JAKARTA — Indonesia hidup di atas salah satu kawasan tektonik paling aktif di dunia. Ancaman gempa bumi dan tsunami bukan sekadar kemungkinan teoritis, melainkan risiko geologi yang melekat pada posisi Indonesia di antara sejumlah lempeng tektonik aktif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan sistem subduksi Indonesia dalam sejumlah segmen sumber gempa. Dalam pemetaan BMKG, Indonesia memiliki 14 segmen subduksi yang berkaitan dengan aktivitas tektonik dan potensi gempa besar.
Sebagian wilayah menjadi perhatian karena memiliki catatan sejarah gempa besar yang relatif panjang atau dikenal sebagai seismic gap. Namun, para ahli menegaskan istilah tersebut bukan berarti gempa besar sedang menghitung mundur menuju waktu tertentu.
Kepala Laboratorium Geologi Dinamik Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan megathrust merupakan zona patahan sangat besar yang terbentuk di batas dua lempeng tektonik pada zona subduksi. Pada zona tersebut, satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
“Yang perlu dipahami masyarakat, megathrust bukan sesuatu yang baru muncul atau tiba-tiba terbentuk. Zona ini sudah ada selama jutaan tahun sebagai bagian dari sistem tektonik Indonesia,” kata Gayatri.
Salah satu sistem subduksi utama Indonesia membentang di sisi barat Sumatra hingga selatan Jawa dan berlanjut ke Bali serta Nusa Tenggara. Sistem subduksi lain juga terdapat di kawasan timur Indonesia.
Energi Terkunci di Bawah Laut

Gempa megathrust terjadi ketika tegangan tektonik yang terakumulasi pada bidang kontak antarlempeng dilepaskan secara tiba-tiba.
Lempeng tektonik terus bergerak beberapa sentimeter setiap tahun. Namun, sebagian bidang kontak antarlempeng dapat terkunci akibat gesekan. Pergerakan lempeng yang terus berlangsung kemudian menyebabkan deformasi dan penumpukan tegangan.
“Apabila tegangan yang terakumulasi sudah melampaui kekuatan gesekan pada bidang patahan, bagian yang terkunci tersebut dapat bergeser secara tiba-tiba. Pelepasan energi itulah yang menghasilkan gempa bumi,” ujar Gayatri.
Karena itu, menurut dia, tidak diperlukan “pemicu khusus” dari luar untuk membuat gempa megathrust terjadi.
Risiko terbesar muncul ketika pergeseran terjadi pada dasar laut dan menyebabkan perubahan vertikal dasar laut. Perubahan itu dapat menggerakkan kolom air dan memicu tsunami.
Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan istilah megathrust merujuk pada bidang naik yang sangat besar dengan pusat gempa dapat berada di bawah laut.
“Kalau naik itu di atasnya kan ada air. Jadi, air itu akan bergerak. Nah, bergeraknya ke segala arah, jadi akan sampai ke pesisir. Itu yang kemudian bisa menyebabkan tsunami,” kata Nuraini.
Ancaman dari gempa megathrust tidak berhenti pada guncangan.
Ancaman primer mencakup guncangan kuat dan surface rupture. Sementara ancaman sekunder dapat berupa tsunami, longsor, likuifaksi, hingga kebakaran.
“Kita bisa hidup berdampingan dengan fenomena megathrust, dan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kita memang harus hidup bersama dengan megathrust, apalagi kita berada di negara kepulauan,” ujarnya.
Seismic Gap Bukan Jam Hitung Mundur

Kawasan yang selama ini menjadi perhatian antara lain Selat Sunda, selatan Jawa, dan Mentawai. UGM mencatat kawasan tersebut memiliki seismic gap yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan skenario mitigasi.
Namun, seismic gap tidak dapat diterjemahkan sebagai kepastian bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Gayatri menegaskan beberapa segmen mendapatkan perhatian karena catatan sejarah menunjukkan wilayah tersebut relatif lama tidak mengalami gempa besar.
“Karena dimensinya luas, kita tidak dapat mengatakan bahwa ada satu ‘titik megathrust’ tertentu yang sedang menunggu pecah,” katanya.
“Seismic gap pun bukan jam hitung mundur. Ia membantu kita mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih dalam kajian bahaya dan mitigasi.”
Sejarah menunjukkan wilayah selatan Jawa bukan kawasan yang bebas dari gempa besar dan tsunami. Gempa Banyuwangi Selatan pada 1994 dan gempa Pangandaran pada 2006 menjadi contoh kejadian gempa besar yang disertai tsunami di kawasan tersebut.
Besar kecilnya kerusakan, kata Gayatri, juga tidak semata ditentukan magnitudo.
Jarak terhadap sumber gempa, kedalaman, arah propagasi rupture, kondisi geologi dan tanah setempat, kualitas bangunan, kepadatan penduduk, serta kesiapsiagaan masyarakat ikut menentukan tingkat dampak.
Gempa Flores Bukan Megathrust Selatan Jawa
Rentetan gempa yang terjadi di Indonesia belakangan ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan keterkaitannya dengan megathrust.
Di Nusa Tenggara Timur, gempa M7,7 mengguncang wilayah sekitar Mbay, Nagekeo, pada 15 Agustus 2026. BMKG mencatat episenternya berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami dan tsunami terukur di sejumlah lokasi, termasuk Labuan Bajo.
Namun, sumber gempa Flores tersebut berbeda dari megathrust selatan Jawa.
Gempa Flores berkaitan dengan Flores Back-Arc Thrust, sistem sesar naik di belakang busur kepulauan Nusa Tenggara. BMKG juga mengidentifikasi sejumlah gempa susulan di kawasan Flores sebagai bagian dari rangkaian gempa M7,7 tersebut.
Gayatri mengatakan gempa yang terjadi berdekatan dalam waktu tidak otomatis berasal dari sistem tektonik yang sama.
“Indonesia memang sangat aktif secara tektonik. Dalam satu periode kita dapat mengalami gempa dari Flores Back-Arc Thrust, sesar kerak dangkal, megathrust, maupun gempa intraslab,” katanya.
Gempa besar juga tidak otomatis berarti megathrust akan segera bergerak.
“Interaksi antargempa memang dapat terjadi dalam kondisi tertentu, tetapi harus dibuktikan melalui analisis perubahan tegangan dan hubungan struktur tektoniknya, bukan hanya karena waktunya berdekatan,” ujar Gayatri.
Banyaknya gempa yang terdeteksi belakangan ini juga tidak serta-merta menunjukkan aktivitas tektonik Indonesia mengalami peningkatan luar biasa.
Kemajuan jaringan pemantauan membuat gempa yang sebelumnya mungkin tidak terdeteksi kini dapat tercatat. Untuk menyimpulkan adanya peningkatan aktivitas tektonik, diperlukan analisis statistik terhadap katalog gempa dalam periode panjang dan berdasarkan masing-masing sumber tektonik.
Risiko Ada, Waktu Tak Bisa Dipastikan
Di sinilah persoalan megathrust harus ditempatkan secara proporsional.
Ilmu pengetahuan saat ini belum mampu menentukan secara akurat kapan gempa akan terjadi, di mana tepatnya episenternya, dan berapa besar magnitudonya. Kajian seismic gap merupakan dasar penyusunan skenario risiko, bukan ramalan waktu kejadian.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan kapan megathrust akan pecah, melainkan seberapa siap masyarakat dan pemerintah jika gempa besar benar-benar terjadi.
Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri, menilai Indonesia harus memperkuat investasi pada pencegahan dan mitigasi.
Indonesia, kata dia, tidak hanya membutuhkan kemampuan merespons bencana setelah terjadi, tetapi juga investasi sebelum bencana datang.
“Mengapa kita bersedia mengeluarkan biaya yang sangat besar setelah bencana terjadi, tapi masih ragu menginvestasikan sebagian dari sumber daya tersebut untuk mencegah kerugian? Kita sudah terlalu lama membayar setelah bencana,” ujar Avianto.
Persoalan Berikutnya: Uang untuk Mitigasi
Persoalan pendanaan menjadi salah satu tantangan dalam membangun ketangguhan bencana.
Dalam dokumen RAPBN 2026, pagu anggaran BNPB direncanakan Rp491 miliar. Dari angka tersebut, program ketahanan bencana tercatat Rp250 miliar, sementara dukungan manajemen sekitar Rp241 miliar.
Dokumen Kementerian Keuangan juga menunjukkan anggaran BNPB tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mitigasi. Penanggulangan bencana mencakup berbagai tahapan, mulai dari peningkatan ketangguhan masyarakat, manajemen keadaan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga logistik serta dukungan tata kelola.
Di sisi lain, Dana Siap Pakai memiliki fungsi berbeda karena digunakan untuk kebutuhan penanganan darurat ketika bencana terjadi.
Bagi Avianto, pola pendanaan tersebut perlu dibaca dalam konteks risiko Indonesia yang sangat besar.
BNPB memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana di Indonesia dapat mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun. Dalam kondisi seperti itu, investasi mitigasi menjadi bagian penting dari kebijakan pembangunan, bukan sekadar pengeluaran tambahan.
“Sebenarnya sudah ada berbagai studi, bahwa setiap investasi Rp1 untuk mitigasi bencana itu bisa menghemat Rp10,” kata Avianto.
Ia mendorong pemerintah mengalokasikan sumber daya yang lebih memadai untuk mitigasi, termasuk penguatan bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, jalur dan tempat evakuasi, edukasi masyarakat, pemetaan risiko, serta latihan kebencanaan.
Jangan Menunggu Gempa Datang
Ancaman megathrust tidak dapat dihilangkan. Posisi geografis Indonesia tidak memungkinkan masyarakat menghindar dari dinamika lempeng bumi.
Namun, besarnya korban dan kerugian bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh magnitudo gempa.
Bangunan yang memenuhi standar, tata ruang berbasis risiko, sistem peringatan dini, jalur evakuasi yang jelas, masyarakat yang terlatih, serta pembiayaan mitigasi yang konsisten dapat menentukan seberapa besar bencana berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
Pengalaman gempa Flores M7,7 pada Agustus 2026 kembali menunjukkan bahwa gempa besar dapat terjadi tanpa harus menunggu munculnya tanda yang dapat dipastikan manusia.
BMKG mencatat gempa tersebut berpotensi tsunami dan peringatan dini segera dikeluarkan. Setelahnya, ribuan gempa susulan tercatat di wilayah Flores.
Megathrust adalah bagian dari dinamika bumi yang berlangsung jauh lebih lama daripada umur manusia.
Yang berada dalam kendali manusia bukan kapan lempeng bergerak, melainkan seberapa siap manusia menghadapi akibatnya.
Karena itu, kajian ilmiah tentang megathrust semestinya tidak berhenti pada pertanyaan kapan gempa besar terjadi. Ukuran kesiapan justru terlihat dari apa yang dibangun pemerintah dan masyarakat sebelum gempa datang.


Tinggalkan Balasan