Menghadapi potensi bencana kekeringan Godzilla dan Kemarau Basah April-Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Nagekeo lewat BPBD Nagekeo yang berkolaborasi dengan Yayasan Plan Indonesia menggelar workshop terkait kesiapsiagaan menghadapi ancaman tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan pada 21 April 2026 di Aula Perpustakaan Nagekeo, Mbay.

Workshop tersebut melibatkan berbagai instansi lintas sektor, termasuk OPD, TNI/Polri, lembaga vertikal, serta organisasi non-pemerintah juga para jurnalis/media.

Menurut sekretaris BPBD Nagekeo, Petrus Soa tujuan workshop ini untuk menyusun langkah mitigasi terpadu dalam menghadapi potensi kekeringan ekstrim atau Godzilla dan kemarau basah yang diprediksi tetap terjadi meskipun dalam kondisi kemarau basah.

Kekeringan Godzilla adalah kondisi kekeringan ekstrim yang dipicu oleh fenomena El Nino kuat yang diprediksi oleh BMKG RI dan BRIN akan terjadi bulan April – Oktober 2026. Fanomena lni manyebabkan kemarau lebih panjang dan lebih kuat intensitasnya diatas normal yang bisa menyebabkan suhu panas, krisis air, gangguan pertanian dan kebakaran di wilayah Pulau Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sementara Kemarau Basah adalah fenomena anomali iklim dimana hujan masih sering turun dengan intensitas sedang – tinggi, meskipun secara kalender telah memasuki musim kermarau.

Fenomena ini dipicu oleh faktor La Nina dimana terjadi kenaikan suhu muka laut (samudera) di sekitar Indonesia serta aktifnya angin Monsun.

Oleh karena itu diperlukan upaya mitigasi awal melalui langkah langkah persiapan antisipasi (cegah dini) potensi dampak yang ditimbulkan kepada masyarakat Nagekeo.

Dalam agenda kegiatan, peserta mendapatkan pemaparan materi terkait fenomena perubahan iklim, potensi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan, serta strategi penanganan darurat dan jangka panjang. Selain itu, peserta juga diminta menyusun matriks rencana aksi mitigasi sesuai tugas dan fungsi masing-masing instansi.

Petrus Soa menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi risiko bencana kekeringan, guna meminimalisir dampak terhadap masyarakat, khususnya petani.

Selain itu workshop ini diharapkan menghasilkan rencana aksi konkret yang dapat segera diimplementasikan sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi cuaca ekstrem di tahun 2026.

” Kami sangat berharap sudah menyiapkan mengisi matriks untuk terkait mitigasi dalam menghadapi kekeringan Godzilla ini dan kemarau basah agar bisa diantisipasi sedini mungkin hingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih parah bagi kehidupan masyarakat Nagekeo, ” kata Cosmas Damianus Manager Plan Indonesia area Nagekeo.

Beberapa poin rekomendasi hasil workshop kepada Pemda Nagekeo diantaranya sebagai berikut :

1. SK Tanggap Darurat sampai Juni 2026

2. Revisi dan Perpanjangan SK Forum PRB Kabupaten Nagekeo

3. Penyatuan Gerakan Respon Bencana melalui Posko Utama

4. Inventaris/Identifikasi Lembaga Yang bisa membantu Distribusi Air Bersih

5. Lahan yang terbakar wajib ditanam oleh desa/lurah dua kali luas lahan yang terbakar

6. Penyatuan sumber daya dari semua Lembaga melalui posko utama di BPBD

7. Revisi Perbup BTT dalam kaitan dengan Pembagian Wewenang respon bencana berdasarkan skala dampak antara Pemerintah Kabupaten dan Desa (Di atas 30 juta wewenang Pemkab)

8. Distribusi Air Bersih butuh BAK PAH dan Tandon Air saat distribusi air bersih dari berbagai lembaga

9. Memperkuat aksi tematik perlindungan mata air dan sumber air lainnya.

Selain poin rekomendasi tersebut dalam diskusi beberapa pegiat lingkungan dan jurnalis juga menegaskan perlu langkah konkrit sesegera mungkin tentang pentingnya ketahanan pangan seperti sekolah lapang buat petani seperti pengenalan penyakit tanaman yang harus segera digerakan dan diimplemetasikan agar produktivitas petani seperti padi meningkat agar tidak mempengaruhi harga beli yang membuat harga beras melonjak ketika masuk musim kemarau.