PERJALANAN itu bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Bukan pula sekadar menaklukkan jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan, ada wajah-wajah masyarakat, keramahan warga desa, bentang alam Flores, serta harapan untuk ikut memulihkan daerah yang tengah berjuang bangkit dari bencana.

Senin (26/10), perjalanan Camino de Flores Etape Tengah resmi berakhir di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para peserta menuntaskan perjalanan ziarah berjalan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer yang melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende.

Bagi Mari Elka Pangestu, penggagas Camino de Flores yang menggelar perjalanan itu dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-70, perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang mencapai tujuan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk menyatukan spiritualitas, kebersamaan, dan kepedulian terhadap masyarakat Flores.

Pada hari keempat sekaligus hari terakhir, para peserta melanjutkan perjalanan menuju Puncak Danau Kelimutu, kemudian berjalan menuju Desa Wisata Waturaka, Ende, dengan jarak sekitar 13 kilometer.

Di tengah lanskap alam Flores, langkah-langkah itu membawa peserta lebih dekat pada kehidupan masyarakat. Perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki memungkinkan mereka bertemu petani, menyapa anak-anak, dan berbincang dengan warga di sepanjang rute.

Pengalaman tersebut menjadi bagian yang tidak ditemukan ketika perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan.

“Kalau kita berjalan menggunakan mobil atau pesawat, kita tidak akan bertemu masyarakat sepanjang jalan. Bagi saya, itulah yang paling berkesan, bertemu dan berbicara dengan masyarakat Flores. Kami disambut dengan sangat ramah. Hati kami, kami tinggalkan di Flores,” ujar Marie Elka.

Menyusuri Alam, Menemukan Sejarah

Desa Wisata Waturaka menjadi titik akhir perjalanan ziarah berjalan kaki Camino de Flores. Namun, rangkaian kegiatan hari terakhir belum berhenti di sana.

Pada sore hingga malam hari, rombongan mengunjungi Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende. Tempat itu menyimpan jejak sejarah pengasingan Bung Karno di Ende pada 1934–1938.

Di biara tersebut, Soekarno membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan para biarawan. Kunjungan para peserta Camino de Flores menghadirkan dimensi sejarah dan refleksi kebangsaan dalam perjalanan yang sebelumnya telah menyatukan pengalaman spiritual, alam, dan budaya.

Flores, melalui perjalanan itu, tidak hanya hadir sebagai bentang alam yang memikat. Pulau ini juga menyimpan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, di Gereja Katedral Kristus Raja.

Usai misa, para peserta mengikuti ramah tamah dan makan malam bersama di Rumah Kevikepan Ende. Suasana itu menjadi ruang untuk mengenang perjalanan yang telah dilalui sekaligus menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan.

Uskup Agung Ende menyampaikan apresiasi kepada Marie Elka Pangestu atas inisiatif Camino de Flores.

“Atas nama pastor paroki dan umat Paroki Katedral, saya menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Semoga perayaan 70 tahun kehidupan Ibu dan Camino de Flores yang diinisiasi ini sungguh diberkati oleh Tuhan dan membawa kebaikan yang berlipat ganda pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Perjalanan untuk Flores

Di balik perjalanan yang berakhir di Ende, tersimpan harapan agar Camino de Flores tidak berhenti sebagai kegiatan ziarah semata.

Marie Elka menegaskan, perjalanan tersebut juga dimaksudkan untuk menggalang dukungan bagi Flores, termasuk dalam upaya pemulihan pascagempa.

“Yang penting bukan siapa yang paling cepat menyelesaikannya, tetapi bahwa kita bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan tekad kita. Perjalanan ini juga bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menggalang dukungan bagi Flores, termasuk dalam upaya pemulihan pascagempa,” katanya.

Bagi peserta, perjalanan itu menjadi pengalaman untuk mengenal Flores melalui cara yang lebih dekat. Bukan hanya melihat keindahan alam dari kejauhan, melainkan menyusuri jalan-jalan desa dan berinteraksi dengan masyarakat yang hidup di dalamnya.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai Camino de Flores berpotensi menjadi salah satu ikon wisata religi di NTT, khususnya Flores.

Ia berharap kegiatan itu dapat dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang melalui kolaborasi pemerintah, gereja, pelaku pariwisata, dan berbagai pihak terkait.

“Beberapa waktu lalu, kegiatan ini diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu program percontohan untuk pengembangan wisata religi di Tanah Air. Kami berharap Camino de Flores dapat terus diselenggarakan dan berkembang menjadi salah satu kekhasan pariwisata Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores,” ujarnya.

Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang, menurut Melkiades, menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi Flores sekaligus membangun jejaring yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Menjaga Warisan, Merawat Masa Depan

Semangat Camino de Flores juga diwujudkan melalui dukungan terhadap pelestarian budaya masyarakat Ende.

Pada rangkaian penutupan, Mari Elka Pangestu bersama arsitek Yori Antar memberikan bantuan secara simbolis untuk pembangunan rumah tenun di Kelibara, Ende, yang akan diberi nama Sao Tege Seda Camino Kelibara.

Bantuan juga diberikan untuk mendukung revitalisasi Rumah Adat Ata Ngi’i Ngape di Wologeru, Ende. Setelah proses penataan, rumah adat tersebut akan diberi nama Sao Ria Ngi’i Nangape Camino Wologeru.

Bagi masyarakat Flores, rumah adat bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Di dalamnya tersimpan identitas, nilai-nilai kehidupan, pengetahuan tradisional, serta hubungan antargenerasi.

Demikian pula rumah tenun. Tempat itu tidak hanya menjadi ruang produksi kain, tetapi juga wadah untuk mempertahankan keterampilan menenun yang diwariskan turun-temurun.

Dukungan terhadap pembangunan rumah tenun dan revitalisasi rumah adat diharapkan memperkuat keberlanjutan tradisi sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi budaya sebagai bagian dari kehidupan ekonomi.

Yori Antar dikenal aktif mendorong pelestarian arsitektur tradisional Nusantara melalui gerakan Rumah Asuh. Kiprahnya dalam mendukung pembangunan kembali rumah adat dan melibatkan masyarakat setempat menjadi bagian dari upaya menjaga warisan arsitektur Indonesia.

Wisata yang Menghubungkan Manusia

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melihat Camino de Flores sebagai salah satu bentuk perjalanan yang dapat mempertemukan wisatawan dengan alam, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan, pengalaman berjalan kaki dan berinteraksi langsung dengan masyarakat memberikan nilai tambah bagi pengembangan pariwisata Flores.

“Camino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi. Pengalaman berjalan kaki dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di sepanjang rute memberikan nilai tambah yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga spiritual dan sosial,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman dan semangat yang dibangun melalui Camino de Flores dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan paket perjalanan wisata berbasis minat khusus di Flores.

Wisata religi, perjalanan lintas destinasi, kunjungan ke desa wisata, serta keterlibatan pelaku UMKM dan komunitas budaya menjadi sejumlah peluang yang dapat dikembangkan.

Perjalanan Camino de Flores memang telah berakhir di Ende. Namun, jejak yang ditinggalkannya diharapkan terus hidup melalui kepedulian terhadap masyarakat, pelestarian budaya, dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

Seperti langkah-langkah yang menempuh puluhan kilometer di sepanjang Flores, harapan itu tidak harus tiba dengan cepat. Yang penting, ia terus bergerak dan membawa manfaat bagi masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut. (Che)