LABUAN BAJO – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menyambut positif rencana investasi yang diumumkan Danantara Indonesia bersama Qatar Investment Authority (QIA) untuk pengembangan kawasan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Investasi strategis tersebut dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah Flores.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung, mengatakan keterlibatan investor internasional menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia terhadap potensi Labuan Bajo Flores sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia.

“Investasi yang masuk diharapkan tidak hanya menghadirkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas destinasi wisata, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai ekonomi lokal, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut BPOLBF, investasi tersebut harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat lokal, terutama pelaku UMKM, komunitas kreatif, nelayan, petani, dan generasi muda agar mereka dapat menjadi bagian utama dalam pertumbuhan industri pariwisata.

Di sisi lain, BPOLBF menegaskan bahwa pembangunan di Labuan Bajo harus tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Kawasan yang dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo ini memiliki ekosistem pesisir, laut, dan daratan yang sensitif sehingga membutuhkan pembangunan yang terukur dan bertanggung jawab.

Andhy menekankan bahwa aspek lingkungan harus menjadi perhatian utama dalam setiap investasi dan pembangunan, mulai dari pengelolaan sampah dan limbah, penyediaan air bersih, perlindungan kawasan konservasi, hingga penerapan prinsip pembangunan rendah emisi.

“Keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari kemampuan menjaga kelestarian alam dan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang,” katanya.

BPOLBF juga mendorong penguatan sektor UMKM dan ekonomi kreatif lokal melalui berbagai program pendampingan usaha, pelatihan pemasaran digital, peningkatan kualitas produk, kemudahan akses pembiayaan, hingga perluasan pasar produk khas Nusa Tenggara Timur seperti tenun, kriya, kuliner, dan produk kreatif lainnya.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata menjadi perhatian penting melalui pelatihan di bidang hospitality, manajemen destinasi, pemandu wisata, hingga pengelolaan usaha kreatif agar masyarakat lokal dapat menjadi pelaku utama dalam industri pariwisata.

Dalam mendukung kenyamanan wisatawan, BPOLBF juga menilai pentingnya penguatan mitigasi risiko keamanan destinasi. Upaya tersebut mencakup peningkatan standar keamanan dan keselamatan pariwisata, edukasi keselamatan wisata bahari, sertifikasi kompetensi seperti Emergency First Response (EFR), penyediaan informasi cuaca dan kebencanaan, hingga kesiapsiagaan destinasi dalam menghadapi situasi darurat.

BPOLBF turut mendorong pengembangan pariwisata berbasis komunitas melalui penguatan desa wisata dan atraksi budaya yang melibatkan masyarakat adat serta komunitas lokal. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga identitas budaya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut BPOLBF, pengembangan pariwisata Labuan Bajo membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, investor, BUMN, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas agar investasi dapat berjalan secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Sebelumnya, Danantara Indonesia bersama Qatar Investment Authority resmi mengumumkan investasi strategis di Labuan Bajo untuk mendukung pengembangan destinasi pariwisata super prioritas sekaligus memperkuat daya tarik Indonesia di tingkat global.

Investasi tersebut akan difokuskan pada proyek-proyek pengembangan baru (greenfield), termasuk pembangunan berbagai fasilitas pariwisata dari tahap awal. Labuan Bajo sendiri dikenal sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo yang berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO.

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan kerja sama tersebut merupakan langkah konkret dalam mendorong investasi jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi nasional, khususnya di kawasan timur Indonesia.

Menurut Pandu, proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerja selama masa konstruksi dan operasional hingga mendorong pertumbuhan usaha lokal serta peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.