Sudah puluhan tahun warga kesulitan air bersih hingga harus mengandalkan embung sebagai sumber mata air satu-satunya dikala musim kemarau tiba. Embung di antara sabana seperti oase yang memberikan kehidupan buat Warga Rendu, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo. Saban pagi dan sore para ibu termasuk anak-anak menuruni lembah menuju embung dekat desa hanya sekedar untuk bisa menimba air keruh.

“ Kami harus ambil air di embung yang sama dengan sapi minum air, kencing ta’i di sini semua tercampur aduk dengan ternak, ” kata Bruno Uko, Warga Kampung Wololuba, Renduwawo ketika mengambil air di embung.

Bagi warga air di embung digunakan untuk minum, masak serta kamar wc/mandi. Mereka harus berebut dengan ternak hanya untuk sekedar mendapatkan air kotor di embung.

Kondisi kesulitan air juga mempengaruhi kesehatan warga. Beberapa penyakit seperti penyakit kulit, diare serta penyakit lain sangat dipengaruhi akibat kondisi krisis air bersih di Kecamatan Aesesa Selatan ini.

“ Mau seberapa kuat kita berusaha untuk berikan edukasi soal kesehatan kalau air bersih tidak ada sama saja, “ kata Rostin Wati Kepala Puskesmas Jawakisa, Aesesa Selatan.

Kondisi ini membuat  PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melakukan gerakan melalui program CSR-nya dalam bidang kesehatan. Melalui Puskesmas Jawakisa, TBIG membantu mendukung palayanan kesehatan melalui pemberian obat-obatan serta air bersih di puskesmas.

Program CSR TBIG di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperluas kontribusi sosial ke wilayah yang memiliki tantangan geografis dan akses terhadap berbagai layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.

Melalui program CSR di wilayah 3T, TBIG mengawali pilot program di Kabupaten Nagekeo dengan fokus pada edukasi kesehatan, dukungan pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan balita, serta bantuan untuk mendukung layanan kesehatan dasar. Program ini mencakup pemberian paket makanan tambahan secara rutin melalui 23 posyandu di Kecamatan Aesesa Selatan, dukungan obat-obatan dan air bersih secara berkala kepada Puskesmas Jawakisa, serta edukasi pola hidup sehat. Pelaksanaannya diharapkan menjadi dasar evaluasi untuk merumuskan pendekatan CSR yang lebih tepat sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah 3T.

“Kami ingin memastikan kehadiran TBIG dapat memberikan manfaat yang nyata, baik melalui edukasi, penguatan kapasitas maupun program pemberdayaan yang dapat terus berkembang bersama masyarakat,” kata Lie Si An, Chief Business Support Officer TBIG, pada Kamis, 15/10/26.

Selain mendukung kesehatan, pasca gempa 7,7 mg yang menggunacang nagekeo, Flores, TBIG turut memberikan dukungan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak melalui penyaluran 5 ton beras dan 300 sarung.

Tidak hanya itu TBIG juga memberikan dukungan kepada para siswa dan guru dari 4 SMK di Nagekeo, melaui pelatihan fiber optik sebagai bagian dari Trauma Healing Pascabencana. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu memulihkan kepercayaan diri dan semangat belajar sekaligus memberikan pembekalan yang dapat mendukung kesiapan guru dan siswa dalam menghadapi proses pemulihan setelah bencana.