LABUAN BAJO – Sebuah pemandangan penuh haru dan sarat makna mewarnai Perayaan Ekaristi Misa III di Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi, Labuan Bajo, Minggu (21/6/2026). Di tengah khidmat perayaan, lima remaja putri secara resmi menerima Sakramen Baptis dan menjadi anggota Gereja Katolik. Namun, perhatian umat tidak hanya tertuju pada prosesi pembaptisan itu sendiri, melainkan juga pada sosok-sosok yang setia mendampingi mereka menuju altar.

Sejumlah anggota keluarga yang mengenakan hijab tampak hadir dan mengantar para calon baptisan hingga ke depan altar. Mereka adalah ibu, saudari, dan kerabat dekat yang berbeda keyakinan, tetapi memilih untuk tetap hadir memberikan dukungan pada salah satu keputusan penting dalam kehidupan anggota keluarga mereka.

Pemandangan tersebut menjadi simbol kuat bahwa perbedaan agama tidak harus melahirkan jarak. Sebaliknya, kasih sayang dalam keluarga dapat menjadi jembatan yang mempersatukan perbedaan dan menghadirkan penghormatan terhadap kebebasan setiap orang untuk menentukan jalan hidup serta keyakinannya.

Kelima baptisan baru tersebut adalah Dewinta Maezura Poernomo, kelahiran Depok, Bogor; Reynatha Putri Aulia, kelahiran Jakarta; Dinda Widayanti, kelahiran Perdamaian, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi; Yuyun Simanjuntak, kelahiran Kedi, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara; dan Rosi Yani, kelahiran Lando, Kecamatan Terang, Kabupaten Manggarai Barat.

Di tengah berbagai dinamika kehidupan sosial yang masih diwarnai prasangka terhadap perbedaan keyakinan, kehadiran keluarga para baptisan baru menjadi pesan yang kuat tentang arti penghormatan terhadap kebebasan beragama. Kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agama merupakan hak dasar setiap manusia yang dijamin oleh konstitusi. Namun lebih dari itu, kebebasan tersebut hanya dapat tumbuh secara sehat ketika mendapat penghormatan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Apa yang terjadi di Gereja MBSB Wae Sambi menunjukkan bahwa toleransi tidak selalu hadir dalam forum resmi atau pidato-pidato kebangsaan. Toleransi justru menemukan bentuknya yang paling nyata ketika seseorang tetap mengasihi anggota keluarganya meski berbeda pilihan keyakinan.

“Perbedaan agama tidak menghapus hubungan sebagai keluarga. Cinta dan penghormatan terhadap pilihan hidup seseorang tetap harus dijaga,” demikian pesan yang tergambar dari kehadiran keluarga para baptisan baru dalam perayaan tersebut.

Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD Dominikus Risno Maden, yang memimpin langsung perayaan Ekaristi menjelaskan bahwa Sakramen Baptis merupakan gerbang utama seseorang memasuki kehidupan Gereja dan menerima identitas baru sebagai pengikut Kristus.

Dalam homilinya, imam yang akrab disapa Romo Risno itu menguraikan tiga makna utama pembaptisan dalam ajaran Gereja Katolik.

Pertama, baptisan menjadi sarana penghapusan dosa. Melalui air baptis, seseorang dibersihkan dari dosa asal maupun dosa pribadi sehingga dilahirkan kembali dalam rahmat Allah.

Kedua, baptisan merupakan kelahiran kembali sebagai anak Allah. Melalui karya Roh Kudus, seseorang menerima martabat baru sebagai bagian dari keluarga Allah dan memperoleh rahmat pengudusan.

Ketiga, baptisan menjadi pintu masuk resmi ke dalam Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Seorang yang dibaptis dipersatukan dengan seluruh umat beriman dan dipanggil untuk hidup dalam iman, harapan, serta kasih.

“Baptisan bukan sekadar sebuah ritual keagamaan. Baptisan adalah kelahiran baru, saat seseorang menerima rahmat Allah dan menjadi bagian dari Gereja sebagai umat-Nya,” kata Romo Risno dalam homilinya.

Menurut Romo Risno, keputusan untuk menerima baptisan harus lahir dari kesadaran dan kebebasan hati nurani. Karena itu, Gereja menghargai setiap proses pencarian iman yang dijalani seseorang hingga akhirnya memutuskan untuk menerima Kristus dan menjadi bagian dari Gereja Katolik.

Peristiwa baptisan lima remaja putri di Wae Sambi tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi perayaan iman bagi Gereja Katolik. Lebih dari itu, momen tersebut menghadirkan pelajaran berharga tentang kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Di depan altar, lima remaja putri menerima baptisan sebagai tanda perjalanan hidup yang baru. Sementara di bangku-bangku gereja, keluarga mereka yang berbeda agama memberikan kesaksian yang tak kalah penting: bahwa penghormatan terhadap kebebasan beragama dimulai dari keluarga, dan bahwa kasih sayang selalu mampu menemukan jalan melampaui sekat-sekat perbedaan.

Di tengah berbagai tantangan yang menguji kerukunan bangsa, kisah dari Gereja MBSB Wae Sambi ini menjadi pengingat bahwa toleransi sejati bukan sekadar menerima keberadaan yang berbeda, tetapi juga bersedia mendampingi, menghormati, dan tetap mengasihi mereka yang memilih jalan keyakinan yang berbeda.