LABUAN BAJO — Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kepemanduan yang diselenggarakan oleh DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Manggarai Barat resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari. Penutupan ini menandai tahap awal peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pramuwisata di destinasi super prioritas tersebut.
Dalam penutupan kegiatan, seluruh peserta menerima sertifikat serta Kartu Tanda Anggota (KTA) HPI sementara yang berlaku hingga kartu resmi diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HPI. Kartu tersebut menjadi legitimasi awal bagi para peserta untuk menjalankan aktivitas kepemanduan secara resmi.
Selama mengikuti Diklat, peserta mengaku memperoleh berbagai pengetahuan penting, mulai dari teknik kepemanduan, interpretasi wisata, hingga wawasan tentang potensi pariwisata Labuan Bajo, Flores, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua Panitia Diklat, Vincentius Mutar, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas antusiasme mereka sejak tahap seleksi hingga pelaksanaan pelatihan. Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan yang telah mendampingi kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti seluruh proses dengan baik. Kami juga mengapresiasi dukungan penuh dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Menariknya, prosesi penutupan Diklat dilakukan dengan sentuhan adat, yang mencerminkan kekayaan budaya lokal Manggarai Barat.
Ketua DPC HPI Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi fokus utama organisasi. Ia menyoroti tingginya pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Manggarai Barat, dengan Taman Nasional Komodo sebagai magnet utama.
“Pada tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan telah mencapai lebih dari setengah juta orang. Ini adalah peluang besar bagi pramuwisata untuk berkembang dan berkontribusi pada pengentasan kemiskinan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Diklat ini merupakan langkah awal, dan ke depan akan dilanjutkan dengan berbagai pelatihan lanjutan guna meningkatkan kompetensi pramuwisata. Selain itu, pihaknya mendorong adanya fasilitasi ujian kompetensi sebagai langkah penting dalam standarisasi profesi.
“Kami berharap ada dukungan pemerintah untuk memfasilitasi uji kompetensi, karena ini menjadi hal yang sangat urgen untuk memastikan kualitas pramuwisata ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat, Stefan Jemsifory, menegaskan HPI merupakan mitra strategis pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata.
“Kami akan terus mendorong pelatihan dan penguatan SDM pariwisata agar Manggarai Barat semakin siap menjadi destinasi unggulan,” ujarnya.
Testimoni peserta juga menunjukkan dampak positif dari kegiatan ini. Lia Oktaviana mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang organisasi dan profesi pramuwisata.
“Selama tiga hari ini kami belajar banyak. Materi yang diberikan sangat mudah dipahami dan menambah keyakinan kami untuk menjadi pramuwisata profesional,” katanya.
Hal senada disampaikan Metodelius Yendi Pederson yang mengaku pelatihan ini membuka wawasan dan menutup kekurangan yang selama ini dirasakan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan baru yang akan menjadi bekal dalam menjalankan profesi ke depan,” ujarnya.
Dengan berakhirnya Diklat ini, diharapkan para peserta mampu menjadi pramuwisata yang profesional, berkompeten, dan siap mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Manggarai Barat.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan