ENDE – Anggota Komisi XI DPR RI dari Partai Nasdem, Julie Sutrisno Laiskodat menilai komunitas perempuan penenun memiliki posisi strategis dalam ketahanan ekonomi rumah tangga, karena itu Kader Partai Nadem ini meminta Pemerintah Desa (Pemdes) mengembangkan program pemberdayaan kelompok penenun atau mama- mama penenun di desa.
“Leluhur wariskan budaya ini karena mereka tahu potensi ini bisa untuk hidup dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Julie Laiskodat saat menghadiri Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Desa tingkat Kabupaten Ende di Aula Hotel Flores Mandiri beberapa waktu lalu.
Julie menegaskan pemerintah desa mesti mengambil peran mendorong aktivitas bertenun dari mama – mama di desa agar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat di desa.
Selain itu pemerintah Kabupaten, Provinsi bersinergi dengan pemerintah pusat mengembangkan program- program yang langsung ke desa.
Julie Laiskodat mengajak pejabat dan ASN di daerah ini mengenakan baju dari kain tenun daerah pada hari kerja tertentu. Selain mendukung mama – mama penenun, wajib pakai baju tenun juga bagian dari pelestarian budaya yang diwariskan leluhur.
“Saya tiap hari pakai kain tenun NTT untuk promosi. Saya harap pejabat dan ASN di daerah juga pakai. Mari kita promosikan budaya kita,” katanya.
Sejak lama istri mantan Gubernur NTT ini tertarik pada seni dan kain tenun NTT. Menurutnya, kegigihan perempuan NTT mempertahankan nilai dan budaya tanah adatnya melalui selembar wastra yang ditenun dengan penuh penghayatan dinilai Julie sebagai warisan penting yang tidak ternilai harganya.
“Dalam selembar kain tenun, kita bisa mendapatkan berbagai cerita tentang tempat kain tenun itu berasal, dari alamnya, masyarakatnya, hingga kulinernya,” ujarnya.
Julie menuturkan, kain tenun NTT memiliki nilai dan filosofi yang berbeda di setiap desa. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari motif dan warna kain tenun.
“Setiap desa punya kain tenun yang berbeda-beda filosofinya juga motifnya. Seperti di Kabupaten Nagekeo, kainnya berwarna hitam dan kuning keemasan serta mempunyai tiga motif,” terangnya.
Semangatnya untuk mengenalkan tenun NTT tidak sebatas pada jual dan beli, tetapi juga menginginkan aktivitas turun-temurun itu bisa menjadi perkerjaan utama yang menompang perekonomian masyarakat NTT.
“Tenun menjadi budaya di seluruh NTT. Dalam suka dan duka, wajib ada tenun. Selama ini tenun masih dianggap hanya pekerjaan sambilan, padahal potensi tenun sangat besar,” cetusnya.***


Tinggalkan Balasan