AKHIR-AKHIR INI, nama Pater Marsel Agot dicatut dalam tudingan serius: “mafia tanah”. Tuduhan itu terdengar bombastis, seolah menjerat seorang tokoh yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pelindung wartawan, pendukung gerakan sosial, dan penjaga integritas misi gereja. Tapi mari berhenti sejenak dan pertanyakan: mafia tanah versi siapa?

Pater Marsel bukan pengusaha, bukan investor, dan jelas tidak memiliki tanah pribadi. Tarekatnya bahkan melarangnya memiliki harta benta. Tanah yang selama ini ia jaga adalah milik Yayasan Perundi, diperoleh melalui proses jual beli sah, untuk misi gereja. Ia hanya diberi kuasa untuk merawat dan menjaganya. Jika ini disebut mafia, maka definisi mafia harusnya dipikirkan ulang.

Lebih ironis lagi, tudingan ini datang dari pihak yang tidak transparan dan tidak menjelaskan dasar hukum atau bukti nyata. Apakah mungkin, justru mereka yang menuding inilah yang memiliki kepentingan terselubung terkait tanah tersebut? Bukankah lebih mudah menuding orang yang berani dan berintegritas daripada menyingkap siapa sebenarnya yang bermain di belakang layar?

Mari ingat sejarahnya: Pater Marsel adalah pelindung wartawan sejak Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat- PWMB lahir pada 2006 silam. Rumahnya pernah menjadi safety house, tempat perlindungan wartawan yang terancam preman atau intimidasi. Bersama wartawan, ia menanam pohon, melakukan gerakan sosial, dan menjaga agar pers lokal bisa bertahan dari ancaman fisik maupun tekanan. Semua itu dilakukan tanpa sorotan, tanpa mencari keuntungan pribadi.

Menuduhnya mafia tanah adalah pembelokan fakta. Bukan hanya merugikan reputasi seorang tokoh yang berbuat nyata, tetapi juga merusak persepsi publik tentang kebenaran. Dalam dunia jurnalistik, tuduhan tanpa bukti seharusnya dianggap serius—namun seharusnya juga dibongkar dengan kritis.

Pater Marsel Agot adalah contoh nyata: keberanian moral dan kepedulian sosial tidak selalu tampil di headline, tapi selalu terasa di aksi nyata. Tuduhan liar tidak akan menghapus fakta itu. Sebaliknya, tudingan itu seharusnya membuka mata kita: siapa yang benar-benar bermain di balik kepentingan tanah? Siapa yang mencari keuntungan dari fitnah?

Jika kita serius menegakkan keadilan dan kebenaran, sudah saatnya media dan publik tidak menelan mentah-mentah tudingan tanpa fakta, apalagi terhadap mereka yang sejarahnya jelas berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan. Mafia tanah? Jika ada, jangan-jangan itu bukan Pater Marsel tapi  oknum wartawan atau penyokongnya dibalik layar. *

 

Chelluz Pahun/Salah satu Pendiri PWMB