
Paket pekerjaan jalan Mauponggo – Ngera – Puuwada yang menui protes beragam dari warga masyarakat sampai meminta penegak hukum untuk turun karena belum sebulan digunakan telah rusak mendapat tanggapan dari pejabat pembuat komitmen (PPK) ruas jalan tersebut.
Ricard Manukoa, PPK proyek jalan Mauponggo – Ngera – Puuwada ketika dikonfirmasi Media Indonesia soal kualitas pekerjaan mengatakan semua kerusakan sudah diperbaiki untuk dua paket pekerjaan pada ruas jalan yang sama. Dua paket pkerjaan tersbut kini masuk dalam tahap pemeliharaan. Soal kualitas pekerjaan Richard menghimbau masyarakat tidak perlu takut karena pekerjaan tersebut sudah melalui pemeriksaan BPK dan pendampingan oleh kejaksaan tinggi.
“ Semua sudah diperbaiki, tidak usah takut nanti ada pemeriksaan lab, dan setelah lebaran ada audit dari BPKP untuk semua IJD, “ kata Ricard.
Ruas jalan Mauponggo – Negara – Puuwada merupakan salah satu ruas jalan penghubung antara Kecamatan Mauponggo dan Keo Tengah dengan melewati 5 desa dengan jumlah penduduk sekitar 7 ribu jiwa yang sejak Indonesia merdeka sangat merindukan jalan.
Lataston – Lapis Aus (HRS-WC) menjadi pilihan untuk permukaan akhir badan Jalan, serta Utamakan Keselamatan dan Ketahanan
Berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga Penggunaan lapisan aspal beton jenis Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC) semakin banyak diterapkan dalam proyek pembangunan dan pemeliharaan jalan di berbagai daerah secara khusus dalam Paket Pekerjaan Inpres Jalan Daerah (IJD). Lapisan ini dikenal sebagai lapis aus, yaitu bagian paling atas dari perkerasan jalan yang langsung bersentuhan dengan lalu lintas kendaraan.
Dalam praktik konstruksi jalan hotmix, Lataston – Lapis Aus (HRS-WC) memiliki peran penting sebagai pelindung struktur di bawahnya sekaligus memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi pengguna jalan. Campuran HRS-WC dirancang dengan gradasi senjang, yakni kombinasi agregat kasar dan halus yang tidak menerus, sehingga menghasilkan tekstur permukaan yang lebih kasar dibandingkan jenis aspal lainnya.
Karakteristik tersebut membuat HRS-WC memiliki tingkat kekesatan tinggi, sehingga mampu mengurangi risiko selip, terutama pada kondisi jalan basah atau saat hujan. Selain itu, kandungan aspal yang relatif lebih tinggi menjadikan lapisan ini lebih kedap terhadap air, sehingga dapat melindungi lapisan fondasi dari kerusakan akibat infiltrasi air.
Proses penerapan Lataston – Lapis Aus (HRS-WC) di lapangan dimulai dari persiapan permukaan jalan yang harus bersih dan kering, kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan lapis perekat atau tack coat pada Lapis Pondasi Agregat Kelas A. Campuran aspal diproduksi di Asphalt Mixing Plant (AMP) dengan suhu terkontrol agar material tercampur homogen sesuai spesifikasi teknis .
Selanjutnya, campuran dihampar menggunakan alat asphalt finisher dengan ketebalan relatif tipis, umumnya sekitar 3 hingga 5 sentimeter. Tahap pemadatan dilakukan secara bertahap menggunakan berbagai jenis alat berat untuk mencapai kepadatan optimal dan memastikan daya ikat antar material.
Para praktisi konstruksi menilai bahwa keunggulan utama Lataston – Lapis Aus (HRS-WC) terletak pada fleksibilitasnya yang lebih tinggi dibandingkan campuran aspal konvensional. Hal ini membuatnya lebih tahan terhadap retak akibat perubahan suhu maupun beban lalu lintas yang dinamis.
Meski demikian, HRS-WC dinilai kurang optimal untuk menahan beban kendaraan berat dalam jangka panjang jika dibandingkan dengan jenis aspal beton bergradasi semi-senjang. Oleh karena itu, penggunaannya lebih banyak diaplikasikan pada jalan perkotaan, kawasan dengan curah hujan tinggi, serta proyek pelapisan ulang (overlay).
Dengan kombinasi keunggulan pada aspek keselamatan, ketahanan terhadap air, dan kemudahan aplikasi, HRS-WC menjadi salah satu pilihan utama dalam meningkatkan kualitas permukaan jalan, khususnya di wilayah dengan kondisi lingkungan yang menantang.
Perbedaan Campuran Agregat Kelas A dan B Jadi Kunci Kualitas Jalan
Pekerjaan konstruksi jalan tidak hanya bergantung pada lapisan aspal di permukaan, tetapi juga sangat ditentukan oleh kualitas lapis pondasi agregat di bawahnya. Dua jenis yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Lapis Pondasi Agregat (LPA) Kelas A dan Kelas B. Perbedaan komposisi keduanya terbukti berpengaruh langsung terhadap kekuatan dan daya tahan jalan.
Dalam praktik di lapangan, campuran agregat disusun dari beberapa material utama seperti Agregat Kasar (batu pecah) dan Agregat Halus (pasir dan abu batu). Proporsi ketiga material ini menentukan gradasi atau distribusi ukuran butiran, yang menjadi faktor utama dalam menentukan kepadatan dan kekuatan lapisan.
Untuk Lapis Pondasi Atas (LPA) Kelas A, yang digunakan sebagai lapisan Pondasi atas, komposisi campuran umumnya lebih seimbang antara agregat kasar dan halus. Sebagai contoh, campuran dapat terdiri dari 70 persen batu pecah serta 30 persen pasir dan abu batu. Dengan komposisi ini, gradasi yang dihasilkan cenderung rapat sehingga mudah dipadatkan dan memiliki daya dukung tinggi. Hal ini menjadikan Lapis Pondasi Agregat Kelas A ideal sebagai lapisan yang langsung menerima beban dari perkerasan jalan di atasnya.
Sebaliknya, Lapis Pondasi Agregat Kelas B yang digunakan sebagai lapisan fondasi bawah memiliki komposisi yang lebih kasar. Campuran umumnya terdiri dari 60 persen batu pecah, dan 40 persen pasir dan abu batu. Kandungan agregat halus yang lebih sedikit membuat lapisan ini memiliki drainase yang lebih baik, meskipun tingkat kepadatannya tidak setinggi Kelas A.
Perhitungan campuran dilakukan berdasarkan hasil dari Job Mix Formula (JMF) dengan metode rata-rata tertimbang, yaitu mengalikan persentase setiap material dengan nilai analisa lolos saringan masing-masing, kemudian dijumlahkan. Metode ini digunakan untuk memastikan gradasi campuran memenuhi spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Perbedaan karakteristik kedua jenis agregat ini juga terlihat pada hasil akhir di lapangan. Lapis Pondasi Agregat Kelas A menghasilkan lapisan yang lebih padat, kuat, dan stabil, sedangkan Lapis Pondasi Agregat Kelas B berfungsi sebagai lapisan pendukung yang membantu menyebarkan beban ke tanah dasar.
Para praktisi konstruksi menekankan bahwa kesalahan dalam menentukan komposisi campuran dapat berdampak serius terhadap umur layanan jalan. Campuran yang terlalu halus dapat menyebabkan lapisan menjadi mudah jenuh air, sementara campuran yang terlalu kasar akan sulit dipadatkan dan kurang stabil.
Oleh karena itu, pengendalian kualitas melalui pengujian gradasi, kadar air optimum, serta pemadatan di lapangan menjadi langkah penting dalam memastikan hasil pekerjaan sesuai standar. Dengan perencanaan campuran yang tepat, konstruksi jalan tidak hanya lebih kuat, tetapi juga lebih tahan lama dan efisien dalam biaya pemeliharaan.
Ahli Soroti Penggunaan Latasir, Dinilai Tidak Memperkuat Struktur Jalan Hotmix
Seorang sumber dari Media Indonesia yang berpengalaman dalam konstruksi jalan aspal hotmix menyoroti penggunaan lapisan tipis aspal pasir (latasir) dalam sejumlah proyek jalan. Menurutnya, metode tersebut kerap disalah pahami sebagai perbaikan struktural, padahal secara teknis hanya berfungsi menutup permukaan aspal yang kasar bukan menerima beban kendaraan.
“Pekerjaan latasir seperti ini hanya untuk menutup pori-pori aspal yang kasar atau retak rambut, bukan untuk memperkuat konstruksi badan jalan,” ujarnya.
Ia juga mengkritik kurangnya transparansi dalam pelaksanaan proyek, terutama terkait dokumentasi kondisi awal. Menurutnya, laporan pekerjaan sering kali hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan kondisi sebelum pekerjaan dimulai.
“Mereka tidak memaparkan kondisi nol sebelum kerja, hanya mengirim kondisi yang sudah 100 persen selesai,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk kondisi jalan seperti yang diberitakan sebelumnya, seharusnya pekerjaan dimulai dari lapisan dasar yang kuat. Tahapan ideal mencakup penggunaan pondasi agregat kelas A yang dipadatkan hingga mencapai sekitar minimal 98 persen kepadatan, sebelum dilanjutkan dengan penghamparan lapis aus berupa Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC).
Dalam perencanaan proyek tersebut, disebutkan bahwa lapisan aspal memang hanya dirancang satu lapis, yakni HRS-WC. Oleh karena itu, kualitas pekerjaan pada lapis pondasi agregat menjadi faktor krusial dalam menjamin ketahanan jalan.
“Kalau pondasi tidak dikerjakan dengan baik, maka lapisan aspal di atasnya akan rentan rusak,” jelasnya.
Secara teknis, ia menambahkan bahwa dalam konstruksi jalan yang ideal, sebelum lapisan HRS-WC seharusnya digunakan lapisan dasar aspal seperti HRS-Base. Namun, berdasarkan petunjuk teknis dari pemerintah pusat, beberapa proyek langsung menggunakan HRS-WC tanpa lapisan tersebut, sehingga pelaksanaan di lapangan mengikuti desain yang telah ditetapkan.
Meski demikian, metode tersebut dinilai masih dapat diterapkan jika kondisi tanah dasar cukup stabil. Alternatif lain adalah dengan menggunakan urugan atau timbunan pilihan pada lapisan dasar sebelum pemasangan agregat.
Untuk proyek-proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), praktik yang lebih umum dilakukan adalah konstruksi berlapis. Dimulai dari timbunan pilihan, dilanjutkan agregat kelas B, agregat kelas A, dan kemudian dilapisi aspal sebagai lapisan akhir.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa kualitas jalan tidak hanya ditentukan oleh lapisan permukaan, tetapi juga oleh kekuatan struktur di bawahnya. Tanpa konstruksi yang sesuai standar, perbaikan permukaan seperti latasir dinilai tidak akan mampu memberikan solusi jangka panjang.


Tinggalkan Balasan