Brainstorming untuk Intelektual Katolik
Oleh: Silvester Joni
KOPI itu lebih dari sekadar minuman. Sebetulnya, kita mengecap ‘aneka isu sosial’, ketika sedang ‘menyeruput’ segelas kopi. Ada sekian ‘teks sosial’ yang ikut berperan dalam ‘menghadirkan’ secangkir kopi di hadapan kita.
Karena itu, ‘minum kopi’ bisa dilihat sebagai ‘pengungkit’ sejumput imajinasi yang menjadi ‘latar cerita’ mengapa kopi itu ‘ada di depan’ mata. Mengonsumsi kopi dapat menstimulasi ‘daya bayang’ dan kapasitas analitis tentang ‘pelbagai narasi’ yang menuntut kita untuk meresponsnya secara kreatif.
Dalam dan melalui ‘secangkir kopi’, kita bisa memahami persoalan sosiologis dan berusaha menemukan solusi alternatif. Lensa sosiologis yang ‘terarah’ pada ‘kopi’, jelas sangat berguna tidak hanya untuk ‘menguarai status persoalan sosial secara jernih’, tetapi juga ‘menuntut’ kita untuk ‘bertanggung jawab’ terhadap seabreak isu itu.
Saya teringat dengan dosen ‘Sosiologi Agama’, P. Dr. Philip Panda Koten, SVD, saat kami masih menjadi mahasiswa di STFK Ledalero yang sekarang berubah menjadi IFTK Ledalero. Dalam beberapa sesi kuliah, beliau menyinggung soal pentingnya imajinasi sosiologis sebagai ‘alat bantu’ dalam memahami kompleksitas masalah sosial di sekitar kita.
Basis dari ‘provokasi sosiologis’ itu adalah gagasan dari ‘Sosiolog kesayangannya’, C. Wright Mills. Dr. Phlip sangat ‘piawai’ menerjemahkan ‘doktirin sosiologis Mills’ yang tertuang dalam buku ‘Sociological Imagination (1950). Kala itu, saya ‘menelan’ begitu saja ide itu tanpa pengolahan dan kajian secara mendalam.
Imajinasi sosiologis memungkinkan ‘individu’ terhubung dengan jaringan isu kemasyarakatan. Itu berarti imajinasi sosiologis itu adalah ‘sebuah kemampuan atau kecakapan’ menghubungkan ‘perspektif individual’ dengan struktur sosial yang lebih luas.
Tanpa imajinasi sosiologis, daya jelajah pemikiran kita terkurung dalam ‘cangkang pengalaman personal’. Kita hanya tampil sebagai ‘pemotret’ setting sosial tanpa kepekaan etis dan keberanian untuk melakukan ‘transformasi’.
Dengan sensitivitas sosiologis semacam itu, ada potensi untuk menjadi ‘lebih militan’ dalam mengungkap pelbagai realitas ‘ketidakadilan sosial’ dan menginspirasi sebuah gerakan perubahan. Sistem ekonomi (distribusi dan pemasaran) yang kurang menguntungkan petani kopi misalnya, yang ilhammnya kita timba dari secangkir kopi, ‘mendesak’ kita untuk melakukan gerakan resistensi dan advokasi.
Hemat saya, imajinasi sosiologis ini sangat berguna bagi sarjana atau intelektual (Katolik) yang mau ‘terlibat’ dalam pusaran isu-isu sosial. Mereka tidak mengalami defisit inspirasi ketika membaca sebuah teks sosial. lmu yang ditekuni oleh para sarjana itu, tidak untuk ‘melayani dirinya sendiri dan mungkin kekuasaan eksternal’, tetapi juga untuk ‘melayani kepentingan publik’.
Karena itu, intelektual tidak bisa direduksi maknanya hanya untuk golongan yang mendapat ‘titel akademik’ dan ditempa di Perguruan Tinggi, tetapi siapa saja yang punya wawasan epistemis yang luas dan mempunyai keberanian etis untuk melawan pelbagai bentuk manipulasi dan penindasan.
Menurut Ignatius Haryanto, intelektual (publik) dimengerti sebagai “mereka yang memiliki keprihatinan, kepekaan atas peristiwa-peristiwa di sekitar mereka dan mereka meresponsnya dalam bentuk protes, analisis yang tajam dan membicarakannya di forum-forum publik”.
Seorang sarjana (intelektual), mesti merasa ‘tidak nyaman’ ketika berhadapan dengan isu-isu sosial dan terpanggil untuk ‘membawa cahaya kebenaran’ dalam aneka problem tersebut. Mereka tidak betah ‘berada di menara gading ilmu’. Ilmu dan pengetahuan ‘dipakai’ sebagai alat untuk ‘mentransformasi’ kondisi kehidupan publik. “Terlibat” secara aktif dalam pelbagai diskursus dan dinamika kehidupan publik, menjadi ‘karakter’ seorang sarjana.
Pemali bagi seorang intelektual (Katolik) untuk berpikir monolitik dan atau ‘berdiam diri’ berhadapan dengan problem sosial. Dirinya terpanggil untuk ‘menceburkan diri’ dalam kolam persoalan untuk melihat secara obyektif akar masalahnya dan berusaha menemukan solusi terbaik. Sekian perspektif coba dioptimalkan dalam membedah lapisan kepentingan di balik sebuah permasalahan.
Inspirasi dalam melakukan gerakan perubahan, biasanya muncul di ‘warung kopi’. Sambil mengecap kopi dan mengisap sebatang rokok, ide-ide bernas mengalir bebas. Energi resistensi tersembul pasca ‘ritual minum kopi’ di kantin yang sederhana.
Sampai di sini, saya kian sadar mengapa mayoritas intelektual-aktivis publik selalu menyisihkan waktu untuk ‘minum kopi bersama’ di sebuah warung atau kafe. Aktivitas minum kopi itu, tidak hanya untuk ‘memuaskan keinginan daging’, tetapi juga memenuhi keinginan ‘dunia idea’ untuk berjuang menciptakan tata dunia yang lebih humanis, egalitarian dan demokratis.**
Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.


Tinggalkan Balasan