Lombok – Kementerian Ekonomi Kreatif RI (Kemenkraf) mendukung komunitas perempuan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi penggerak ekonomi kreatif di kawasan Nusa Tenggara. Kemenkraf ingin komunitas perempuan sebagai motor penggerak ekonomi kreatif nasional yang dimulai dari daerah.

” 80 persen pelaku usaha dengan skala menengah ke bawah di Indonesia digerakkan oleh perempuan, ini artinya keberadaan perempuan dalam sektor ini sangat strategis,” jelas Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar saat menghadiri Creative Talk bersama komunitas, Lombok Womenpreneur Club (LWC) di Acibara Coffee, Lombok, Sabtu, ( 09/05/2025).

Pertemuan pegiat Ekraf yang bertajuk ‘Menuju Insan Lombok yang Makin Kreatif dan Inspiratif’ itu menjadi ruang berbagi perspektif pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi kreatif.

Pada kesempatan itu, Wamenekraf juga memperkenalkan Ekraf Hunt, sebuah inisiatif dari Kementerian Ekraf yang berbasis digital untuk mendata dan mempromosikan pelaku ekonomi kreatif daerah.

“Tujuannya mencari dan menampilkan pegiat ekraf tersembunyi di berbagai daerah, menjodohkannya dengan kolaborator potensial dan akhirnya mengangkatnya ke level yang lebih tinggi. Pegiat ekraf dapat mengunggah portofolio secara mandiri melalui sistem yang terintegrasi karena Kemenekraf memiliki visi pertumbuhan ekonomi di mulai dari daerah,” jelas Irene.

Selain itu, Wamenekraf juga memaparkan berbagai kolaborasi dan program pendukung dari lintas kementerian, mulai dari akses pendanaan melalui Koperasi Merah Putih, jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan, hingga fasilitas hunian bagi pelaku ekraf yang disediakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan cicilan terjangkau.

“Melalui kolaborasi dan gotong royong, kita tidak hanya membangun perekonomian keluarga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional menuju pasar global,” tegasnya.

Sedangkan Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, menjelaskan kualitas produk menjadi faktor penting dalam pengembangan usaha. Ia menekankan pentingnya proses inkubasi agar pelaku usaha mendapatkan masukan demi peningkatan mutu produk.

“Kami juga memiliki program seperti ‘Emak-Emak Matic’ yang bisa diikuti melalui kanal resmi Kemenekraf di media sosial,” ujarnya.

Lombok Womenpreneur Club (LWC)

LWC sendiri merupakan komunitas wirausaha perempuan milenial yang berdiri sejak 20 April 2019 silam. Saat ini, komunitas tersebut memiliki lebih dari 700 anggota yang bergerak di berbagai subsektor, seperti kuliner, fesyen, dan kriya. LWC tumbuh menjadi salah satu komunitas paling aktif dan produktif di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Pendiri LWC, Indah Purwanti, menegaskan apresiasinya atas kehadiran Kementerian Ekraf yang langsung mendengar kebutuhan dan permasalahan yang ada di daerah.

“Harapannya, program-program yang ada jadi bisa diakses secara luas dan menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan,” tuturnya.**

 

Editor : Chellz