
Rasa peduli atas kondisi pendidikan di NTT, Wilfridus Ebit Yons, Wakil Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia menggaransi kan diri untuk berjuang menjadikan SMAK St. Yohanes Baptista Wolosambi, salah satu sekolah negeri Katolik di Nagekeo. Pernyataan itu disampaikan ketika Yons Ebit menyambangi sekolah tersebut pada Jumat (8/5).
Siang terik di bawah gereja Yohanes Baptista Wolosambi, Ebit Yons dengan sosok tubuh langsing penuh senyum mulai menyapa dengan penuh hormat para siswa dan para guru, serta tokoh adat di Wolosambi, Desa Sawu. Salah satu alumni Seminari Mataloko lalu disambut dengan hangat para tokoh masyarakat dengan pengalungan selendang adat serta tarian ja’i menuju ruangan diskusi.
Menurut Yunius Sirilus Sugi Meko, Kepala Sekolah SMAK ( Sekolah Menengah Atas Katolik), sekolah tersebut sudah berdiri selama 10 tahun dibawah Kementrian Agama dengan kondisi yang sangat menghawatirkan. Fasilitas belajar buat siswa sangat terbatas. Beberapa sarana dan prasarana seperti gedung masih dalam kondisi belum selesai dikerjakan karena keterbatasan anggaran. Ia menuturkan akibat efisiensi anggaran bangunan sekolah masih dalam kondisi darurat hanya menggunakan baja ringan.
Selain itu menurut Sirilus, tanah sekolah ini sudah dihibahkan oleh keuskupan sehingga sangat mengharapkan bantuan agar bisa me-negerikan sekolah ini.
” Sekolah ini mendapat rekomendasi dari bapa Uskup. Sehingga dengan kehadiran Bapak Ebit yang dengan rendah hati kami mohon dukungan banyak dari bapak Ebit Yons agar bisa membantu me-negerikan SMAK ini, ” ungkapnya.
Dalam diskusi rileks yang penuh senda gurau Wilfridus Ebit Yons mengatakan ia merasa sudah menjadi bagian dari keluarga di Wolosambi, Sawu ini sehingga dengan kerendahan hati ia menggarasikan diri sebagai bagian dari anggota keluarga yang berjuang agar sekolah ini bisa di-negerikan.
” Saya sudah juga bagian dari keluarga ini.
Saya memggarasikan diri untuk berjuang yang menjadi harapan bapak ibu. Saya juga datang dari kampung. Saya nanti menghadap dirjen bimas Katolik, dan semoga saya bisa bawa proposal dari sini. ” Kata mantan Frater asal Sikka itu dengan berlinang air mata.
TERBIASA HIDUP DENGAN KAUM TERMARJINALKAN
Bagi Yons, dalam pendidikan ia mengemban tugas dari Presiden Prabowo agar anak muda jadi pemimpin pewaris generasi masa depan.
Berkat pendidikan di Seminari dan membiara Xaverian, Yons mengisahkan ia juga pernah hidup di kelompok miskin dan marginal. Ia lebih memilih hidup tinggal bersama kelompok tersisihkan di rel kereta api. Ia juga mengalami hidup dengan orang di rel kereta api. Kemudian di Bantar Gebang hidup bersama para pemungut sampah. Ia juga mengais sampah. Lalu hidup bersama di kampung nelayan dengan segala kemiskinan dengan mengumpulkan keran atau kijing. Lalu hidup bersama orang penyakit kusta melayani para orang sakit dan memberi mereka makan. Kemudian hidup bersama dan merawat para jompo 96 orang di Jakarta dengan merawat. Pergulatan cukup panjang itu sehingga ia harus keluar dari hidup membiara. Dengan bekal itu ia mulai belajar lewat organisasi agar bisa membantu orang-orang termarjinalkan ini. Perjuangan untuk para buruh lewat may day. Ia akhirnya dipilih oleh Presiden Prabowo pada 2009 dalam 100 mahasiswa berprestasi.
Ebit mengungkapkan sebagai anak yang juga berasal dari kampung ia tidak serta merta lupa diri walaupun telah menduduki beberapa jabatan seperti Komisaris dan tinggal di Ibu Kota Negara. Ia akan selalu ingat bahwa dengan pendidikan yang baik akan melahirkan generasi tangguh.
BANTU ORANG DARI KETERBATASAN
” Saya tidak pernah lupa. Saya tidak bangga jadi Komisaris, bila kita serius untuk belajar maka negara ini punya cara. Saya bersyukur. Saya ingin menjawab harapan bapak mama semua, ini panggilan hati nurani,
Pimpinan macam kita ini kalau bantu orang tunggu dulu sampai kaya untuk apa. Kalau ada jabatan bantu orang itu tanggung jawab moral. Jadi kita dari keterbatasan kita harus bisa bantu orang. Orang tua kita punya mimpi yang sederhana. Kita jadi orang baik, itu paling penting, Kalau ketemu orang besar dan hanya mau ambil untung buat apa? Saya tidak pernah ambil uang kalau demo, pemimpin yang tangguh tidak lahir dari kenyamanan, ” ungkap anak asuh Prabowo tersebut.
Ebit menambahkan menjadi sebuah kebanggaan bisa sampai ke tempat ini. Partai hanya kendaraan, orang akan mudah bisa melupakan. Bagi Ebit hukum alam yang paling tinggi adalah kemanusiaan. Bicara kemanusiaan harus bisa saling tolong menolong, peduli, serta saling menjaga yang menjadi kompas panduan kita bersama.
” Partai hanya kendaraan macam oto kalau lewat kita mudah lupa, tapi yang paling penting adalah kemanusiaan, hati nurani kita karena saya juga pernah hidup dengan orang termarjinalkan dan saya tidak mungkin akan mudah lupa, ” pungkas Ebit.
Hadir pula dalam kesempatan itu Rispan Jogo Ketua Tani Mardeka Kabupaten Nagekeo, Kepala Desa Sawu Wilfridus Ndona.
Ripi Koro pengurus komite SMAK, mengatakan sangat berharap atas bantuan untuk menjadikan sekolah ini dinegerikan agar bisa banyak bantuan dari pemerintah yang selama ini hanya bisa berharap pada belas kasih kementrian agama.
Menurut warga sekolah ini dapat berdiri dari usulan 12 stasi yang menginginkan harus ada SLTA Katolik di Nagekeo.


Tinggalkan Balasan