Jakarta – Pembungkaman terhadap karya seni kembali terjadi. Kali ini band punk asal Purbalingga bernama Sukatani mendapat pembredelan lewat lagunya yang berjudul ‘Bayar Bayar Bayar’ hingga membuat video permintaan maaf untuk Polri dan menarik lagunya dari seluruh platform streaming.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan institusi Polri atas lagu ciptaan kami dengan judul Bayar Bayar Bayar, yang dalam liriknya (ada kata) bayar polisi yang telah kami nyanyikan sehingga viral di beberapa platform media sosial,” kata personil Sukatani, Muhammad Syifa Al Lufti di akun media sosial @sukatani.band.
Kejadian yang menimpa Sukatani memicu kemarahan dari masyarakat terutama para musisi dan pegiat seni.
Mereka pun hadir memberi dukungan dalam berbagai bentuk mulai dari komentar, postingan, pembelian lagu Bayar Bayar Bayar, usaha penyebaran lagu yang masif salah satunya pemutaran di kegiatan aksi demonstrasi, dan tentunya menaikkan tagar di X.
Berdasarkan pantauan media ini hingga Jumat sore, tagar #Kamibersamasukatani di X masih bertengger di posisi 1 tren Indonesia dengan total lebih dari 200 ribu cuitan. Namun tagar ini juga sempat bertukar posisi dengan #IndonesiaGelap di bawahnya yang kini memiliki lebih dari 450 ribu cuitan.
Sementara di Instagram, postingan reels yang telah ditonton lebih dari 10 juta pengguna itu dibanjiri komentar dukungan yang terus bertambah. Sederet musisi yang hadir memberi dukungan ialah Rebellion Rose, Superman Is Dead, Fstvlst, Navicula, Superiots, The Jansen, Morfem, Seringai, Kelelawar Malam, Tantri (Kotak), Iksan Skuter, Voice of Baceprot (VoB), Bisma SMASH, dan Hindia.
Selain para musisi, sejumlah tokoh seperti selebriti, influencer, penulis, komedian, hingga politikus juga turut memberi dukungannya, mereka termasuk: Bintang Emon, Lutesha, Kevin Julio, Okky Madasari, Aya Canina, J.S. Khairen, Tere Liye, Pandji Pragiwaksono, Soleh Solihun, Dandhy Laksono, dan Ni Luh Djelantik.
Kritik Tajam untuk Polisi
Personil Sukatani, Lutfi mengatakan lagu Bayar Bayar Bayar diciptakan sebagai kritik terhadap anggota kepolisian yang melanggar aturan. “Lagu itu saya ciptakan untuk oknum kepolisian yang melanggar peraturan,” ujarnya.
Lirik “Bayar Bayar Bayar” tentang pungutan uang oleh oknum polisi. Adapun salah satu penggalan lirik pada lagu tersebut adalah ‘ketilang di jalan, bayar polisi’.
Sementara, Pendiri Lokataru, Haris Azhar, yang juga aktivis pergerakan, menyayangkan adanya intimidasi yang dilakukan pihak kepolisian terhadap karya seni lagu ciptaan band Sukatani.
Haris menyebut, seharusnya band Sukatani tidak perlu meminta maaf, justru sebaliknya, oknum polisi yang mengintimidasi Sukatani harus dicari dan dihukum.
“Harus dicari tahu di dalam tubuh polisi siapa yang mengintimidasi band Sukatani. Dialah yang harus meminta maaf dan dihukum,” kata Haris Azhar saat ditemui di Bandara YIA pada Jumat (21/2/2025), sebagaiman dikutip Kompas.com
Menurut Haris, apa yang disampaikan band tersebut dalam lirik lagunya masih sangat relevan. Banyak masyarakat Indonesia mengalami itu.
Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai intimidasi yang dialami band Sukatani ihwal penarikan lagu mereka “Bayar Bayar Bayar” merupakan langkah keliru yang justru merugikan citra kepolisian.
“Makanya upaya intimidasi tersebut justru blunder bagi kepolisian,” kata Bambang Sabtu, 22 Februari 2025, seperti dikutip Tempo.
Sebab menurut dia, sulit menerima bahwa permintaan maaf dari dua punk asal Purbalingga itu muncul tanpa ada intervensi. Terlebih, Polda Jawa Tengah sudah mengakui personel Direktorat Siber Polda Jateng menemui Sukatani.
Bambang menuturkan, bentuk tekanan bisa beragam, mulai dari pemanggilan dengan dalih klarifikasi hingga tekanan melalui pihak lain.
“Salah satu personel Sukatani bahkan dikabarkan diberhentikan dari pekerjaannya sebagai guru,” ujarnya. ***
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan