LABUAN BAJO – Ketua Umum Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Imam Widodo, menegaskan organisasi pramuwisata tersebut lahir dari kebutuhan negara untuk menata profesi pemandu wisata di Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam acara buka puasa bersama HPI di Labuan Bajo, Minggu (15/3/2026).

Menurut Imam, sebelum HPI terbentuk pada awal 1980-an, komunitas pemandu wisata di berbagai daerah berjalan sendiri-sendiri dengan nama organisasi yang berbeda. Di Bali, Yogyakarta, dan daerah lain terdapat perkumpulan pemandu wisata yang belum terintegrasi secara nasional.

“Pada tahun 1983 dirasakan perlu ada satu wadah yang menyatukan para pemandu wisata di Indonesia. Waktu itu masing-masing daerah memiliki organisasi sendiri. Kemudian disatukan menjadi satu organisasi nasional, yaitu Himpunan Pramuwisata Indonesia,” kata Imam.

Ia menjelaskan, sejak awal berdirinya, HPI sudah memiliki legitimasi resmi melalui surat keputusan pemerintah yang mengatur tentang kegiatan pemanduan wisata. Bahkan, menurutnya, identitas organisasi seperti logo burung cenderawasih juga ditetapkan secara resmi oleh pemerintah.

“HPI ini satu-satunya organisasi profesi yang mewadahi para pemandu wisata di Indonesia. Sejak awal sudah ada SK yang mengatur tentang pemanduan wisata, bahkan logo HPI yang bergambar burung cenderawasih dulu juga disahkan oleh Dirjen dan diedarkan oleh kementerian,” ujarnya.

Imam yang mulai aktif di HPI sejak akhir 1980-an mengaku perjalanan organisasinya dimulai dari anggota biasa hingga akhirnya dipercaya memimpin organisasi di tingkat nasional. Pengalaman panjang tersebut membuatnya memahami bahwa kekuatan HPI bertumpu pada soliditas organisasi di tingkat daerah.

“Organisasi ini ibarat pohon besar. Akarnya ada di DPC. Kalau akarnya kuat, batang dan cabangnya juga akan kuat. Karena anggota itu ada di daerah,” katanya.

Dalam kesempatan itu ia menekankan pentingnya membangun rasa kekeluargaan di dalam organisasi. Menurutnya, solidaritas dan persaudaraan antarpramuwisata merupakan fondasi utama agar HPI tetap kuat menghadapi dinamika industri pariwisata.

“Yang harus dibangun pertama adalah rasa kekeluargaan. Kalau organisasi memiliki rasa keluarga yang kuat, insyaallah organisasi itu juga akan kuat,” kata Imam.

Ia juga mengapresiasi peran para senior HPI yang selama ini menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman bagi generasi pemandu wisata yang lebih muda.

“Para senior ini aset besar bagi HPI. Ilmunya luar biasa. Mereka totalitas dalam bekerja sebagai pemandu wisata, dan itu yang harus kita tiru,” ujarnya.

Selain memperkuat organisasi internal, Imam menekankan bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama.

Ia menyebut kerja sama dengan asosiasi lain seperti Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang harus terus diperkuat.

“Pariwisata tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Harus kolaborasi. Kita ini berada di garis depan karena pramuwisata yang langsung berhadapan dengan wisatawan,” kata Imam.

Ia menambahkan, pemandu wisata memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pengalaman wisatawan. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus utama HPI ke depan.

“Kalau ada keluhan dari wisatawan, yang pertama kena biasanya pemandu wisata. Karena itu kita harus bekerja dengan hati dan menjaga standar pelayanan,” ujarnya.

Imam juga menegaskan bahwa HPI terus mendorong penguatan regulasi profesi pemandu wisata, termasuk memperjuangkan regulasi yang memberikan pengakuan lebih jelas terhadap profesi tersebut.

“Kita ingin profesi pramuwisata memiliki standar yang jelas dan diakui secara luas. Karena identitas dan profesionalisme itu sangat penting bagi pemandu wisata,” katanya.

Acara buka puasa bersama ini menjadi momentum silaturahmi bagi para pramuwisata sekaligus memperkuat solidaritas organisasi di tengah perkembangan industri pariwisata nasional.*