa perlu untuk melakukann suatu kegiatan Training of Trainers (ToT) Kesehatan Mental yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru BK, guru, dan fasilitator remaja agar mampu menjadi pelatih, pendamping, serta agen perubahan di lingkungan masing-masing, ” kata Cosmas.

Cosmas menambahkan, melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya memiliki pemahaman yang komprehensif terkait kesehatan mental remaja, tetapi juga mampu mentransfer pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada remaja dan komunitas secara berkelanjutan.

” Kegiatan ToT ini menjadi bagian penting dari upaya YPII dalam mewujudkan generasi yang sehat secara mental, aman, dan tangguh, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang bebas dari kekerasan serta ramah bagi tumbuh kembang anak dan remaja, ” pungkas Cosmas Damianus.

Dalam kegiatan selama 3 hari kedepan para peserta melakukan kegiatan seperti presentasi interaktif diskusi kelompok, studi kasus, role play/simulasi, ice breaking dan refleksi dari Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa dengan 2 psikolog yakni Maria Megaloma Harten Gaharpung, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Sitti Anggraini, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Para peserta akan diberikan materi berupa Dasar Kesehatan Mental seperti Konsep dasar kesehatan mental remaja Faktor risiko dan protektif Isu kesehatan mental pada remaja (stres, kecemasan, depresi, bullying) Deteksi dini dan tanda-tanda peringatan. Kemudian materi tentang Pencegahan dan Penanganan dengan materi berupa Komunikasi empatik dan active listening, konseling dasar bagi guru/fasilitator Psychological First Aid (PFA), Penanganan kasus dan mekanisme rujukan.