Ruas Jalan Mauponggo – Ngera – Puuwada senilai 18 Miliar telah rusak (Ignas Kunda)

Penantian itu terlalu panjang untuk berakhir secepat ini.

Sejak Indonesia merdeka, warga Desa Ngera dan Lewa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, hidup dalam keterisolasian. Jalan yang layak bukan sekadar infrastruktur, melainkan harapan—tentang akses ekonomi, kesehatan, dan masa depan anak-anak mereka.

Harapan itu akhirnya datang pada akhir tahun 2025. Jalan hotmix sepanjang kurang lebih 4 kilometer di ruas Mauponggo–Ngera–Puuwada dibangun. Warga menyambutnya dengan sukacita. Bahkan, mereka rela melepas tanaman produktif seperti cengkeh, pala, kopi, dan kelapa demi terbukanya akses tersebut.

Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama.

Belum genap sebulan digunakan, jalan yang menelan anggaran miliaran rupiah itu kini sudah rusak parah.

Ruas jalan Mauponggo – Negara – Puuwada merupakan salah satu ruas jalan penghubung antara Kecamatan Mauponggo dan Keo Tengah dengan melewati 5 desa dengan jumlah penduduk sekitar 7 ribu jiwa yang sejak Indonesia merdeka sangat merindukan jalan.

Kerinduan Akan Jalan

Terbukanya akses jalan tersebut juga sangat membantu ekonomi warga di pegunungan khususnya Ngera dan Lewa Ngera yang selama ini terisolasi akibat akses jalan yang sulit. Ruas jalan tersebut sangat membantu warga dalam distribusi hasil pertanian seperti cengkeh, pala dan kelapa yang menjadi komunitas andalan warga dalam memenuhi kebutuhan ekonomi warga desa.

Ketiadaan jalan yang memadai sejak puluhan tahun sejak Indonesia merdeka membuat ekonomi warga tidak bisa berkembang secara baik karena harga komoditi serta ongkos transportasi yang mahal. Banyak lelaki dari beberapa desa tersebut harus menjadi buruh migran hingga ke Malaysia serta beberapa pulau lain di Indonesia seperti Kalimantan dan Papua hanya untuk menjadi buruh kelapa sawit. Bahkan beberapa orang telah meregang nyawa.

Kondisi jalan yang buruk dulunya juga membuat akses ke kesehatan dan pelayanan pemerintah menjadi terbatas dan terhambat.

” Banyak anak muda merantau, kami butuh sekali akses jalan agar bisa akses ke pasar, ” kata Albertus Egidius Situ warga Ngera.

Penantian panjang hingga anak cucu berbuah manis “pucuk dicintai ulampun tiba” seperti kata pepatah ketika pemerintah mengucurkan dana untuk proyek pengerjaan jalan Mauponggo – Ngera – Puuwada yang menghubungkan 2 kecamatan Keo Tengah dan Mauponggo pada tahun 2025

Pengerjaan jalan tersebut sebelumnya sudah dilakukan pertama kali pada tahun 2023 yang kondisi jalannya masih terbilang baik hingga kini. Namun saya pengerjaan kedua pada tahun 2025 kondisi jalan telah rusak.

Beberapa bagian terdapat retakan dengan cukup besar melebihi dari retak rambut dan bahkan sebagian terdapat endapan lumpur yang telah keluar dari retakan atau pecahan tersebut. Beberapa retakan berusaha ditutupi dengan melapisi aspalt hotmix tambahan namun telihat tidak merekat.

Beberapa bagian terutama di belakang kampung Ngera terlihat sangat parah. Aspalnya telah pecah atau rusak dengan bongkahan cukup lebar.

Yanuarius Tenda salah satu warga Ngera mengungkapkan awalnya mereka merasa sangat senang karena ada setelah penantian panjang jalan ini akhirnya dikerjakan melewati kampung mereka. Mereka pun rela segala tanaman komoditi seperti cengkeh, pala, kopi, kelapa digusur agar bisa dibuka jalan. Namun setelah melihat kondisi pekerjaan oleh perusahaan mereka menjadi kesal dan kecewa karena mutu pekerjaan kurang bagus karena itu mereka sangat mengharapkan agar perusahan serta pemerintah terkait segera mengatasi kondisi kerusakan yang terjadi.

” Pekerjaan sudah masuk final namun jalan masih rusak, masih belum beres untuk itu kami minta kepada perusahan dan pemerintah terkait mereka pulang kerjanya tuntas dan mutunya bagus, ” ungkapnya.

Yanto seorang pekerja dari perusahaan yang menerima pekerjaan tersebut di lokasi kerusakan menyatakan jalan tersebut dalam proses pemeliharaan selain itu ketika melakukan pekerjaan di akhir tahun lalu, kondisi hujan membuat tanah sangat labil sehingga menyulitkan pekerjaan dan kualitas yang dikehendaki.

Namun sayang dari pengamatan di lokasi terlihat dasar atau base dari hotmixnya tersebut menggunakan kerikil yang banyak bercampur lumpur dan tanah ketika terlihat di lokasi pembongkaran oleh alat berat.

Pengerjaan Aspalt Hotmix Yang Benar

Sumber Media Indonesia salah satu ahli teknik yang tidak mau disebutkan namanya yang biasa menangani proyek pekerjaan jalan hotmix mengungkapkan cara pengerjaan jalan agregat dan aspal/hotmix yang benar berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga, pengerjaan jalan menggunakan agregat dan campuran aspal atau hotmix harus mengikuti tahapan teknis yang ketat agar menghasilkan jalan yang kuat, rata, dan tahan lama.

Berdasarkan standar spesifikasi pekerjaan jalan, proses pembangunan dimulai dari persiapan lapisan dasar (base course). Pada tahap ini, agregat berupa batu pecah dengan ukuran tertentu disusun sebagai pondasi jalan. Agregat harus memenuhi syarat gradasi, kebersihan, serta kekuatan material agar mampu menahan beban lalu lintas. Setelah itu agregat dipadatkan menggunakan alat pemadat hingga mencapai kepadatan yang ditentukan.

Tahap berikutnya adalah pemberian lapisan perekat atau prime coat dan tack coat. Lapisan ini berfungsi mengikat antara lapisan agregat dengan lapisan aspal sehingga struktur jalan menjadi lebih kuat dan tidak mudah terkelupas.

Selanjutnya dilakukan penghamparan campuran aspal panas (hotmix) yang terdiri dari campuran agregat, aspal, dan bahan pengisi yang diproduksi di instalasi pencampur aspal. Campuran ini dihampar menggunakan alat khusus agar ketebalan dan kerataannya sesuai spesifikasi teknis.

Setelah dihampar, campuran aspal harus segera dipadatkan menggunakan mesin roller dalam beberapa tahap pemadatan, mulai dari pemadatan awal, pemadatan antara, hingga pemadatan akhir. Proses ini penting untuk mencapai kepadatan maksimum sehingga permukaan jalan menjadi kuat dan tahan terhadap kerusakan.

Selain itu, pengendalian mutu juga menjadi bagian penting dalam pekerjaan jalan. Material agregat dan campuran aspal harus melalui serangkaian pengujian laboratorium, seperti uji gradasi agregat, kadar aspal, serta stabilitas campuran untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar.

Dengan mengikuti tahapan tersebut, pembangunan jalan aspal hotmix diharapkan menghasilkan permukaan jalan yang rata, kuat, serta mampu bertahan lama meskipun dilalui kendaraan dengan beban berat.

” Sebagai orang teknik harusnya tidak ada kendala dalam hanya karena musim hujan semua selalu ada cara yang bisa dikaji secara teknis. Musim hujan bukanlah alasan karena setiap perusahaan punya tenaga teknis apalagi dengan proyek hingga miliaran rupiah, kalau tanahnya labil ada alternatif seperti base dari semen untuk memperkuat struktur. Hujan bukan jadi alasan kecuali karena bencana dengan skala besar banjir bandang atau longsor, ” ungkapnya.

Rupanya pada proses pekerjaan ruas jalan tersebut, warga mendapati pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi petunjuk teknis. Sejumlah truk aspalt harus disalin ke sejumlah truk kecil yang otomatis menurunkan suhu ideal aspalt sesuai petunjuk teknis. Apalagi jarak AMP ( asphalt mix plan) sangat jauh hingga di Nangpanda, Kabupaten Ende. Selain itu juga penghamparan aspalt menggunakan greder bukan menggunakan alat yang dikhususkan buat menebar asphalt hotmix hingga terekam warga dan beredar di media sosial.

” Mereka pakai oto besar lalu salin itu asphalt lalu pakai greder yang seharusnya hanya untuk kasih ratakan agregat pas hampar. Itu baru saya liat selama orang kerja hotmix. Aneh. Kalau mesin rusak biar sabar tahan dulu itu jadi resiko jangan kami yang korban nanti, jalan rusak kasihan, ” ungkap salah satu warga.

Nilai Kontrak Jalan

Dari informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber proyek jalan tersebut merupakan Paket Pekerjaan Jalan Inpres Daerah Tahun Anggaran 2025 dengan 2 paket pekerjaan yakni ; PRESERVASI JALAN MAUPONGGO – NGERA – PUUWADA 1, dengan metode E-purchasing, panjang jalan 2,00 KM, dengan nilai kontrak 9.114.590.000 dan penyedia jasa CV. RATU ORZORA serta konsultasi supervisi oleh PT. MAHA CHARISMA ADIGUNA kemudian
PRESERVASI JALAN MAUPONGGO – NGERA – PUUWADA 2, dengan metode E-purchasing, panjang jalan 2,00 KM, dengan nilai kontrak 9.283.298.000 dan penyedia jasa CV. ANUGERAH CIPTA JAYA serta konsultasi supervisi oleh PT. MAHA CHARISMA ADIGUNA.

PPK proyek jalan Mauponggo-Ngera -Puuwada, Ricard Manukoa belum memberikan jawaban terkait kerusakan dan paket pekerjaan jalan tersebut. Jurnalis coba menghubungi namun Ricard masih belum merespon.

Warga Minta KPK Turun Periksa Jalan

Warga meminta harus dibongkar seluruh dan diberikan landasan semen yang kuat agar jalan tak mudah amblas lagi.

Warga mengaku mereka memanfaatkan psikologi warga yang merindukan jalan. Warga menilai mereka asal kerja yang penting ada jalanya dan pekerjaannya selesai entah hanya bisa digunakan selama setahun tidak jadi persoalan.

” Mereka merasa bahwa pekerjaan di tempat terpencil seperti itu jauh dari pengawasan publik sehingga bisa bekerja sesuka hati demi meminimalkan atau menekan pengeluaran bahan atau material. Kalau bisa kami minta KPK saja yang turun biar periksa ini jalan ungkap semua biar uang negara tidak buang percuma, ” ujar Albertus Egidius Situ.

DPRD Minta Perbaikan

Viktor Tegu salah satu anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari Desa Ngera mengatakan sangat berterima kasih karena adanya perhatian pemerintah akan warga daerah terpencil namun sekaligus kecewa dengan kondisi jalan yang kini telah rusak. Ia sudah menyampaikan kondisi tersebut ke Wakil Ketua Komisi ll DPRD Nagekeo terkait kualitas pekerjaan. Selain itu juga telah menyampaikan keluhan ini ke Wakil Bupati dan Ketua DPRD Nagekeo.

” Saya kira yang paling penting itu memperbaiki kualitas jalan yang sedang dikerjakan agar Jalan itu bertahan lama kalau secara teknik dianggap tidak layak bisa diperbaiki, ” kata Viktor.

Viktor menambahkan dari hasil resesnya masih ada sisa 4,3 kilo meter dari ruas Jalan Mauponggo- Puuwada yang belum dihotmix sehingga sangat membutuhkan bantuan pemerintah agar akses jalan tersebut segera dihotmix karena ada sekitar 4 desa dengan jumlah warga sekitar 5 ribu jiwa membutuhkan akses jalan tersebut.

Harapan yang Masih Tersisa

Di tengah retakan aspal dan kekecewaan yang menganga, satu hal yang masih tersisa adalah harapan.

Harapan agar jalan ini tidak sekadar menjadi proyek, tetapi benar-benar menjadi penghubung kehidupan.

Bagi warga Ngera dan Lewa Ngera, jalan bukan hanya tentang aspal dan batu.

Ia adalah jalan pulang bagi mereka yang merantau, jalan menuju pasar bagi petani, dan jalan menuju masa depan bagi generasi berikutnya.