LABUAN BAJO– Rentetan kecelakaan kapal wisata di perairan Labuan Bajo kembali menuai sorotan publik. Tokoh pelaut lokal, Haji Baso, menegaskan bahwa tidak semua kapal layar wisata layak disebut pinisi, menyusul sejumlah insiden laut yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pernyataan itu disampaikan setelah tenggelamnya Kapal Wisata Dewi Anjani pada Senin pagi (29/12/2025) di sekitar Dermaga Pink, Labuan Bajo. Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam penyelidikan.
Insiden ini menyusul tragedi sebelumnya, yakni tenggelamnya KM Putri Sakinah di Selat Padar, yang menewaskan seorang warga negara Spanyol dan tiga korban lainnya masih dinyatakan hilang.
Menurut Haji Baso, pinisi bukan sekadar label promosi wisata. Kapal tradisional Nusantara ini memiliki standar dan ciri teknis yang jelas, salah satunya dua tiang layar dengan tujuh helai layar. Kapal dengan satu tiang layar, kata dia, belum tentu dapat disebut pinisi, meski tampilannya menyerupai.
Ia mengingatkan, penyebutan pinisi secara keliru tidak hanya mencederai nilai budaya, tetapi juga berpotensi menyesatkan publik terkait keselamatan pelayaran.
“Keselamatan adalah hukum tertinggi. Jangan memaksakan pelayaran saat cuaca buruk,” tegasnya.
Haji Baso pun menyerukan agar operator wisata, pemilik kapal, media, dan otoritas pelayaran lebih bertanggung jawab dalam penggunaan istilah pinisi serta memperketat standar keselamatan di perairan Labuan Bajo.


Tinggalkan Balasan