Inside-Flores.com | Labuan Bajo – Pamflet Generasi meluncurkan buku kompilasi zine Lemari dan Laci-laci Kecil di Kepala melalui lokakarya publik bertajuk “Icip-icip Memori Pangan” yang digelar di Labuan Bajo, Minggu (26/4).
Kegiatan ini diselenggarakan berkolaborasi dengan SuapSuapan serta menghadirkan pegiat pangan Elizabet Yani Tararubi atau akrab disapa Kaka Liz dari Dapur Tara.
Peluncuran buku ini menjadi momentum untuk memperkenalkan 29 karya zine yang ditulis oleh orang muda dari Manggarai Barat, Bandung, dan Jakarta. Setiap zine merekam pengalaman personal tentang pangan–terutama ingatan masa kecil, yang kemudian dirangkai menjadi refleksi kolektif tentang perubahan sistem pangan.
Buku Lemari dan Laci-laci Kecil di Kepala merupakan hasil dari program Urban Futures bertajuk Simpang Belajar: Terhubung dan Belajar yang diselenggarakan oleh Pamflet Generasi dengan dukungan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial.
Program ini melibatkan 29 peserta yang aktif di isu pangan dan mendorong mereka menggunakan zine untuk merekam pengalaman personal tentang pangan di masa kecil.
Buku kumpulan zine ini juga menjadi medium refleksi untuk mendiskusikan isu pangan dalam konteks ekonomi, budaya, dan politik yang lebih luas.
Dicky Senda, kurator buku dan pegiat pangan asal Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, menyebutkan bahwa buku ini memperlihatkan bagaimana pengalaman orang muda dalam mengajak masyarakat luas untuk memahami tantangan pangan secara kolektif.
“Mereka menggambar ulang isi laci personal ke medium zine ini. Ada yang membukanya dengan pasti, menemukan laci-laci penuh memori dan perasaan. Kemudian beranjak menuju titik refleksi yang sama: dari cara pandang personal menjadi kesadaran kolektif yang baru, sebagai modal untuk bergerak,” ujar Dicky, yang juga mengelola komunitas warga Lakoat Kujawas di Desa Taiftob, Mollo, NTT.
Dicky juga menambahkan buku tersebut menyoroti bahwa generasi muda tidaklah homogen. Pengalaman mereka terhadap pangan dibentuk oleh beragam faktor seperti gender, kelas sosial, kondisi ekonomi, hingga lokasi geografis. Karena itu, narasi yang dihadirkan dalam buku ini menjadi penting untuk memperkaya diskursus sistem pangan yang lebih inklusif.
Sebagai bagian dari peluncuran, lokakarya di Labuan Bajo dirancang tidak hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga pengalaman sensorik melalui sesi “icip-icip” hidangan.
Kegiatan ini menghadirkan Kaka Liz sebagai narasumber, serta kolaborasi sajian bersama Oma Bekti dari Rumah Pekerti.
Kaka Liz, pendiri Dapur Tara sejak 2019, dikenal aktif mengangkat pangan lokal Flores melalui pendekatan kuliner berbasis komunitas. Dalam lokakarya ini, ia mengajak peserta menelusuri kembali makna pangan melalui ingatan dan rasa.
“Salah satu efek dari perkembangan Labuan Bajo adalah narasi “tanah milik siapa”, Hutan kita ditebang, dijual dan semangat bertani maupun berkebun sudah mulai hilang. Budaya-budaya seperti Lonto Leok juga mulai pudar berpindah ke budaya nongkrong ke cafe-cafe modern. Oleh karena itu, kemanapun kita pergi, kita harus membawa akar kita untuk menguatkan identitas agar tidak hilang,” ujarnya.
Pengarah Editorial dan Produksi buku, Wilsa Naomi, menambahkan bahwa peluncuran dalam format lokakarya dipilih untuk memperluas cara publik berinteraksi dengan buku. “Harapannya, lewat icip-icip hidangan ini, teman-teman juga bisa merefleksikan kembali persoalan pangan melalui hal sesederhana ingatan makanan masa kecil, dan terpantik untuk mempertanyakan mengapa ada makanan yang tergeser ataupun hilang,” katanya.
Peluncuran di Labuan Bajo menjadi penutup dari rangkaian diseminasi luring yang sebelumnya digelar di Jakarta dan Bandung. Inisiatif ini merupakan bagian dari program Urban Futures yang berlangsung di 10 kota di Kolombia, Ekuador, Indonesia, Zambia, dan Zimbabwe.
Melalui peluncuran ini, Pamflet Generasi berharap Lemari dan Laci-laci Kecil di Kepala dapat menjadi ruang belajar kolektif yang memperkuat suara orang muda dalam membicarakan sistem pangan, sekaligus menegaskan bahwa pengalaman personal memiliki peran penting dalam memahami tantangan pangan secara bersama. Seluruh karya dalam buku juga dapat diakses secara daring untuk menjangkau publik yang lebih luas.


Tinggalkan Balasan