LABUAN BAJO – Hamparan sawah seluas 750 hektare di Desa Mbuit, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadapi ancaman menjelang musim tanam. Bukan semata persoalan air atau kondisi lahan, tetapi jalan Dange-Teko yang rusak parah dan menjadi satu-satunya akses vital bagi aktivitas pertanian warga.

Jalan yang menghubungkan kawasan pertanian di Dusun Dange dan Teko itu kini sulit dilalui kendaraan. Kerusakannya menghambat mobilitas masyarakat, mempersulit pengangkutan sarana produksi, sekaligus menambah beban petani ketika hasil panen harus dibawa keluar dari lahan.

Di tengah persiapan menghadapi musim tanam, akses jalan menjadi kebutuhan yang tak bisa dipisahkan dari pekerjaan petani. Pupuk harus tiba tepat waktu, kebutuhan produksi mesti tersedia, dan hasil panen kelak harus dapat diangkut tanpa menghabiskan terlalu banyak biaya.

Namun, kondisi jalan Dange-Teko membuat semua proses itu berisiko terganggu.

Bagi petani Desa Mbuit, jalan rusak bukan persoalan yang baru muncul tahun ini. Setiap musim hujan tiba, kondisi ruas tersebut kembali memburuk. Kendaraan semakin sulit melintas, sementara masyarakat harus tetap menjalankan aktivitas pertanian di tengah keterbatasan akses.

Yohanes Rangka, warga Desa Mbuit, menjadi salah satu warga yang menaruh harapan pada perbaikan jalan tersebut. Kerusakan yang berulang membuat kebutuhan akan akses yang layak semakin mendesak, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada pertanian.

Persoalan itu tidak berhenti ketika kendaraan kesulitan melewati jalan. Dampaknya juga terasa pada biaya pengangkutan hasil panen. Truk pengangkut dilaporkan enggan masuk ke lokasi karena risiko kerusakan kendaraan dan waktu perjalanan yang lebih panjang. Jika pengangkutan tetap dilakukan, petani berpotensi membayar ongkos lebih mahal.

“Kalau jalan model begini, ongkos angkut pasti naik. Dalam sekali panen, keuntungan kami semakin tipis, terpotong di biaya angkut,” keluh seorang petani.

Biaya angkut yang meningkat membuat pendapatan petani semakin tertekan. Setelah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan, menyediakan kebutuhan pertanian, dan merawat tanaman, mereka masih harus menghadapi pengeluaran tambahan ketika hasil panen dibawa menuju tempat pemasaran.

Martina Iju, warga Desa Mbuit, juga berada di tengah persoalan akses yang memengaruhi kehidupan masyarakat setempat. Harapan warga tertuju pada perbaikan jalan agar aktivitas pertanian tidak terus dibayangi kesulitan yang berulang setiap musim hujan.

Bagi petani, jalan yang layak dibutuhkan sejak awal musim tanam hingga masa panen berakhir. Kerusakan akses dapat menghambat distribusi pupuk dan sarana produksi lainnya. Apabila pasokan pupuk terlambat, pemenuhan kebutuhan tanaman pada fase pertumbuhan penting juga berpotensi terganggu.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena kawasan persawahan Mbuit memiliki target produksi normal tujuh ton per hektare. Potensi kehilangan hasil ditaksir mencapai dua ton per hektare apabila faktor-faktor yang memengaruhi produksi tidak tertangani. Dengan luas sawah mencapai 750 hektare, gangguan terhadap kegiatan pertanian berpotensi membawa dampak besar bagi petani setempat.

Jalan Dange-Teko merupakan bagian dari jalur Pantura Manggarai yang menopang kegiatan ekonomi masyarakat. Meski demikian, kerusakannya belum menemukan penyelesaian permanen.

Warga pernah berinisiatif memperbaiki jalan secara swadaya di bawah koordinasi Edi Dakul. Perjuangan untuk mendapatkan perhatian terhadap kondisi jalan itu juga pernah disuarakan Wilhelmus Syukur ketika masih menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat.

Namun, setiap musim hujan datang, kondisi jalan kembali memburuk hingga hampir tidak dapat dilalui kendaraan. Upaya perbaikan yang pernah dilakukan belum mampu menghentikan persoalan yang terus berulang tersebut.

Kini, warga menyebut material perbaikan telah tersedia di lokasi. Mereka berharap pemerintah daerah segera memobilisasi alat berat agar penanganan jalan dapat dilakukan.

“Materialnya semua sudah ada di lokasi. Kami hanya butuh mobilisasi alat berat. Jangan biarkan jerih payah kami sia-sia hanya karena akses jalan,” tegas warga.

Bagi masyarakat Dange dan Teko, tersedianya material menjadi bagian dari harapan agar perbaikan tidak kembali tertunda. Mereka membutuhkan jalan yang dapat mendukung kelancaran distribusi pupuk, mobilitas menuju sawah, dan pengangkutan hasil panen.

Di Desa Mbuit, persoalan jalan akhirnya bertaut langsung dengan keberlangsungan usaha tani. Ketika akses utama rusak, petani harus menghadapi biaya angkut yang lebih tinggi sekaligus risiko terganggunya kegiatan produksi.

Sebanyak 750 hektare sawah di kawasan itu menjadi tumpuan aktivitas pertanian masyarakat. Menjelang musim tanam, warga kini menanti langkah nyata agar jalan Dange-Teko kembali layak dilalui.

Bagi mereka, perbaikan jalan bukan sekadar membenahi infrastruktur yang rusak. Lebih dari itu, akses yang memadai menjadi penopang agar pekerjaan di sawah dapat berlangsung, hasil panen dapat diangkut, dan jerih payah petani tidak semakin terbebani oleh persoalan jalan yang terus berulang.