LABUAN BAJO –Bukit Toto Ninu di kampung adat Rangat, Desa Wae Lolos  Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi sorotan publik. Bukit yang dikenal luas sebagai “Bukit Pers” itu kini terancam rusak akibat aktivitas alat berat Pemerintah Daerah.

Julukan Bukit Pers bukan tanpa alasan. Pada tahun 2013, Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB) bersama Dinas Kehutanan Manggarai Barat melakukan bakti penghijauan di kawasan tersebut. Para jurnalis menanam ratusan bibit pohon mahoni sebagai upaya mencegah longsor dan menjaga kelestarian bukit.

Upaya itu membuahkan hasil. Hingga kini, mahoni tumbuh subur dan menjadi pelindung alami lereng bukit yang juga menyimpan aset budaya dan religi, seperti Watu Toto Ninu, Gua Kristus Raja, dan Gua Maria. Karena nilai ekologis, budaya, dan spiritualnya, kawasan ini oleh insan pers Mabar telah didaulat sebagai kawasan yang harus dilindungi.

Jalan Putus Sejak 2017, Tak Pernah Diperbaiki

Ironisnya, sejak longsor pertama pada 2017, Pemda Manggarai Barat tidak pernah memperbaiki jalan aspal yang terputus di titik tersebut. Warga menyebut, dari masa kepemimpinan Bupati Gusti Dula hingga era Bupati Edi Endi, kondisi jalan dibiarkan terbengkalai.

“Petugas dari dinas PU datang berkali-kali, melihat, menjanjikan perbaikan, tapi semua tinggal janji,” ungkap Tokoh Adat Rangat Bernadus Barat Daya.

Alih-alih memperbaiki ruas jalan yang rusak, Pemda justru menggeser badan jalan semakin ke arah tebing. Langkah ini dinilai memperparah kondisi, karena pengikisan lereng dilakukan dengan alat berat.

Tembok Penahan Digusur, Longsor Terjadi Tiap Tahun

Bernadus menegaskan, longsor yang terjadi berulang kali bukan semata faktor alam. Penyebab utamanya adalah penggusuran tembok penahan tebing yang sebelumnya berfungsi menahan tanah.

“Beberapa tahun lalu, tembok penahan lama digusur alat berat dan dijadikan jalur jalan sementara. Sejak itu, setiap tahun tanah terus turun karena tidak ada lagi penahan,” kata Bernadus.

Akibatnya, longsoran terjadi berulang dan mengancam langsung situs budaya serta gua-gua religi yang berada di atas bukit.

Tolak Alat Berat, Warga Minta Situs Budaya Dilindungi

Alat berat di bukit Toto Ninu, Desa Rangat, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, Minggu, (25/1/2026)

Warga kampung adat Rangat menyatakan tidak lagi menuntut perbaikan jalan. Bukan karena menyerah, melainkan karena merasa jalan tersebut sudah tidak lagi menjadi prioritas Pemda.

“Tuntutan kami satu: hentikan perusakan bukit, gua, dan situs budaya kami, terutama dengan alat berat,” tegas Bernadus.

Bernadus mengungkapkan, dua Camat Sano Nggoang terdahulu, yakni Sipri dan Alfons, serta sejumlah staf Dinas PU, pernah diajak langsung ke lokasi untuk melihat kondisi riil dan potensi dampak buruk jika tebing terus digusur.

“Pejabat-pejabat itu tahu, tapi kini seperti lupa. Alat berat kembali dibawa masuk dan merusak aset kami. Ini tanggap darurat yang buta,” keluh Bernadus.

Harapan kepada Pers

Warga Rangat berharap Ketua PWMB yang baru, Sello Jome bersama mantan ketua Cheluz Phun bersama insan pers Manggarai Barat, dapat kembali menjalankan peran moralnya sebagai penyambung lidah rakyat kecil.

“Kami yang menjaga Bukit Pers ini sejak lama. Kami mohon media bersuara agar Bukit Toto Ninu tidak hilang karena kebijakan yang keliru,” tutup Bernadus.

 

Editor : Chellz