JAKARTA — Sebuah lukisan berjudul Kuda Api karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi perhatian dalam perayaan Imlek Partai Demokrat di Jakarta Theater, 18 Februari 2026. Lukisan tersebut dilelang di hadapan kader dan undangan yang mayoritas berasal dari komunitas Tionghoa.

Anggota Komisi III DPR RI, Benny K. Harman, menulis refleksi berjudul “Kuda Api, Pesan SBY untuk Bangsa”. Dalam tulisannya, Benny memaknai karya tersebut sebagai simbol tentang energi kekuasaan dan etika dalam kepemimpinan nasional.

“Di tengah politik yang semakin bising oleh opini instan dan emosi sesaat, sebuah lukisan justru berbicara dengan cara yang lebih tenang, namun lebih dalam,” tulis Benny.

Ia menyebut Kuda Api bukan sekadar karya seni, melainkan pernyataan simbolik tentang bagaimana energi kekuasaan dipahami, dikelola, dan diarahkan dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, seni kerap menjadi bahasa paling jujur bagi seorang negarawan ketika ruang politik dipenuhi perdebatan dan narasi yang saling berhadapan.

“Kuda Api hadir bukan untuk menjelaskan, bukan pula untuk mengoreksi, melainkan untuk mengajak merenung,” tulisnya lagi.

Dalam refleksinya, Benny memaknai kuda sebagai simbol daya gerak, perjalanan, dan ketangguhan. Api dilihat sebagai energi yang dapat menghangatkan sekaligus membakar. Ketika dua simbol itu disatukan, ia menilai terdapat pesan tentang kekuatan yang memerlukan kendali moral.

Ia kemudian mengaitkan metafora tersebut dengan kondisi Indonesia saat ini—bonus demografi, ambisi pertumbuhan ekonomi, percepatan teknologi, dan dinamika politik yang intens. Energi sosial yang besar, tulisnya, membutuhkan arah dan etika agar tidak berubah menjadi kegaduhan kolektif.

“T​anpa keberanian, Soekarno dan Hatta tidak pernah memproklamirkan Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945,” tulis Benny, merujuk pada Soekarno dan Mohammad Hatta. Namun ia menambahkan, keberanian yang tidak disertai pengendalian diri berpotensi melahirkan kerusakan sosial, politik, maupun institusional.

Bagi rakyat, lanjut Benny, api dalam lukisan tersebut bukan amarah, melainkan semangat kerja, daya tahan, dan optimisme. Ia menulis bahwa perubahan berkelanjutan lahir dari ketekunan dan kerja terorganisir, bukan dari ledakan emosi.

“Negara hadir bukan untuk memadamkan api rakyat, melainkan untuk mengaturnya agar menjadi tenaga pembangunan,” tulisnya.

Dalam konteks internal Partai Demokrat, Benny membaca lukisan itu sebagai pesan kepemimpinan lintas generasi. Politik, menurutnya, bukan semata soal merebut kekuasaan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dengan tanggung jawab moral.

“Ambisi politik adalah sesuatu yang sah, bahkan perlu. Tetapi ambisi yang dilepas tanpa kendali nilai justru akan menghanguskan legitimasi politik itu sendiri,” tulis Benny.

Ia juga menyinggung tradisi kepemimpinan SBY yang, menurutnya, memandang kekuasaan sebagai amanah. “Bergerak cepat, tetapi tidak tergesa; berani, tetapi tidak beringas; kuat, tetapi tetap beradab,” tulisnya menggambarkan metafora yang ia tangkap dari Kuda Api.

Di bagian akhir refleksinya, Benny menyebut lukisan tersebut sebagai alegori tentang etika energi dalam kepemimpinan bangsa. Dalam era politik digital yang serba cepat dan reaktif, ia menilai seni dapat menjadi medium perenungan.

“Pertanyaannya sederhana: untuk apa energi besar yang kita miliki ini digunakan?” tulis Benny.

Ia menutup tulisannya dengan menyebut Kuda Api bukan sekadar karya seni bernilai miliaran rupiah, melainkan cermin tentang pentingnya mengendalikan energi sebelum energi itu mengendalikan bangsa.

 

Editor : Chellz