LABUAN BAJO– Tokoh masyarakat Kampung Rangat, Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Bernadus Barat Daya, secara tegas meminta Pemerintah Daerah menarik alat berat dari titik longsor Toto Ninu di wilayah Rangat. Pasalnya, aktivitas alat berat dinilai mengancam keberadaan Gua Maria, Gua Kristus Raja, serta situs budaya sakral yang berada di atas tebing tersebut.

Bernadus menegaskan, bukit atau tebing Toto Ninu merupakan kawasan yang dikeramatkan secara turun-temurun oleh masyarakat adat setempat.

“Di atas bukit itu terdapat Gua Maria, Gua Kristus Raja, serta situs budaya yang kami keramatkan dari generasi ke generasi. Jika tanah longsoran terus digaruk menggunakan alat berat, maka situs-situs tersebut sangat terancam,” tegas Bernaldus di laman Facebooknya, Sabtu (24/1/2026).

Ia menjelaskan, titik longsor Toto Ninu sejatinya telah terputus sejak longsor besar pada 2017. Hingga kini, pemerintah daerah Manggarai Barat belum melakukan perbaikan jalan secara menyeluruh, namun justru kembali mengerahkan alat berat ke lokasi tersebut.

“Untuk Camat Sano Nggoang, sebaiknya jangan pakai alat berat di titik longsoran Toto Ninu. Mohon alat berat itu segera ditarik. Titik itu sudah putus sejak 2017 dan belum pernah diperbaiki secara benar,” tulis Bernadus.

Menurut Bernadus, penggunaan alat berat justru memperparah kondisi tebing yang kini sudah sangat rawan. Ia menyebut, jarak antara bibir tebing dan lokasi situs budaya hanya sekitar lima meter, dengan kemiringan hampir 90 derajat.

“Tebing itu sudah sangat tipis. Kalau digaruk pakai alat berat, tanah akan makin turun. Gua kami bisa amblas dan longsor lebih dasyat,” katanya.

Ia menekankan, apabila pemerintah ingin memulihkan akses jalan di kawasan tersebut, maka solusi yang tepat adalah menyambungkan kembali jalan yang sudah terputus, bukan menggusur tanah ke arah bibir tebing.

“Jangan lagi menggusur ke bibir tebing. Justru tebing itu harus segera dibuat tembok penahan supaya tanah tidak terus turun setiap musim hujan,” tegasnya.

Atas dasar itu, masyarakat Rangat secara kolektif tidak mengizinkan alat berat beroperasi di kawasan bukit Toto Ninu.

“Sekali lagi, kami minta Kadis PU dan Camat Sano Nggoang segera menarik alat berat dari titik longsor Gua Toto Ninu. Kami tidak izinkan bukit itu dirusak karena menyangkut situs budaya dan iman kami,” pungkas Bernadus.

 

Editor : Chellz