RUTENG – Suasana syahdu menyelimuti Gereja Devosional St. Yosef (Katedral Lama) Ruteng, Minggu, 19 April 2026. Wangi kemenyan yang membubung ke langit-langit gereja tua itu seolah membawa doa-doa ribuan umat yang hadir menuju keabadian. Sebuah peti kayu jati, tempat pembaringan tubuh kaku sang misionaris, Pater Marsel Agot, SVD berada di depan Altar di bawah tatapan teduh gambar Santa Faustina dan salib Kristus. Momen pemberkatan jenazah ini menjadi puncak dari perpisahan yang mengharu biru bagi sosok yang dijuluki sebagai “Gembala Pembawa Harapan”.
Penghormatan dari Berbagai Penjuru
Di dalam Gereja, Yang Mulia Bapak Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat memimpin Misa Pemakaman dengan penuh khidmat.
Kesakralan Misa Pemakaman ini semakin terasa dengan kehadiran puluhan Imam konselebran yang berdiri melingkari altar sebagai bentuk persaudaraan imamat.
Di bangku umat, tampak ratusan biarawati dari berbagai kongregasi, termasuk Suster Provinsial beserta jajaran Tim Pimpinan SSpS Flores Barat yang hadir memberikan dukungan moril dan doa bagi sang konfrater.
Hadir pula Romo Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, bersama deretan tokoh agama dan tokoh masyarakat yang selama ini menjadi mitra strategis almarhum dalam membangun kemanusiaan di Manggarai. Kehadiran mereka menegaskan betapa luasnya jejaring kasih dan pengaruh positif yang telah ditanamkan oleh Pater Marsel semasa hidupnya.
Jejak Kemanusiaan Lintas Batas
Pimpinan SVD Provinsi Ruteng, Pater Gusti Naba, SVD menegaskan, bahwa Pater Marsel Agot bukan sekadar Imam-Biarawan Serikat Sabda Allah (SVD) biasa. Dalam 50 tahun hidup membiara dan 43 tahun imamatnya, ia telah mematri jejak yang tak terhapuskan. Ia dikenal sebagai pejuang kemanusiaan yang “lintas batas”—seorang gembala yang tidak hanya berbicara tentang dogma, tetapi juga terjun langsung dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup hingga pemberdayaan masyarakat.
“Pater Marsel Agot adalah terang cinta kasih di tengah perbedaan. Pater Marsel Agot adalah seorang pegiat pariwisata dan lingkungan hidup yang setia sampai akhir hayat”, ungkap Pater Gusti Naba, SVD dalam sambutannya.
Lautan Karangan Bunga dan Isak Tangis Keluarga
Kesaksian atas kebaikan hidup Pater Marsel Agot terpampang nyata bahkan sebelum memasuki pintu gereja. Ribuan karangan bunga bertaburan memenuhi halaman, menciptakan “taman duka” yang indah di tengah mendungnya langit kota Ruteng. Setiap tulisan Turut Berduka Cita adalah bukti betapa luasnya jangkauan kasih yang telah ia tebarkan selama hidupnya.
Di dalam gereja, keluarga besar, kerabat, serta rekan kerja almarhum tak mampu membendung rasa haru. Bagi mereka, Pater Marsel bukan hanya seorang imam, melainkan sosok kakak, sahabat, dan rekan kerja yang penuh dedikasi. Pihak RS Cancar yang mendampingi masa-masa kritis almarhum juga turut hadir melepas sang pejuang menuju peristirahatan terakhirnya.
Warisan yang Harus Dilanjutkan
Kepergian Pater Marsel Agot memang mengejutkan banyak pihak, namun semangatnya tetap hidup. Pimpinan SVD Provinsi Ruteng menyampaikan apresiasi mendalam kepada keluarga yang telah mempercayakan putra terbaik mereka kepada Serikat.
“Pater Marsel Agot, doakanlah kami saudara-saudaramu yang masih berjuang di bumi ini,” tutup Pater Gusti Naba dengan nada bergetar.
Kini, Sang Pejuang Kehidupan itu telah pulang ke Rumah Bapa. Ia meninggalkan warisan besar bagi mereka yang ditinggalkan: untuk terus merawat bumi, menjaga kemanusiaan, dan menghidupkan toleransi di atas segala perbedaan.
Selamat jalan, Pater Marsel Agot, SVD. Perjuanganmu telah paripurna, namun cahayamu akan tetap pijar di setiap sudut bumi Manggarai yang pernah engkau sentuh dengan kasih nan lembut. *
(Robert Perkasa)


Tinggalkan Balasan