BORONG – Krisis air bersih yang berlangsung selama puluhan tahun masih membayangi kehidupan 170 warga di Dusun Kajuata, Desa Golo Lebo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga kini, warga harus menempuh perjalanan sejauh dua kilometer untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-hari.

Sebanyak 48 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut terpaksa mengandalkan sumber mata air yang jauh dari permukiman. Untuk memperoleh air minum dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, warga harus berjalan kaki sambil memikul jeriken melewati medan terjal dengan tanjakan dan turunan yang berbahaya.

Kesulitan itu semakin berat saat musim hujan. Jalan yang berlumpur dan licin membuat perjalanan menuju sumber air menjadi lebih berisiko, terutama bagi warga yang harus bolak-balik mengangkut air untuk kebutuhan keluarga.

Lukas Lajar, warga Dusun Kajuata, menjadi salah satu warga yang diharapkan dapat menyampaikan langsung pengalaman masyarakat menghadapi krisis air bersih tersebut. Persoalan yang berlangsung lintas generasi ini membutuhkan penanganan serius agar warga tidak terus terbebani oleh sulitnya memperoleh kebutuhan dasar.

Sementara itu, Remi Ngajang juga menjadi narasumber penting untuk menjelaskan kondisi akses air bersih di Dusun Kajuata, termasuk kesulitan warga menjangkau sumber mata air dan harapan mereka terhadap langkah konkret pemerintah.

Catatan: Pernyataan langsung Lukas Lajar dan Remi Ngajang perlu dilengkapi berdasarkan wawancara asli agar kutipan yang diterbitkan sesuai dengan ucapan mereka.

Dua Sekolah Ikut Terdampak

Krisis air bersih tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat di lingkungan rumah tangga, tetapi juga berdampak pada sektor pendidikan. Dua lembaga pendidikan, yakni SMP Negeri 12 Elar dan SDK Kai, berada di wilayah yang menghadapi persoalan serupa.

Keterbatasan akses air berpotensi menyulitkan pemenuhan kebutuhan air minum, kebersihan lingkungan, dan sanitasi sekolah. Padahal, ketersediaan air bersih menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa krisis air di Dusun Kajuata bukan sekadar persoalan infrastruktur. Masalah tersebut berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, produktivitas ekonomi keluarga, serta pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak di lingkungan pendidikan.

Warga Menanti Langkah Konkret Pemerintah

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur segera turun langsung ke Dusun Kajuata untuk melihat kondisi yang dihadapi warga sekaligus merumuskan solusi yang berkelanjutan.

Sejumlah pilihan penanganan dapat dipertimbangkan, mulai dari pembangunan jaringan perpipaan, pengeboran sumur berdasarkan kajian teknis, hingga penyediaan bak penampungan air bersih yang dapat menjangkau kebutuhan rumah tangga dan sekolah.

Namun, penanganan tidak cukup hanya dengan membangun sarana fisik. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan sumber air, kualitas air yang memenuhi standar kesehatan, serta sistem pemeliharaan agar fasilitas yang dibangun dapat digunakan dalam jangka panjang.

Warga juga mengharapkan dukungan Pemerintah Provinsi NTT apabila penanganan krisis air tersebut membutuhkan koordinasi lintas kewenangan dan dukungan pembiayaan.

Hingga informasi ini dihimpun, belum terdapat keterangan mengenai solusi permanen yang telah diterapkan untuk mengatasi krisis air bersih di Dusun Kajuata. Warga masih bergantung pada sumber mata air yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman.

Kebutuhan Dasar yang Tak Bisa Terus Ditunda

Pengalaman warga Kajuata menggambarkan beratnya kehidupan masyarakat ketika akses terhadap air bersih belum terpenuhi. Waktu dan tenaga yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja, beristirahat, dan mendampingi anak belajar justru tersita untuk mencari air.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur perlu menjadikan persoalan ini sebagai prioritas pelayanan dasar, dengan melakukan verifikasi lapangan, memetakan kebutuhan warga, serta menetapkan rencana pembangunan beserta target pelaksanaannya.

Bagi 170 warga Dusun Kajuata, tersedianya air bersih bukan sekadar harapan untuk memperoleh kemudahan hidup. Akses air yang layak merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

Setelah puluhan tahun menghadapi kesulitan, warga membutuhkan lebih dari sekadar janji. Mereka menanti solusi nyata agar air bersih dapat diakses dengan aman tanpa harus menempuh medan ekstrem setiap hari.**