‎PAGI ITU, Marianus Susanto Edison berdiri di tengah lahan seluas 1,5 hektare, menyusuri barisan bibit porang yang baru ditanam. Angin sejuk pegunungan Rego membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

‎Dahulu, Edison menghabiskan hari-harinya di meja redaksi, mengetik berita dan menyalurkan fakta. Kini, tangannya lebih sering memegang cangkul dan ember, menyiapkan tanah untuk bibit porang.

‎“Ada dua hal penting untuk menanam porang: lahan dan bibit,” katanya sambil menunjuk barisan tanaman muda. “Bibit bisa berupa umbi porang, biji katak, atau anakan, ” lanjut Edison.

‎Keputusan Edison banting stir dari jurnalis menjadi petani porang berawal tahun 2025, ia menerima warisan tanah dari orang tua. Lahan itu, seluas 1,5 hektare, terletak di Rego, Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat, daerah yang terkenal subur dan cocok untuk budi daya porang.

‎Pada tahun yang sama mantan aktifis PMKRI ini memulai pekerjaan besar: membersihkan kebun yang sebelumnya ditanami kopi, coklat, kemiri, dan cengkeh.

‎Setiap hari, ia bekerja sendirian, membalik tanah, memindahkan batu, dan menyiapkan barisan tanam. Bulan September hingga Desember, ia menanam rata-rata 100–250 bibit per hari, dari umbi hingga biji katak. Kini, total bibit yang ia tanam mencapai sekitar 30.000.

‎“Alhamdulillah, bibit tidak sulit didapat,” ungkapnya.

‎Edison mengatakan selain tumbuh alami di kebun, keluarga yang lebih dulu menanam porang secara sukarela memberikan bibit gratis, mulai dari umbi, biji katak, hingga anakan.

‎Pilihan Edison menanam porang bukan sekadar kebetulan. Rego Raya, menurutnya, tanahnya subur, sehingga perawatan tanaman relatif mudah. Selain itu, porang merupakan komoditas ekspor yang menjanjikan.

‎Pada 2025, harga umbi porang di Rego mencapai Rp14.000 per kilogram. “Porang juga unik. Kalau tidak dipanen saat musim ini, umbi dan biji katak akan tumbuh lagi musim berikutnya dan bahkan semakin besar. Tidak seperti kopi atau cengkeh yang kalau terlewat musim panen, hasilnya akan hilang,” ujarnya.

‎Fenomena budi daya porang di Rego Raya mulai dirasakan manfaatnya. Beberapa petani mampu membangun rumah, membeli kendaraan, bahkan menyekolahkan anak dari hasil panen porang.

‎Meski jumlah petani yang fokus penuh pada porang masih sedikit, tren penanaman meningkat pesat sejak 2025.

‎Edison pun menyiapkan undangan untuk Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena teman lamanya untuk meninjau kebun porangnya.

‎ “Waktu terbaik antara akhir Februari hingga awal Maret. Pak Gubernur sudah menyatakan kesiapan untuk berkunjung,” katanya.

‎Dari meja redaksi ke kebun, perjalanan Edison adalah refleksi perubahan hidup yang penuh perhitungan: lahan yang subur, bibit yang melimpah, dan peluang pasar yang menjanjikan.

‎Di Rego Raya, porang kini bukan sekadar tanaman tapi menjadi harapan baru bagi petani, dan kisah Edison menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin menapaki jalan baru.

Editor : Chellz