Salah satu guru Enuma sedang membantu anak untuk memainkan tablet ( Foto ; Ignas Kunda)

 

Sore baru saja datang dengan udara sejuk di sekitar pepohonan rindang di halaman SDK Rega, sebuah sekolah dasar kecil di Kelurahan Rega, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Sekelompok anak duduk di depan beberapa  meja mungil yang tergabung menjadi satu di dalam kelas. Di tengah mereka, sebuah tablet berpindah tangan dari satu anak ke anak lainnya. Di bagian belakangnya sudah tercantum nama para siswa pengguna tablet. Dua siswa berbagi satu layar, masing-masing memakai headset. Sesekali terdengar suara permainan edukasi dari perangkat itu diikuti tawa kecil dan seruan kegembiraan ketika mereka berhasil menjawab soal.

Di sekolah ini, belajar tidak lagi hanya dari papan tulis dan buku. Selama tiga tahun terakhir, anak-anak di SDK Rega mengenal cara belajar baru melalui program Sekolah Enuma yang diinisiasi  Yayasan Plan International Indonesia dan The Head Foundation.

Sebanyak 30 siswa dari kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti program ini. Mereka belajar menggunakan 15 tablet, yang dipakai secara bergantian. Setiap tablet digunakan oleh dua siswa sekaligus.

Belajar Berkelompok dengan Teknologi

Suasana kelas terlihat berbeda dari biasanya. Anak-anak duduk dalam kelompok kecil, membuka tablet, lalu memilih mata pelajaran yang ingin mereka pelajari.

Dalam perangkat tersebut tersedia berbagai materi pembelajaran, mulai dari: Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Sistem belajar dirancang seperti permainan. Anak-anak harus melewati berbagai level untuk naik ke tahap berikutnya.

Untuk mata pelajaran matematika, misalnya, tersedia 32 level yang harus diselesaikan secara bertahap.

Di ruang belajar itu, ada tiga fasilitator dan satu operator yang mendampingi para siswa. Mereka adalah guru kelas 1, 2, dan 3 yang telah dilatih menggunakan sistem pembelajaran digital tersebut.

Dari Sulit Mengenal Huruf, Kini Bisa Mengeja

Guru kelas satu di sekolah tersebut, Theresia Ceme, mengatakan perubahan kemampuan membaca siswa cukup terasa sejak program ini berjalan.

Menurutnya, pada awal masuk sekolah banyak anak kelas satu yang masih kesulitan mengenal huruf.

“Dulu pengenalan huruf sebagian besar masih susah. Tapi setelah menggunakan tablet, mereka mulai bisa mengeja,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kemajuan anak terlihat cukup cepat. Bahkan dalam waktu sekitar dua bulan, beberapa siswa sudah mulai bisa membaca meski masih perlahan.

“Sekarang mereka sudah bisa membaca huruf dan suku kata,” ujarnya.

Kemampuan berhitung juga meningkat. Sebelumnya banyak siswa masih kesulitan mengenal angka.

“Sebelum ada tablet, mereka masih lambat menghitung. Sekarang sudah bisa sampai angka 100,” kata Theresia.

Belajar Bahasa Inggris dari Permainan

Selain membaca dan berhitung, anak-anak juga mulai mengenal bahasa Inggris.

Meski masih tahap dasar, siswa sudah mulai memahami beberapa kata sederhana.

“Untuk bahasa Inggris mereka sudah mulai mengenal angka sampai sepuluh,” kata Theresia.

Beberapa kata sapaan juga mulai familiar bagi para siswa.

“Kalau diajak menyapa seperti morning, mereka sudah sedikit bisa,” tambahnya.

Menariknya, penggunaan gawai di sekolah tetap dibatasi dengan ketat. Menurut Theresia, para siswa tidak diperbolehkan bermain ponsel di rumah.

“Di rumah mereka dilarang bermain game atau menggunakan HP orang tua. HP hanya boleh dipakai kalau ada tugas dari sekolah,” jelasnya.

Sistem Level yang Membuat Anak Termotivasi

Operator program Sekolah Enuma di SDK Rega, Konradus Ajo, menjelaskan bahwa setiap siswa memiliki akun belajar masing-masing. Di sekolah ini tersedia lisensi untuk 30 siswa. Pada awal program berjalan, jumlah perangkat masih terbatas.

“Awalnya hanya ada 10 tablet, lalu ditambah headset dan perangkat lainnya,” kata Konradus.

Seiring waktu, perkembangan kemampuan siswa juga terlihat dari peningkatan level yang mereka capai.

Menurutnya, bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang paling cepat meningkat.

“Yang tertinggi sudah sampai level 12, itu level pemantapan,” ujarnya.

Untuk beberapa siswa, capaian level bahkan cukup tinggi: Bahasa Indonesia: jenjang 8 level 21, Matematika: jenjang 8 level 21, Bahasa Inggris: jenjang 12 level 25.

Namun perkembangan bahasa Inggris masih relatif lebih lambat dibanding mata pelajaran lainnya.

Jadwal Belajar yang Bergantian

Agar semua siswa bisa menggunakan perangkat secara merata, sekolah membuat jadwal khusus untuk setiap kelas.

Guru kelas dua, Angelina Lali Meo, menjelaskan bahwa setiap kelas mendapat giliran belajar dua kali dalam seminggu. Jadwalnya dibagi sebagai berikut: Kelas 1: Senin dan Kamis, Kelas 2: Selasa dan Jumat, Kelas 3: Rabu dan Sabtu. Setiap sesi belajar berlangsung sekitar 90 menit.

Dalam kelas tersebut, anak-anak bebas memilih mata pelajaran yang ingin mereka pelajari.

“Mereka bisa buka tablet, lihat nama mereka, klik, lalu pilih mata pelajaran yang mereka mau,” kata Angelina.

Menariknya, kemampuan siswa tidak selalu mengikuti jenjang kelas.

“Bahkan ada anak kelas satu yang levelnya bisa sama dengan kelas tiga,” ujarnya.

Belajar Sambil Bermain

Bagi para siswa, belajar melalui tablet terasa seperti bermain.

Seorang siswa kelas satu bernama Jesi mengatakan ia paling menyukai pelajaran bahasa Indonesia di tablet.

“Bahasa Indonesia sudah level 5,” katanya.

Namun untuk matematika dan bahasa Inggris, ia masih berada di level awal.

“Masih level satu,” ujarnya.

Sementara itu, siswa kelas dua Sandra justru menyukai matematika.

Ia mengatakan penjumlahan menjadi bagian yang paling menyenangkan.

“Saya senang matematika karena ada permainan, jadi lebih mudah mengerti,” katanya.

Sandra mengaku sudah mencapai beberapa level berbeda: Bahasa Indonesia: level 15, Matematika: level 10, Bahasa Inggris: level 8. Namun tidak semua level mudah dilewati.

“Level sembilan matematika susah, terutama pengurangan tiga angka,” katanya sambil tersenyum.

Harapan dari Sebuah Layar Kecil

Seorang siswa sedang bermain dengan menggunakan tablet pada kelas Enuma di SDK Rega Boawae ( Ignas Kunda)

Di sekolah kecil di Desa Rega ini, tablet bukan sekadar perangkat elektronik. Ia menjadi jembatan baru bagi anak-anak untuk mengenal dunia belajar dengan cara berbeda.

Melalui permainan sederhana di layar kecil, mereka belajar mengeja kata, menghitung angka, dan mengenal bahasa asing.

Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di banyak daerah pedesaan di Nusa Tenggara Timur, upaya seperti ini memberi harapan baru: bahwa teknologi, jika digunakan dengan tepat, bisa membuka pintu belajar yang lebih luas bagi anak-anak.

Di ruang kelas SDK Rega, setiap klik pada layar tablet bukan hanya langkah menuju level berikutnya tetapi juga langkah kecil menuju masa depan yang lebih terang.