LABUAN BAJO – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menyampaikan apresiasi atas terpilihnya tiga event unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang resmi masuk dalam 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang ditetapkan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Tiga event tersebut yakni Festival Lamaholot di Kabupaten Lembata, Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari di Kabupaten Manggarai, serta Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Kabupaten Manggarai Barat. Secara khusus, Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Labuan Bajo kembali mencatat prestasi membanggakan dengan menembus Top 10 Karisma Event Nusantara 2026, untuk kali kedua.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy Marpaung, menilai capaian tersebut menjadi bukti kuat bahwa event pariwisata berbasis budaya, religi, dan kearifan lokal di NTT memiliki daya saing nasional.

“Masuknya tiga event NTT dalam 125 KEN 2026, serta terpilihnya Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara ke Top 10 nasional, menunjukkan kualitas penyelenggaraan event di NTT yang semakin matang, berdaya saing, dan memiliki nilai budaya yang kuat serta otentik,” ujar Andhy.

Pariwisata Religi Flores Berakar pada Spiritualitas dan Budaya Lokal

Festival Golo Koe, Labuan Bajo, NTT

Mengapresiasi peluncuran KEN 2026, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, Dr. Martin Chen, Pr., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan festival-festival religi hingga mampu diakui sebagai event nasional berkualitas.

Ia menegaskan bahwa Festival Golo Curu dan Festival Golo Koe memiliki kekhasan sebagai event religi yang berakar kuat pada spiritualitas devosi Kekatolikan Flores yang inklusif, berpadu dengan kekayaan budaya Manggarai dan digerakkan oleh semangat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Pariwisata holistik ini memadukan iman dengan pergumulan hidup sehari-hari, merangkai spiritualitas dengan denyut kultural, sosial, ekonomi, dan ekologi lokal,” ungkap Martin Chen.

Secara khusus, Festival Golo Curu Ruteng menampilkan prosesi tua Maria Ratu Rosari, yang menjadi ekspresi iman kolosal masyarakat Flores sekaligus menggaungkan pesan kolaboratif dalam pengembangan pariwisata religi.

“Selebrasi iman ini dipadukan dengan alam dan kearifan lokal, seperti kultur kopi dan tenun songke Manggarai, serta memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Event Budaya dan Religi Jadi Motor Ekonomi Daerah

Festival Lamaholot di Kabupaten Lembata dikenal sebagai perayaan budaya masyarakat Lamaholot yang sarat nilai tradisi, seni, dan ritual adat. Sementara Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari Manggarai menghadirkan kekayaan spiritual yang berpadu harmonis dengan seni dan budaya lokal.

Adapun Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Labuan Bajo telah berkembang menjadi event religi tahunan berskala nasional yang mampu menarik peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus memperkuat citra Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata budaya dan religi.

BPOLBF menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan event-event berkualitas di Flores sebagai bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan, peningkatan lama tinggal wisatawan, serta penggerak ekonomi lokal.

“Melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, komunitas, dan pelaku pariwisata, kami berharap event-event KEN ini memberi dampak nyata bagi masyarakat dan memperkuat positioning Flores sebagai destinasi pariwisata budaya dan religi unggulan Indonesia,” kata Andhy.

Ke depan, BPOLBF akan mendorong peningkatan kualitas kurasi event, pengemasan atraksi, serta promosi terpadu agar event-event di Pulau Flores semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

 

Editor : Chellz