RUTENG — Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, kembali diguncang gempa bumi pada Jumat malam, 18 September 2026.

Guncangan yang terjadi pada malam hari tersebut cukup dirasakan warga. Sejumlah masyarakat yang berada di dalam rumah sempat panik dan memilih keluar rumah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya guncangan susulan.

Salah seorang warga Kota Ruteng, Sius Madi, mengatakan guncangan gempa terasa cukup jelas. Karena takut terjadi gempa yang lebih besar, ia bersama warga lainnya langsung keluar dari rumah.

“Saya rasakan guncangannya. Karena takut, saya langsung lari keluar rumah. Warga juga sempat panik dan keluar rumah,” kata Sius Madi.

Menurut Sius, kepanikan warga tidak terlepas dari pengalaman gempa besar yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga kini, masyarakat masih mewaspadai setiap guncangan yang kembali terjadi.

“Setelah gempa besar kemarin, setiap ada guncangan kami langsung waspada. Apalagi kalau terasa pada malam hari, pasti takut terjadi gempa susulan yang lebih besar,” ujarnya.

Berdasarkan informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, gempa yang terjadi sekitar pukul 21.08.58 WITA memiliki magnitudo 4,7

Episenter gempa berada pada koordinat 8,15 derajat Lintang Selatan dan 120,48 derajat Bujur Timur, atau sekitar 52 kilometer sebelah utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman sembilan kilometer.

BMKG menyampaikan informasi tersebut merupakan hasil pengolahan awal yang mengutamakan kecepatan sehingga parameter gempa masih dapat berubah seiring bertambahnya data.

Aktivitas kegempaan di wilayah Flores sendiri masih terus berlangsung setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.

BMKG sebelumnya mencatat gempa susulan di Flores mencapai ribuan kejadian. Hingga 8 September 2026 pukul 11.00 WIB, tercatat 13.591 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2. BMKG menyebut aktivitas tersebut merupakan rangkaian gempa susulan dari gempa utama M7,7.

Pada pertengahan September, sejumlah gempa kembali terjadi di sekitar utara Ruteng dan wilayah Flores lainnya. Gempa M4,9 pada 14 September, M4,7 pada 16 September, hingga gempa-gempa bermagnitudo lebih kecil kembali menambah kewaspadaan masyarakat.

BMKG menjelaskan gempa-gempa di kawasan Flores tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik, termasuk Flores Back-Arc Thrust. Untuk gempa-gempa yang telah dianalisis, BMKG juga menyatakan tidak berpotensi tsunami.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau mengalami kerusakan akibat gempa.

Masyarakat diminta mengikuti perkembangan aktivitas kegempaan melalui kanal resmi BMKG serta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi mengenai korban maupun kerusakan bangunan akibat gempa yang terjadi pada Jumat malam tersebut.**