Wakil Bupati Nagekeo saat memberikan sumbangan di Ladolima Timur

NAGEKEO – Rencana relokasi pemukiman disampaikan kepala BPBD Nagekeo, Remigius Jago, (22/4) berdasarkan hasil penyelidikan Tim Geologi Bandung di Desa Ladolima Timur beberapa waktu lalu.

Bencana gerakan tanah melanda Desa Ladolima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur membuat sedikitnya 60 kepala keluarga terpaksa mengungsi akibat kondisi tanah yang semakin tidak stabil.

Peristiwa yang terjadi pada 17 Maret 2026 ini ditandai dengan munculnya retakan sepanjang sekitar 100 meter dengan lebar 0,2 hingga 1 meter serta amblesan tanah mencapai 0,5 meter. Retakan tersebut juga menyebabkan perubahan sumber air, di mana mata air lama mengering dan muncul mata air baru di jalur retakan.

Hasil kajian Tim Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan bahwa jenis gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan (creep), yakni pergerakan tanah secara perlahan namun berpotensi merusak permukiman. Kondisi ini dipicu oleh lereng curam, struktur tanah vulkanik yang lapuk, serta tingginya curah hujan.

Secara geografis, lokasi terdampak berada di wilayah perbukitan dengan kemiringan lereng curam hingga lebih dari 40 persen. Kondisi ini diperparah oleh struktur tanah hasil pelapukan batuan vulkanik yang gembur dan mudah menyerap air.

Selain itu, curah hujan tinggi menjadi pemicu utama terjadinya gerakan tanah. Air hujan yang meresap ke dalam tanah meningkatkan tekanan air pori, sehingga mengurangi daya ikat tanah dan memicu pergerakan massa tanah di lereng.

Fenomena lain yang terdeteksi adalah munculnya mata air baru di sekitar retakan, sementara sumber air lama justru mengering. Hal ini menjadi indikasi kuat adanya perubahan struktur tanah di bawah permukaan.

Secara umum, wilayah tersebut masuk dalam zona kerentanan gerakan tanah kategori menengah, namun kondisi di lapangan saat ini dinilai kritis karena permukiman berada tepat di bawah lereng yang tidak stabil.

Kepala BPBD Kabupaten Nagekeo, Remigius Jago, menegaskan bahwa hasil kajian geologi tersebut harus segera ditindaklanjuti melalui langkah-langkah konkret di lapangan.

“Beberapa poin penting yang harus disikapi berdasarkan hasil kajian ini, pertama adalah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebagai bagian dari persiapan rencana relokasi permukiman, karena ancaman yang dihadapi sudah masuk kategori menengah hingga tinggi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penanganan teknis di lokasi retakan, terutama pembangunan saluran drainase yang kedap air di bagian hulu.

“Pembangunan drainase kedap air ini bertujuan untuk mengurangi infiltrasi air hujan yang menjadi pemicu utama terbentuknya bidang geser antar lapisan tanah,” jelasnya.

Selain itu, BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan. Warga diimbau tidak tinggal di area rawan, khususnya pada malam hari ketika hujan terus berlangsung.

“Keselamatan harus menjadi prioritas. Jangan memaksakan diri tinggal di zona terancam, apalagi saat hujan dengan intensitas tinggi,” tegas Remigius.

Langkah lain yang akan dilakukan adalah survei lanjutan untuk menentukan jalur saluran air kedap guna mengarahkan aliran air agar tidak meresap ke area terdampak.

Menurutnya, seluruh poin tersebut merupakan langkah penting untuk mencegah terjadinya longsor susulan yang berpotensi lebih besar.

Sebelumnya, Tim Badan Geologi juga merekomendasikan penutupan retakan tanah, perbaikan sistem drainase, serta kajian relokasi permanen bagi warga terdampak guna meminimalisir risiko bencana di masa mendatang.

Masyarakat pun diimbau segera mengungsi jika hujan lebat berlangsung lebih dari dua jam atau terjadi hujan terus-menerus selama dua hari sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan longsor.