Hamparan sawah tadah hujan di Desa Renduwawo yang dulunya lahan tidur berbalut sabana (Ignas Kunda)

Hamparan sabana yang dulu identik dengan kering dan tandus di Desa Renduwawo, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, NTT, kini menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di antara perbukitan dan lembah yang dulu hanya ditumbuhi ilalang, bulir-bulir padi mulai menguning, menandai panen yang selama ini hanya menjadi harapan.

Di sekitar lembah Kampung Malaboa, warga memanen padi dari sawah tadah hujan yang perlahan mengubah wajah desa. Senin (20/4) menjadi momen penuh makna ketika istri Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo turun langsung melihat hamparan sawah yang kini menjadi simbol perubahan.

Kepala Desa Renduwawo, Teodorus Aru, menyebut transformasi ini bukan terjadi dalam semalam. Sejak 2022, desa secara bertahap mencetak lahan sawah hingga mencapai total sekitar 73 hektar. Rinciannya, 13,5 hektar pada 2022, 5 hektar pada 2023, 5,7 hektar pada 2024, 6 hektar pada 2025, dan 5,5 hektar pada 2026, semuanya bersumber dari dana desa.

Tak hanya itu, pada 2025 pemerintah kabupaten melalui program kerja 100 hari turut membuka 28 hektar lahan tambahan. Swadaya masyarakat juga berperan, dengan kontribusi berupa tenaga, solar, dan biaya operasional sederhana yang menghasilkan sekitar 7 hektar sawah sejak 2022 hingga 2025.

“Hari ini yang panen adalah lahan yang dicetak sejak 2022,” ujar Teodorus.

Ia menegaskan, program ini merupakan bagian dari visi desa sejak 2019 untuk mengubah lahan tidur menjadi sumber pangan.

Bagi warga, sawah tadah hujan menjadi jawaban atas keterbatasan hidup di tengah sabana. Selama ini, mereka bergantung pada jagung, ternak, dan tenun. Beras harus dibeli setiap pekan di pasar. Kini, perlahan kondisi itu berubah.

“Dulu setiap hari Sabtu pasti beli beras. Sekarang sudah berkurang, bahkan ada keluarga yang tidak beli lagi,” tutur seorang warga.

Hasil panen pun mulai terasa nyata. Dari lahan sekitar 75 are, warga bisa menghasilkan hingga 41 karung gabah berukuran 100 kilogram. Bahkan, hasil panen tahun lalu masih tersisa hingga awal tahun ini. Sebagian keluarga juga mulai memanfaatkan hasil sawah untuk membiayai pendidikan anak.

Di desa dengan jumlah penduduk sekitar 987 jiwa ini, setiap kepala keluarga rata-rata memiliki lahan antara 25 hingga 75 are. Sawah tadah hujan menjadi penopang baru ekonomi keluarga.

Meski demikian, tantangan masih ada. Warga berharap dukungan lanjutan dari pemerintah, terutama alat dan mesin pertanian seperti traktor, untuk meningkatkan produktivitas.

Potensi pengembangan juga masih terbuka lebar. Di wilayah Malawaka, dekat Sungai Aemau, terdapat lebih dari 100 hektar lahan yang berpotensi dijadikan sawah. Harapan warga sederhana: ada intervensi pemerintah untuk membuka lahan tersebut.

Selain pertanian, desa juga mengelola sumber air dengan membangun enam embung—satu untuk ternak, satu untuk pertanian, dan lainnya untuk kebutuhan sanitasi serta rumah tangga. Program penampungan air hujan telah berjalan sejak 2019 hingga 2025, meski pada 2026 dihentikan sementara karena dana desa dialihkan untuk program lain, termasuk koperasi merah putih.

Di tengah segala keterbatasan, panen di Renduwawo bukan sekadar hasil pertanian. Ia adalah simbol ketekunan, gotong royong, dan perubahan cara hidup. Dari sabana yang sunyi, kini tumbuh harapan setiap bulir padi menjadi bukti bahwa kemandirian pangan bukan lagi mimpi.